Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

As'ad bin Zurarah, Sahabat yang Menjadi Pelopor Islam di Madinah

Kompas.com, 6 Oktober 2026, 19:17 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, ajaran Islam telah lebih dahulu dikenal oleh sebagian penduduk Yatsrib. Salah satu sahabat yang berperan dalam fase awal tersebut adalah As'ad bin Zurarah, seorang Anshar dari Bani An-Najjar.

As'ad bin Zurarah termasuk orang yang datang kepada Rasulullah SAW pada masa awal dakwah di Mekkah. Setelah memeluk Islam, ia kembali ke Yatsrib dan ikut menjadi bagian dari proses awal penyebaran Islam di kota yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Islam tersebut.

As'ad bin Zurarah dan Awal Islam di Yatsrib

Dalam At-Thabaqat al-Kubra, Ibn Sa'd mencatat riwayat bahwa As'ad bin Zurarah bersama Dzukwan bin Abd Qais pergi ke Mekkah untuk suatu keperluan. Keduanya kemudian mendengar tentang Rasulullah SAW dan mendatanginya.

Baca juga: Bolehkah Menolak Ajakan Bertamu? Begini Adabnya dalam Islam

Dalam pertemuan tersebut, Rasulullah SAW menawarkan Islam dan membacakan Al-Qur'an kepada keduanya. Mereka kemudian menerima Islam dan kembali ke Madinah. Riwayat yang dicatat Ibn Sa'd menyebut keduanya sebagai orang-orang yang membawa Islam ke Madinah pada fase awal dakwah.

Riwayat lain dalam sumber yang sama menyebut As'ad termasuk enam orang dari Yatsrib yang bertemu Rasulullah SAW pada musim haji dan menerima dakwah Islam. Karena itu, perjalanan As'ad menjadi bagian penting dari hubungan awal antara Rasulullah SAW dan penduduk Yatsrib.

Membawa Dakwah Setelah Kembali ke Madinah

Setelah memeluk Islam, As'ad tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia kembali ke Yatsrib dan menyampaikan apa yang diterimanya dari Rasulullah SAW. Ibn Sa'd mencatat bahwa As'ad dan Abu Al-Haitsam bin At-Tayyihan termasuk orang yang berbicara tentang tauhid di Yatsrib.

Baca juga: Kiai Imjaz Ungkap Rahasia Kepemimpinan Kiai Miftach: Tegas Jaga Konstitusi NU

Peran tersebut penting karena dakwah di Madinah berkembang sebelum Rasulullah SAW datang langsung ke kota tersebut. As'ad menjadi salah satu penghubung antara dakwah Nabi di Mekkah dan masyarakat Yatsrib yang kemudian memberikan dukungan kepada Rasulullah SAW.

Menjadi Tuan Rumah Mus'ab bin Umair

Perkembangan Islam di Yatsrib semakin kuat setelah Rasulullah SAW mengutus Mus'ab bin Umair untuk mengajarkan Al-Qur'an dan berdakwah kepada penduduk setempat. Dalam riwayat biografi As'ad, ia termasuk orang yang menerima dan mendampingi Mus'ab dalam kegiatan dakwah.

Kehadiran Mus'ab memperluas pengajaran Islam di tengah masyarakat Yatsrib. As'ad sendiri merupakan salah satu tokoh yang telah lebih dahulu mengenal dakwah Nabi. Karena itu, keduanya berada dalam fase penting pembentukan komunitas Muslim di Madinah sebelum hijrah.

Baca juga: Pendidikan Anak dalam Islam Dimulai dari Keluarga, Ini Peran Penting Orang Tua

Hadir dalam Baiat Aqabah

As'ad juga tercatat sebagai peserta Baiat Aqabah. Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah menyebut As'ad sebagai salah satu tokoh yang hadir dalam peristiwa tersebut dan kemudian menjadi salah satu naqib.

Baiat Aqabah menjadi salah satu peristiwa penting sebelum hijrah karena penduduk Yatsrib memberikan komitmen kepada Rasulullah SAW. Dari rangkaian peristiwa inilah hubungan antara Rasulullah SAW dan masyarakat Yatsrib semakin kuat hingga akhirnya hijrah ke Madinah berlangsung.

Menjadi Naqib Bani An-Najjar

Dalam catatan biografi, As'ad dikenal dengan kunyah Abu Umamah dan berasal dari Bani An-Najjar. Ia kemudian menjadi salah satu naqib dari masyarakat Yatsrib. Posisi tersebut menunjukkan kepercayaan yang diberikan kepadanya di tengah kaumnya.

Baca juga: Menag: Pendidikan Antikorupsi Harus Dimulai dari Keteladanan Pemimpin

Peran sebagai naqib membuat As'ad bukan hanya dikenal sebagai orang yang menerima Islam lebih awal, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki tanggung jawab terhadap komunitasnya. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana dakwah Islam pada masa awal berkembang melalui individu-individu yang dipercaya masyarakat.

Wafat Sebelum Perang Badar

As'ad bin Zurarah tidak hidup hingga masa Perang Badar. Ibn Hajar mencatat bahwa ia wafat ketika Rasulullah SAW masih berada di Madinah dan sebelum Perang Badar berlangsung. Riwayat mengenai waktunya menyebut ia meninggal ketika pembangunan Masjid Nabawi masih berlangsung.

Ibn Hajar juga mencatat perbedaan riwayat mengenai siapa yang pertama kali dimakamkan di Baqi. Menurut riwayat yang dinisbatkan kepada kaum Anshar, As'ad merupakan orang pertama yang dimakamkan di sana. Sementara itu, kaum Muhajirin menyebut Utsman bin Mazh'un sebagai orang pertama yang dimakamkan di Baqi.

Baca juga: Dadang Kahmad: Masyarakat Kini Hadapi Kemiskinan Makna dan Kebodohan Digital

Kisah As'ad bin Zurarah menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Madinah telah memiliki akar sebelum Rasulullah SAW hijrah. Ia menjadi salah satu sahabat yang mengambil bagian dalam fase awal tersebut, dari menerima dakwah di Mekkah, membawanya kembali ke Yatsrib, hingga ikut dalam peristiwa Baiat Aqabah yang membuka jalan bagi terbentuknya komunitas Muslim di Madinah.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Bolehkah Uang Infak Masjid Dipakai untuk Kebutuhan di Luar Masjid?
Bolehkah Uang Infak Masjid Dipakai untuk Kebutuhan di Luar Masjid?
Aktual
Barang Pinjaman Rusak Saat Dipakai, Siapa yang Wajib Mengganti?
Barang Pinjaman Rusak Saat Dipakai, Siapa yang Wajib Mengganti?
Aktual
Uang Kembalian Berlebih, Apa yang Harus Dilakukan Menurut Islam?
Uang Kembalian Berlebih, Apa yang Harus Dilakukan Menurut Islam?
Aktual
Jangan Tunggu Pensiun untuk Beribadah, Kesibukan Bisa Menjadi Bekal Akhirat
Jangan Tunggu Pensiun untuk Beribadah, Kesibukan Bisa Menjadi Bekal Akhirat
Aktual
Kemenag dan Al-Azhar Siapkan Gelar Ganda, Dua Tahun di Indonesia dan Mesir
Kemenag dan Al-Azhar Siapkan Gelar Ganda, Dua Tahun di Indonesia dan Mesir
Aktual
Asyik Main HP hingga Tak Menjawab Adzan, Apakah Berdosa?
Asyik Main HP hingga Tak Menjawab Adzan, Apakah Berdosa?
Aktual
MUI Minta Pemerintah Lindungi WNI dan Jemaah Umrah Usai Serangan di Riyadh
MUI Minta Pemerintah Lindungi WNI dan Jemaah Umrah Usai Serangan di Riyadh
Aktual
Cerita Siswa Galang Donasi Rp163 Juta untuk Vaksinasi Gratis di Tangsel
Cerita Siswa Galang Donasi Rp163 Juta untuk Vaksinasi Gratis di Tangsel
Aktual
Julaibib, Sahabat yang Dihormati Rasulullah dan Sempat Ditolak Calon Mertua
Julaibib, Sahabat yang Dihormati Rasulullah dan Sempat Ditolak Calon Mertua
Aktual
Seleksi Mahasiswa ke Al Azhar Diperketat, Peserta Lolos Tak Langsung Kuliah
Seleksi Mahasiswa ke Al Azhar Diperketat, Peserta Lolos Tak Langsung Kuliah
Aktual
Situasi di Riyadh, Penerbangan Langsung Jemaah Umrah ke Jeddah dan Madinah Tetap Normal
Situasi di Riyadh, Penerbangan Langsung Jemaah Umrah ke Jeddah dan Madinah Tetap Normal
Aktual
Jumadil Awal 1448 H: Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Oktober 2026
Jumadil Awal 1448 H: Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Oktober 2026
Aktual
 Apa Itu Riya? Pengertian, Contoh, Bahaya, dan Cara Menghindarinya
Apa Itu Riya? Pengertian, Contoh, Bahaya, dan Cara Menghindarinya
Aktual
Kemenag Siapkan 25 Calon Anggota Majelis Masyayikh Periode 2026–2031
Kemenag Siapkan 25 Calon Anggota Majelis Masyayikh Periode 2026–2031
Aktual
Qari Indonesia Muhammad Fauji Ridwan Juara I Tilawah Internasional di Kuala Lumpur
Qari Indonesia Muhammad Fauji Ridwan Juara I Tilawah Internasional di Kuala Lumpur
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar