KOMPAS.com - Rabi'ah bin Ka'b Al-Aslami merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal melalui permintaannya untuk dapat menemani Rasulullah di surga. Keinginan itu disampaikan ketika Nabi mempersilakannya mengajukan permintaan setelah Rabi'ah melayani kebutuhan beliau.
Kisah tersebut tercatat dalam hadis Sahih Muslim. Jawaban Rasulullah kepada Rabi'ah juga memuat pesan tentang ibadah, yakni memperbanyak sujud sebagai upaya untuk meraih keinginannya. Riwayat ini memperlihatkan bagaimana harapan untuk dekat dengan Nabi di akhirat berkaitan dengan kesungguhan dalam beribadah.
Dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā, Ibnu Sa'd mencatat Rabi'ah bin Ka'b Al-Aslami sebagai sahabat yang telah memeluk Islam sejak awal dan dekat dengan Rasulullah. Ia juga disebut sebagai bagian dari Ahlus Suffah, yakni kelompok sahabat yang tinggal di serambi Masjid Nabawi di Madinah.
Baca juga: Sudah Bernazar tetapi Belum Ditunaikan, Apa yang Harus Dilakukan?
Ibnu Sa'd menjelaskan bahwa Rabi'ah memiliki keterbatasan ekonomi dan melayani kebutuhan Rasulullah. Kedekatannya dengan Nabi bukan hanya tampak dalam kisah permintaannya tentang surga, tetapi juga dalam kesehariannya mendampingi beliau.
Dalam riwayat yang dicatat Ibnu Sa'd, Rabi'ah menceritakan kebiasaannya bermalam di dekat pintu Rasulullah. Ia menyiapkan air untuk keperluan bersuci Nabi dan mendengar bacaan beliau ketika beribadah pada malam hari.
Keterangan tersebut memberikan gambaran tentang kedekatan Rabi'ah dengan Rasulullah. Ia berada di sekitar Nabi untuk memenuhi kebutuhan beliau, termasuk pada waktu malam. Riwayat ini menjadi bagian penting dari latar kisah ketika Rasulullah kemudian mempersilakannya menyampaikan permintaan.
Kisah permintaan Rabi'ah diriwayatkan dalam Sahih Muslim 489. Dalam hadis tersebut, Rabi'ah menuturkan bahwa ia menghabiskan malam bersama Rasulullah dan membawa air serta keperluan beliau. Nabi kemudian mempersilakannya meminta sesuatu.
Baca juga: Doa Sebelum Masuk Ruang Operasi agar Diberi Kelancaran dan Keselamatan
Rabi'ah tidak meminta kekayaan atau kedudukan. Ia justru meminta agar dapat menemani Rasulullah di surga. Berikut lafaz inti percakapan dalam hadis tersebut:
قُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ. قَالَ: أَوَغَيْرَ ذَلِكَ؟ قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ. قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ.
Qultu as'aluka murāfaqataka fil-jannah. Qāla: Awa ghayra dzālik? Qultu: Huwa dzāk. Qāla: Fa-a‘innī ‘alā nafsika bikatsratis-sujūd.
Rabi'ah berkata, “Aku meminta agar dapat menemanimu di surga.” Nabi bertanya, “Adakah permintaan yang lain?” Rabi'ah menjawab, “Itulah yang aku inginkan.” Nabi bersabda, “Maka bantulah aku untuk memenuhi keinginanmu itu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim, Sahih Muslim 489).
Jawaban Rasulullah menjadi bagian utama dari kisah Rabi'ah. Nabi tidak menjanjikan bahwa permintaan tersebut akan terwujud tanpa usaha. Sebaliknya, beliau mengarahkan Rabi'ah untuk memperbanyak sujud sebagai bentuk kesungguhan beribadah.
Sujud merupakan bagian penting dalam salat. Nasihat tersebut menunjukkan bahwa harapan memperoleh kedekatan dengan Rasulullah di surga perlu disertai ketaatan kepada Allah. Namun, hadis ini tidak menyebutkan jumlah sujud tertentu ataupun memberikan jaminan bahwa memperbanyak sujud secara otomatis memastikan seseorang memperoleh kedudukan yang sama dengan Nabi.
Pesan hadis itu terletak pada hubungan antara harapan dan ikhtiar. Rabi'ah menyampaikan keinginannya secara langsung, lalu mendapat arahan untuk menjalankan ibadah dengan lebih tekun.
Baca juga: Kemenag Buka Bantuan Masjid Rp50 Juta dan Musala Rp35 Juta, Ini Syaratnya
Ibnu Sa'd mencatat bahwa Rabi'ah terus mendampingi Rasulullah di Madinah dan ikut dalam sejumlah ekspedisi bersama beliau hingga Nabi wafat. Setelah itu, Rabi'ah meninggalkan Madinah dan menetap di wilayah Bi'r, kawasan yang berkaitan dengan kabilah Aslam.
Menurut catatan Ibnu Sa'd, Rabi'ah masih hidup hingga peristiwa al-Harrah pada Zulhijah 63 Hijriah, pada masa pemerintahan Yazid bin Mu'awiyah.
Kisah Rabi'ah bin Ka'b Al-Aslami dikenang karena permintaannya yang berorientasi pada kehidupan akhirat. Ia ingin berada dekat dengan Rasulullah di surga, bukan sekadar memperoleh keuntungan duniawi.
Baca juga: Pelatihan AI Gratis untuk Guru Pesantren, Pendaftaran hingga 2 November 2026
Riwayat Sahih Muslim tersebut juga menegaskan pentingnya kesungguhan beribadah. Nasihat memperbanyak sujud mengarahkan perhatian pada amal yang dapat dilakukan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kisah Rabi'ah pun tidak berhenti pada besarnya harapan, tetapi berlanjut pada tuntutan untuk berusaha melalui ketaatan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.