Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berkunjung ke Masjid Khandaq, Saksi Bisu Perjuangan Rasulullah dan Sahabat Saat Perang Khandaq

Kompas.com, 27 Juni 2026, 13:53 WIB
Pythag Kurniati,
Puspasari Setyaningrum

Tim Redaksi

MADINAH, KOMPAS.com- Di sisi barat laut 2,5 kilometer dari Masjid Nabawi tepatnya di barat Gunung Sela, berdiri sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Khandaq.

Masjid ini menjadi saksi bisu penggalian parit sekitar tahun 5 Hijriah untuk membentengi Madinah dalam Perang Khandaq.

Masjid Khandaq juga dikenal dengan Masjid Al Fath. Sekitar lokasi pendirian masjid juga merupakan tempat Nabi Muhammad melakukan shalat saat pertempuran Khandaq.

Baca juga: Napak Tilas Jannatul Baqi, Makam Bersahaja Para Sahabat Nabi di Sisi Timur Nabawi

Saat itu umat muslim membuat parit sebagai strategi perang atas usulan dari sahabat nabi Salman Al Farisi.

Pantauan Kompas.com, masjid ini memiliki arsitektur lawas dengan latar belakang bukit berbatu.

Begitu masuk ke area masjid, sejumlah pilar-pilar juga menjadi spot yang menarik bagi jemaah untuk mengabadikan foto.

Baca juga: Ketahui 12 Aturan Penting Jemaah Haji di Masjid Nabawi Madinah

Petugas Masjid Khandaq Umair Bin Seff mengungkapkan, masjid ini memiliki sejarah erat dengan Perang Khandaq.

"Masjid ini biasa dikenal dengan Masjidil Fattah atau Masjidil Khandaq, Ketika Perang Khandaq Nabi Muhammad SAW shalat di bawah bukit di sini," ungkap dia saat ditemui di Madjid Khandaq, Sabtu (27/6/2026).

Masjid ini juga menjadi bagian dari tujuh masjid dan masing-masing dikaitkan dengan sahabat seperti Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Ali Bin Abi Thalib, Salman Al-Farisi dan Saad bin Muadz.

Masjid Khandaq sendiri memiliki kapasitas 4.000 orang dan ramai dikunjungi oleh jemaah haji dan umrah yang ingin menyusuri jejak sejarah Nabi Muhammad.

"Di sini paling ramai hari Jumat karena selain mengunjungi masjid mereka juga shalat Jumat di sini dan masjid ini juga memberikan minuman pada Jemaah, Masya Allah," kata dia.

Sejarah Perang Khandaq

Dikutip dari buku The Great Story Muhammad yang disusun oleh Dr. Ahmad Hatta, dkk, Perang Khandaq berarti perang parit. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Ahzab yang berarti "sekutu".

Peristiwa bersejarah ini terjadi pada bulan Syawal hingga Dzulqa'dah tahun ke-5 Hijriah. Peperangan ini melibatkan umat Islam di Madinah yang berjumlah sekitar 3.000 prajurit, berhadapan dengan pasukan gabungan (sekutu) musuh yang dipimpin oleh Abu Sufyan.

Pasukan sekutu ini berkekuatan sangat besar, yakni mencapai 10.000 personel yang terdiri dari kaum kafir Quraisy, kabilah-kabilah Arab seperti Ghathafan, serta tokoh-tokoh Yahudi Bani Nadhîr.

Konflik bermula satu setengah tahun setelah Perang Bani Nadhîr. Orang-orang Yahudi Bani Nadhîr yang terusir dan menetap di Khaibar merasa geram melihat umat Islam hidup damai dan bahagia di Madinah.

Masjid Khandaq di Madinah.DOK.MCH 2026/Pythag Kurniati Masjid Khandaq di Madinah.

Untuk menghancurkan kedamaian tersebut, para pemuka Yahudi merancang sebuah makar. Mereka berkeliling menghasut dan mengajak kaum Quraisy di Makkah serta kabilah-kabilah Arab yang anti-Islam untuk bersatu menyerang kaum Muslimin.

Ketika mendengar kabar kedatangan pasukan sekutu, Rasulullah saw segera bermusyawarah dan menyetujui usulan brilian dari Salman al-Farisi, yaitu menggali parit di bagian utara kota Madinah sebagai benteng pertahanan. Pembuatan parit ini menguras tenaga fisik kaum Muslimin yang bekerja keras di bawah sengatan matahari dan rasa lapar yang hebat.

Ketika pasukan musuh tiba, mereka terkejut melihat adanya parit besar yang menghalangi jalan masuk, sebuah taktik yang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab sebelumnya. Hal ini memaksa 10.000 pasukan sekutu untuk mengepung Madinah selama 24 hari.

Di tengah kepungan, terjadi duel saat tokoh kaum musyrik, 'Amr bin Abdu Wudd, melompati parit. 'Amr menantang duel dan akhirnya tewas di tangan 'Ali bin Abi Thalib yang saat itu berusia 26 tahun, sehingga membuat moral pasukan sekutu anjlok.

Namun, sempat terjadi pengkhianatan dari dalam. Yahudi Bani Quraizhah yang berada di selatan Madinah membatalkan perjanjian damai setelah dihasut oleh Huyyai bin Akhthab, utusan Bani Nadhîr.

Pengkhianatan ini sangat membahayakan karena mengancam nyawa kaum wanita dan anak-anak Muslim yang sedang diungsikan, sementara pasukan utama berfokus menjaga parit di wilayah utara.

Pada akhirnya kaum Muslimin keluar sebagai pemenang dalam peperangan ini berkat pertolongan Allah melalui dua hal yang menghancurkan pasukan sekutu.

Pertama adalah strategi pecah belah oleh Nu'aim bin Mas'ud, seorang dari kabilah Ghathafan yang baru masuk Islam secara diam-diam. Dia menyebarkan informasi yang membuat kaum Quraisy, Ghathafan, dan Bani Quraizhah terpecah belah.

Kedua adanya mukjizat angin kencang yang dikirimkan Allah atas doa Rasulullah saw. Angin bertiup sangat kencang di malam yang sangat dingin dan gelap hingga memporak-porandakan perkemahan, mematikan api, dan menerbangkan periuk pasukan musyrik.

Perang Khandaq itu juga mengingatkan pada perjuangan kaum muslim yang menggali parit dalam kondisi menahan lapar. Hal itu mengingatkan bahwa setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan dan dengan bantuan Allah akhirnya umat muslim dapat menghadapi segala rintangan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Data Calon Haji Dipadankan dengan Dukcapil, Apakah Nomor Antrean Berubah?
Data Calon Haji Dipadankan dengan Dukcapil, Apakah Nomor Antrean Berubah?
Aktual
Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Cinta kepada Sesama, Cermin Kesempurnaan Iman
Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Cinta kepada Sesama, Cermin Kesempurnaan Iman
Aktual
Abdullah bin Rawahah, Penyair sekaligus Pembela Nabi yang Gugur di Mu'tah
Abdullah bin Rawahah, Penyair sekaligus Pembela Nabi yang Gugur di Mu'tah
Aktual
Bolehkah Berdoa dengan Bahasa Indonesia Saat Sujud? Ini Penjelasan Ulama
Bolehkah Berdoa dengan Bahasa Indonesia Saat Sujud? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Shalat Qabliyah Jumat: Hukum, Dalil, dan Perbedaan Pendapat Ulama
Shalat Qabliyah Jumat: Hukum, Dalil, dan Perbedaan Pendapat Ulama
Aktual
Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Memutus Rantai Dendam dengan Memaafkan
Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Memutus Rantai Dendam dengan Memaafkan
Aktual
Jangan Langsung Pulang, Amalkan Dulu Shalat Ba'diyah Usai Shalat Jumat
Jangan Langsung Pulang, Amalkan Dulu Shalat Ba'diyah Usai Shalat Jumat
Aktual
Doa Pembuka Rezeki, Iktiar Jalur Langit Agar Terhindar dari Kesulitan Hidup
Doa Pembuka Rezeki, Iktiar Jalur Langit Agar Terhindar dari Kesulitan Hidup
Doa dan Niat
5 Doa Orang Tua saat Menghadapi Kenakalan Anak, Ikhtiar Lewat Jalur Langit
5 Doa Orang Tua saat Menghadapi Kenakalan Anak, Ikhtiar Lewat Jalur Langit
Doa dan Niat
Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Mengambil Ibrah dari Cuaca Panas
Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Mengambil Ibrah dari Cuaca Panas
Aktual
Khutbah Jumat Singkat: Jangan Remehkan Bahaya Ghibah dan Fitnah
Khutbah Jumat Singkat: Jangan Remehkan Bahaya Ghibah dan Fitnah
Aktual
Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Alasan Semangat Ibadah Kita Sering Naik Turun dan Solusinya
Khutbah Jumat 2 Oktober 2026: Alasan Semangat Ibadah Kita Sering Naik Turun dan Solusinya
Aktual
Kemenhaj Padankan Data Jemaah Haji, Nomor Antrean Tak Berubah
Kemenhaj Padankan Data Jemaah Haji, Nomor Antrean Tak Berubah
Aktual
Kenapa Rezeki Tak Selalu Berbentuk Uang? Ini Penjelasan dalam Islam
Kenapa Rezeki Tak Selalu Berbentuk Uang? Ini Penjelasan dalam Islam
Aktual
Rekam Jejak Suyudi Ario Seto, GP Ansor Dukung Penuh Kapolri Baru
Rekam Jejak Suyudi Ario Seto, GP Ansor Dukung Penuh Kapolri Baru
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar