Penulis
KOMPAS.com – Kementerian Agama (Kemenag) akan memperkuat seleksi calon mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke Universitas Al Azhar, Mesir.
Seleksi tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan akademik, tetapi juga pembinaan akhlak dan penguasaan bahasa Arab.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, penguatan seleksi tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa yang diberangkatkan memiliki kesiapan keilmuan dan karakter yang baik sebelum menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di dunia itu.
“Kementerian Agama setiap tahun membuka pendaftaran bagi mereka yang ingin belajar di Al Azhar dengan tujuan memilih mahasiswa yang unggul secara keilmuan (mutamayyizina 'ilmiyyan), sekaligus memiliki akhlak yang mulia dan perilaku yang baik,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Senin (12.10/2026).
Baca juga: PBNU Perkuat Kerja Sama dengan Mesir, Ada 30 Beasiswa Penuh per Tahun
Komitmen tersebut disampaikan Nasaruddin setelah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) secara hybrid bersama Wakil Al Azhar Asy-Syarif, Asy-Syekh Ayman Abdul Ghani, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.
Nasaruddin menjelaskan, perbaikan tata kelola penerimaan mahasiswa ke Al Azhar dilakukan untuk merespons tingginya minat pelajar Indonesia yang ingin menimba ilmu di Mesir.
Menurut dia, tingginya minat tersebut perlu diimbangi dengan prosedur penerimaan yang lebih tertata, transparan, dan efektif. Dengan demikian, calon mahasiswa yang lolos seleksi dapat dipersiapkan secara optimal sebelum mengikuti perkuliahan reguler.
Ia menegaskan, kelulusan dalam tahap seleksi awal tidak otomatis membuat calon mahasiswa langsung diberangkatkan untuk mengikuti perkuliahan di Al Azhar.
Kemenag bersama Al Azhar mensyaratkan adanya tahap persiapan yang berfokus pada peningkatan kemampuan bahasa Arab.
“Setelah melewati tahapan seleksi, mahasiswa yang diterima akan bergabung dalam program peningkatan kompetensi bahasa Arab di Pusat Bahasa (Markaz Tathwir), sebagai persiapan untuk melanjutkan studi di tingkat universitas,” kata Nasaruddin.
Program tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan calon mahasiswa memiliki kemampuan bahasa yang memadai untuk mengikuti kegiatan akademik di Mesir.
Penguatan kompetensi bahasa Arab dinilai penting karena mahasiswa harus mampu memahami literatur, mengikuti perkuliahan, dan beradaptasi dengan metode pembelajaran yang diterapkan di Al Azhar.
Melalui program pembinaan di Markaz Tathwir, mahasiswa diharapkan memiliki bekal bahasa yang lebih kuat sebelum memasuki pendidikan tingkat universitas.
Selain kesiapan akademik, Kemenag juga menekankan pentingnya akhlak dan perilaku calon mahasiswa. Aspek tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca juga: Kemenag dan KBRI Mesir Bahas Pembenahan Tata Kelola Mahasiswa Indonesia ke Al-Azhar
Melalui kerja sama dengan Al Azhar, Kemenag berharap koordinasi penerimaan mahasiswa Indonesia di Mesir semakin baik, termasuk dalam memastikan prosedur keberangkatan berlangsung lancar dan aman.
Mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Al Azhar diharapkan dapat menyerap ilmu pengetahuan serta nilai-nilai moderasi beragama (wasathiyyah). Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka diharapkan mampu mengamalkan ilmu tersebut dan memberikan kontribusi bagi masyarakat di Tanah Air.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.