Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Napak Tilas Jannatul Baqi, Makam Bersahaja Para Sahabat Nabi di Sisi Timur Nabawi

Kompas.com, 27 Juni 2026, 13:30 WIB
Pythag Kurniati,
Puspasari Setyaningrum

Tim Redaksi

MADINAH, KOMPAS.com - Ketika melangkahkan kaki ke luar dari gerbang timur Masjid Nabawi, jemaah akan dihadapkan pada sebuah area luas. Tempat ini adalah Pemakaman Baqi atau yang disebut Jannatul Baqi.

Bagi peziarah yang sedang singgah di Kota Madinah, jangan melewatkan berkunjung ke kompleks pemakaman tertua dan paling bersejarah ini. Pemakaman ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sekitar 10 ribu sahabat Nabi.

Di sinilah terbaring jasad Khalifah Utsman bin Affan, para syuhada, hingga keluarga terdekat Nabi Muhammad SAW, termasuk putri beliau Fatimah Azzahra dan istri-istri sang Rasul.

Baca juga: Maqam Ibrahim Bukan Makam, Ini Sejarah Batu Jejak Nabi Ibrahim

Berbeda jauh dengan pemakaman modern, pusara di Baqi menampilkan pemandangan yang sangat bersahaja.

Tidak ada nisan megah apalagi pahatan nama yang mencolok, hanya ada gundukan tanah yang ditandai dengan sebongkah batu.

Baca juga: Sensasi Berkuda di Gurun Madinah: Wisata Spiritual Jemaah Indonesia

Aturan Ketat Diterapkan untuk Peziarah

Bagi yang ingin berkunjung, akses utamanya sangat mudah ditemukan karena berada tepat di dekat Gate 365 Masjid Nabawi. Kendati demikian, otoritas setempat menerapkan regulasi yang sangat disiplin.

Area dalam pemakaman ini hanya boleh dimasuki oleh peziarah laki-laki, sementara jemaah wanita tidak diperkenankan untuk masuk.

Waktu kunjungannya pun dibatasi. Gerbang Baqi tidak terbuka sepanjang hari, melainkan hanya beroperasi pada dua waktu khusus, yaitu sesaat setelah selesainya ibadah salat Subuh dan salat Asar.

Peziarah dilarang membawa atau membentangkan spanduk tulisan apa pun. Selain itu, dilarang berlama-lama berdoa di satu tempat karena mengganggu kelancaran.

Antusiasme jemaah yang datang tampak sangat tinggi. Antrean panjang tak terhindarkan, membuat petugas keamanan (askar) harus bergerak cepat memecah kerumunan.

Saat pengunjung melewati pintu masuk, mereka langsung dipandu ke dalam beberapa kelompok secara sigap. Ada yang diarahkan untuk berbelok ke lajur kanan, ada pula yang ke kiri.

Proses napak tilas di dalam area makam berlangsung cukup singkat, yakni sekitar 30 menit. Selama waktu tersebut, peziarah wajib terus berjalan dan dilarang berhenti atau berdiam diri di satu titik.

Peziarah Wajib Menjaga Adab di Pemakaman Baqi

Selain mematuhi aturan petugas, ada adab-adab spiritual yang harus dijaga selama berada di Baqi. Ustaz Agususanto, selaku petugas pembimbing ibadah haji Indonesia 2026, mengingatkan peziarah untuk meluruskan niat sejak awal.

Dia mengingatkan bahwa ziarah dilakukan bukan untuk melakukan kesyirikan. "Kita mengambil ibarah atau kebaikan bahwa mengingat mati adalah sesuatu yang disunahkan dianjurkan oleh Rasulullah SAW," ujar Ustaz Agus.

Di dalam area pemakaman, peziarah harus bisa menahan diri, dilarang mengangkat suara tinggi, berteriak, hingga asyik mengambil foto maupun video. "Karena termasuk yang dilarang petugas kemaanan di Baqi," katanya.

Ustaz Agus pun memberikan anjuran praktis tentang bagaimana sebaiknya jemaah memaksimalkan ziarah mereka di tengah keterbatasan waktu dan ketatnya aturan.

"Jadi kita saat masuk berjalan pelan-pelan, sambil terus membaca shalawat kepada Rasulullah, dan membacakan allahumaghfirlahu warkhamhu wa'afiihi wa'fuanhu sambil terus berjalan mengitari Baqi dan keluar dengan tertib, tidak perlu berdesak-desakan, dan tidak ada foto grup," katanya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar