Editor
KAIRO, KOMPAS.com — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah merencanakan pendirian Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah di Mesir.
Rencana tersebut masih memerlukan pendalaman kajian, terutama terkait regulasi, pengelolaan, dan pembiayaan sekolah.
Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto meminta tim pengkaji segera menyusun proposal agar rencana itu dapat ditindaklanjuti tanpa menunggu Muktamar Muhammadiyah.
“Segera kajian tersebut harus ditindaklanjuti. Kami berharap proposal akan segera disusun dan dikirim kepada PP Muhammadiyah tanpa harus menunggu momentum Muktamar,” ujar Agung dikutip dari laman Muhammadiyah, Rabu (14/10/2026).
Rencana pendirian sekolah tersebut dibahas dalam pertemuan PP Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), dan Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Mesir dengan Duta Besar RI untuk Mesir Kuncoro Giri Waseso di KBRI Kairo.
Tim pengkaji sebelumnya telah mempelajari sekolah-sekolah di Kairo serta model sekolah Muhammadiyah di luar negeri, termasuk Muhammadiyah Australian College (MAC) dan Sekolah Bina Mulia (SBM) di Malaysia.
Berdasarkan kajian awal, model sekolah di Malaysia dinilai memiliki sejumlah kesamaan dengan kondisi Mesir, khususnya dalam aspek dukungan pemerintah.
Adapun model di Australia memiliki karakteristik berbeda karena memperoleh dukungan penuh dari pemerintah setempat.
Kuncoro menyambut baik rencana tersebut. Namun, ia menekankan perlunya kajian mendalam agar berbagai risiko dapat dipetakan sebelum sekolah didirikan.
“Maka salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah pembelajaran dari model sekolah Muhammadiyah di Malaysia, sehingga berbagai kemungkinan risiko, baik dari aspek regulasi, pengelolaan, maupun pembiayaan, dapat dipetakan sebelum sekolah didirikan,” ujar Kuncoro.
Selain memperluas akses pendidikan, pendirian SD Muhammadiyah diharapkan dapat memperkuat keberadaan TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) yang telah lebih dahulu berdiri di Kairo.
TK tersebut masih menghadapi kendala pembiayaan, terutama untuk memenuhi kebutuhan operasional. Kehadiran jenjang SD diharapkan dapat mendukung keberlanjutan layanan pendidikan Muhammadiyah di Mesir.
Sebagai tindak lanjut, tim pengkaji berencana membahas hasil kajian bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di Indonesia.
Seusai pertemuan di KBRI Kairo, rombongan PP Muhammadiyah mengunjungi TK ABA untuk bertemu para guru dan berinteraksi dengan anak-anak.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.