Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Talqis Nurdianto mengingatkan bahwa kesalehan seseorang perlu tercermin dalam perilakunya terhadap sesama.
Rajin beribadah dan mengikuti pengajian perlu berjalan seiring dengan kepedulian kepada tetangga serta penghormatan terhadap hak orang lain.
Menurut Talqis, pemahaman agama semestinya membuat seseorang lebih peka terhadap lingkungan, termasuk memastikan kehadirannya tidak mengganggu kenyamanan masyarakat.
“Kualitas tauhid seseorang tidak diukur seberapa panjang bacaan salatnya, tapi seberapa tetangganya merasakan aman terhadap kehadiran kita,” tuturnya dikutip dari kanal Muhammadiyah, Rabu (14/10/2026).
Baca juga: 4 Tanda Kebahagiaan dalam Islam Menurut Hadits, Ada Tetangga Baik hingga Pasangan Salih
Ia menjelaskan, tauhid menjadi fondasi yang menghubungkan pengabdian kepada Allah dengan tanggung jawab sosial. Karena itu, kesalehan ritual perlu diikuti kesalehan sosial melalui kejujuran, keadilan, gotong royong, dan sikap saling menolong.
Seseorang yang aktif menghadiri pengajian, mengikuti organisasi, dan fasih berbicara tentang Islam, kata Talqis, tetap perlu mengevaluasi perilakunya apabila mengabaikan hak orang lain.
Talqis mencontohkan sejumlah perilaku yang dapat mengganggu kehidupan bersama, seperti memarkir kendaraan hingga menghambat jalan, mendirikan bangunan di atas trotoar, membuat kebisingan, serta membuang sampah sembarangan.
Menurutnya, perilaku tersebut menunjukkan pentingnya kepekaan terhadap kepentingan orang lain. Saat memarkir kendaraan, misalnya, seseorang perlu memastikan akses pengguna jalan tetap terbuka.
Penggunaan fasilitas umum juga harus memperhatikan hak masyarakat, termasuk pejalan kaki dan penyandang disabilitas.
“Jangan sampai masjid menjadi ramai tapi tetangga menjauh,” pesannya.
Talqis mengingatkan bahwa tetangga kerap menjadi pihak pertama yang memberikan pertolongan dalam keadaan darurat. Ketika terjadi musibah atau ada anggota keluarga meninggal, hubungan sosial yang terawat menjadi sumber dukungan.
Karena itu, menjaga silaturahmi, mengikuti kegiatan bersama, dan membantu tetangga yang membutuhkan merupakan bagian dari tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca juga: Jangan Anggap Sepele, Menyakiti Tetangga Bisa Berujung Masuk Neraka
Dalam kajian tersebut, Talqis menyoroti lima persoalan yang dapat melemahkan kehidupan sosial, yakni individualisme, polarisasi, fitnah digital, krisis keluarga, dan krisis keteladanan.
Individualisme, menurutnya, membuat seseorang hanya mementingkan diri sendiri dan keluarga hingga mengabaikan gotong royong.
Padahal, kehidupan bersama membutuhkan partisipasi warga, terutama ketika ada tetangga yang mengalami musibah atau membutuhkan bantuan.
Sementara itu, polarisasi akibat perbedaan politik, organisasi, maupun mazhab dapat merusak persaudaraan apabila terus dibesar-besarkan.
Talqis mengingatkan agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk memutus hubungan atau menghalangi kerja sama dalam kebaikan.
Ia juga menyoroti fitnah digital yang dapat merusak nama baik seseorang melalui penyebaran informasi. Masyarakat perlu membiasakan tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan meneruskannya.
Dalam kehidupan keluarga, Talqis mengingatkan agar pendidikan anak tidak hanya berorientasi pada kecerdasan kognitif dan prestasi akademik. Pembentukan kejujuran, tanggung jawab, serta kecerdasan emosional dan spiritual juga perlu mendapat perhatian.
Hal itu berkaitan dengan persoalan kelima, yakni krisis keteladanan. Anak belajar dari tindakan orang tua yang dilihatnya setiap hari.
Nasihat tentang kejujuran, ibadah, dan tanggung jawab akan lebih bermakna apabila orang tua menjalankan nilai-nilai tersebut dalam keseharian.
Dengan demikian, pendidikan agama tidak berhenti pada nasihat, tetapi menjadi kebiasaan yang membentuk karakter anak.
Talqis menjelaskan bahwa tauhid juga menjadi dasar dalam menjalankan pekerjaan dan kepemimpinan. Jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan kesempatan untuk memperoleh pelayanan dari orang lain.
“Prinsipnya adalah bukan kesempatan untuk dilayani, melainkan kewajiban untuk melayani,” tegasnya.
Ia mengutip Surah An-Nisa ayat 58 tentang perintah Allah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Prinsip tersebut berlaku bagi siapa pun yang memegang tanggung jawab dalam keluarga, masyarakat, maupun organisasi.
Menurut Talqis, seorang pemimpin perlu memperhatikan kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, mendengarkan keluhan, dan melakukan perbaikan.
Ia juga mengajak jemaah menguji keikhlasan dengan bertanya kepada diri sendiri apakah masih bersedia melakukan kebaikan ketika tidak ada yang melihat, memuji, atau memberikan apresiasi.
Amal kebaikan, kata dia, semestinya berangkat dari pengabdian kepada Allah, bukan bergantung pada pengakuan manusia.
Talqis menegaskan bahwa keimanan perlu menggerakkan perbaikan hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan alam. Nilai tersebut harus terwujud dalam sikap amanah, jujur, adil, serta kesediaan membantu orang lain.
Dalam berorganisasi, ia mengingatkan bahwa Muhammadiyah merupakan sarana untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam.
Identitas organisasi tidak boleh mengalahkan nilai agama yang mendasari gerakannya.
“Jangan sampai kemudian fanatisme organisasi mengalahkan nilai agama,” pesannya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.