Editor
KOMPAS.com — Kehadiran ayah dalam kehidupan anak perlu diwujudkan melalui kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi.
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Lailan Arqam mengingatkan bahwa tanggung jawab ayah juga mencakup pendidikan iman, pembentukan akhlak, serta pendampingan emosional anak.
Lailan mengajak jemaah merenungkan siapa yang paling berperan membentuk karakter anak di tengah perkembangan teknologi digital.
“Apakah mereka terbentuk dari kasih sayang dan keteladanan kita di rumah? Atau bahkan dari algoritma layar HP yang tak punya jiwa,” tutur Lailan dikutip dari laman Muhammadiyah, Minggu (11/10/2026).
Baca juga: Doa untuk Ayah dan Ibu yang Sudah Meninggal, Jangan Lupa Dibaca
Menurut Lailan, kesibukan memenuhi kebutuhan keluarga perlu diimbangi dengan keterlibatan dalam pengasuhan. Anak membutuhkan kesempatan untuk berbicara, mendapat perhatian, dan melihat keteladanan dari orangtuanya.
Ia menyoroti keadaan ketika kebutuhan fisik anak terpenuhi, tetapi pendampingan emosional dan pendidikan keagamaan kurang mendapat perhatian.
“Rumah kita hari ini berubah menjadi sekadar tempat istirahat, bukan lagi madrasah pertama, tempat tumbuh jiwa anak disemai,” ungkapnya.
Lailan mengingatkan tentang minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan atau yang kerap disebut fatherless.
Dalam pembahasannya, persoalan tersebut berkaitan dengan kurangnya kehadiran ayah untuk mendampingi anak.
Menurutnya, kasih sayang, keteladanan, dan ruang dialog bersama ayah merupakan kebutuhan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh pemberian materi.
Ia mengajak para ayah menyediakan waktu untuk duduk bersama anak, mendengarkan mereka, dan memberikan bimbingan dengan penuh perhatian.
“Sadarlah, kapan kita terakhir duduk berdua dengan anak kita, menatap matanya dan menanamkan tauhid ke dalam lubuk jiwa yang perlu diisi dengan penuh kasih sayang,” ujarnya.
Baca juga: “Seperti Mimpi”, Jufriadi Pelatih SSB Berkaki Satu Pergi Haji Gantikan Ayah
Untuk menjelaskan pentingnya kedekatan dalam pengasuhan, Lailan mengangkat dialog Luqman dengan anaknya dalam Al-Quran.
Ia menyoroti ungkapan “Yā bunayya” atau “Wahai anakku” dalam Surah Luqman ayat 13, ketika Luqman menasihati anaknya agar tidak mempersekutukan Allah.
Menurut Lailan, sapaan penuh kasih tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keimanan perlu disampaikan melalui komunikasi yang hangat.
Kedekatan antara orangtua dan anak menjadi bagian penting agar nasihat dapat diterima dan membekas. Keteladanan dalam kehidupan sehari-hari juga diperlukan untuk menguatkan nilai yang diajarkan.
Lailan turut mengingatkan perlunya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak di dunia digital.
Menurutnya, ketika komunikasi di rumah tidak terbangun dengan baik, anak berpotensi mencari tempat untuk memenuhi kebutuhan perhatian dan kedekatan di luar keluarga, termasuk melalui dunia digital.
Ia menyoroti sejumlah persoalan yang perlu diwaspadai orangtua, seperti judi daring, perundungan, dan masalah kesehatan mental.
Karena itu, pengawasan perlu berjalan bersama pendampingan emosional dan pendidikan agama.
Orangtua perlu membangun hubungan yang memungkinkan anak menyampaikan pengalaman maupun persoalan yang dihadapinya.
Lailan juga mengingatkan hadis tentang setiap orang sebagai pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Dalam konteks keluarga, ia menekankan tanggung jawab ayah terhadap pendidikan iman dan akhlak anak.
Dalam khutbahnya, Lailan turut menyoroti dampak konflik rumah tangga dan perceraian terhadap kondisi emosional anak.
Ia mengingatkan orangtua untuk memastikan kebutuhan perlindungan emosional anak tetap mendapat perhatian.
Ia kemudian mengutip Surah An-Nisa ayat 9 tentang kekhawatiran meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah.
Menurut Lailan, ayat tersebut menjadi pengingat bagi orangtua untuk mempersiapkan anak agar kuat secara spiritual sekaligus mampu menjalani kehidupan.
Pendampingan itu dibangun melalui keterlibatan sehari-hari seperti menjaga komunikasi, memberikan teladan, dan menunjukkan kasih sayang dalam keluarga.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.