Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Maqam Ibrahim Bukan Makam, Ini Sejarah Batu Jejak Nabi Ibrahim

Kompas.com, 13 Mei 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah megahnya Ka'bah dan padatnya jamaah yang melakukan tawaf di Masjidil Haram, terdapat sebuah bangunan kecil berbentuk kaca keemasan yang sering menjadi perhatian para jamaah haji dan umrah. Bangunan itu dikenal sebagai Maqam Ibrahim.

Banyak orang Indonesia masih mengira kata “maqam” berarti makam atau kuburan. Padahal, Maqam Ibrahim bukanlah tempat dimakamkannya Nabi Ibrahim AS.

Tempat ini justru menyimpan jejak sejarah penting dalam pembangunan Ka'bah dan menjadi salah satu simbol spiritual paling bersejarah di Tanah Suci.

Baca juga: Kiswah Penutup Kabah: Sejarah, Makna, Proses Penggantian dan Pembuatannya

Keberadaan Maqam Ibrahim bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga memiliki kedudukan khusus dalam ibadah haji dan umrah.

Di lokasi inilah umat Islam dianjurkan melaksanakan shalat sunnah setelah tawaf mengelilingi Ka'bah.

Lalu, bagaimana sebenarnya sejarah Maqam Ibrahim? Mengapa tempat ini begitu dimuliakan dalam Islam?

Apa Itu Maqam Ibrahim?

Dalam bahasa Arab, kata “maqam” berarti tempat berdiri. Oleh karena itu, Maqam Ibrahim dimaknai sebagai tempat berdirinya Nabi Ibrahim AS ketika membangun Ka'bah bersama putranya, Nabi Ismail AS.

Dikutip dari buku Tapak Sejarah Seputar Mekah-Madinah karya Muslim H. Nasution, Maqam Ibrahim merupakan batu yang digunakan Nabi Ibrahim AS sebagai pijakan saat meninggikan bangunan Ka'bah.

Konon, batu tersebut dapat naik dan turun mengikuti kebutuhan pembangunan. Saat Nabi Ibrahim menyusun batu-batu Ka'bah pada bagian atas, batu itu meninggi. Ketika pekerjaan selesai, batu tersebut kembali turun.

Hal yang paling menarik dari Maqam Ibrahim adalah adanya bekas telapak kaki Nabi Ibrahim AS yang masih terlihat hingga kini.

Jejak kaki itu dipercaya menjadi salah satu tanda kebesaran Allah sekaligus peninggalan sejarah penting dalam perjalanan pembangunan Ka'bah.

Baca juga: Doa Mustajab di Makam Ibrahim Saat Tawaf, Ini Bacaan Lengkapnya

Bekas Telapak Kaki Nabi Ibrahim AS

Dalam sejumlah literatur sejarah Islam disebutkan bahwa bekas telapak kaki Nabi Ibrahim AS memiliki ukuran yang cukup jelas.

Dikutip dari buku 1001 Fakta Dahsyat Mukjizat Kota Makkah karya Asima Nur Salsabila, kedalaman bekas telapak kaki tersebut sekitar 10 sentimeter dengan panjang sekitar 27 sentimeter.

Bekas itu masih dapat dilihat oleh jamaah hingga sekarang, meski telah dilindungi dengan lapisan kaca dan pelindung logam khusus.

Saat ini Maqam Ibrahim berada di dalam bangunan kristal berbentuk segi enam dengan ornamen emas yang terletak tidak jauh dari Ka'bah.

Posisinya berada di area yang biasa dilalui jamaah setelah menyelesaikan tawaf.

Pemerintah Arab Saudi sengaja memberikan pelindung khusus untuk menjaga batu bersejarah tersebut dari kerusakan sekaligus mencegah praktik pengkultusan yang berlebihan.

Sejarah Maqam Ibrahim dalam Al Quran

Keistimewaan Maqam Ibrahim bahkan disebut langsung dalam Al Quran, tepatnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 125.

Allah SWT berfirman:

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ

Artinya: “Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Maqam Ibrahim bukan sekadar situs sejarah, tetapi juga memiliki fungsi ibadah dalam syariat Islam.

Karena itu, setelah menyelesaikan tawaf, jamaah dianjurkan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim apabila memungkinkan.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW setelah menyelesaikan tawaf mendatangi Maqam Ibrahim lalu membaca ayat tersebut sebelum melaksanakan shalat dua rakaat.

Tradisi itulah yang terus dijaga umat Islam hingga sekarang dalam rangkaian ibadah haji dan umrah.

Baca juga: Doa Nabi Ibrahim, Dibaca Jika Ingin Bisa Segera Berangkat Haji dan Umrah

Mengapa Maqam Ibrahim Sangat Istimewa?

Keistimewaan Maqam Ibrahim bukan hanya karena adanya jejak kaki Nabi Ibrahim AS, tetapi juga karena tempat ini berkaitan langsung dengan sejarah tauhid.

Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai bapak para nabi dan sosok yang membangun Ka'bah atas perintah Allah SWT.

Dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim AS menjadi simbol penyebaran ajaran tauhid di Jazirah Arab.

Karena itu, setiap bagian yang berkaitan dengan pembangunan Ka'bah memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi bagi umat Islam.

Maqam Ibrahim menjadi pengingat tentang perjuangan Nabi Ibrahim AS dalam menegakkan keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Perubahan Bentuk Maqam Ibrahim dari Masa ke Masa

Dalam catatan sejarah Islam, posisi Maqam Ibrahim sempat mengalami beberapa perubahan.
Pada masa awal Islam, Maqam Ibrahim berada sangat dekat dengan dinding Ka'bah.

Namun pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, posisinya dipindahkan sedikit menjauh untuk memberikan ruang lebih luas bagi jamaah yang melakukan tawaf.

Kebijakan tersebut dilakukan demi menjaga kelancaran arus ibadah di Masjidil Haram yang terus dipadati umat Islam dari berbagai wilayah.

Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya jumlah jamaah, pemerintah Saudi kemudian membangun pelindung kaca khusus agar Maqam Ibrahim tetap aman dan mudah dilihat.

Kini, lokasi tersebut menjadi salah satu titik paling ramai di sekitar Ka'bah, terutama setelah waktu tawaf.

Baca juga: Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7 dan Kandungan Pesannya

Tempat Mustajab untuk Berdoa

Selain menjadi lokasi shalat sunnah, banyak ulama menyebut area sekitar Maqam Ibrahim sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa.

Oleh karena itu, banyak jamaah memanfaatkan momen setelah tawaf untuk memanjatkan doa di dekat Maqam Ibrahim.

Meski demikian, para ulama juga mengingatkan agar jamaah tidak berlebihan dalam mengusap atau berdesakan demi mendekati Maqam Ibrahim karena hal tersebut dapat mengganggu jamaah lain.

Dalam Islam, penghormatan terhadap tempat suci tetap harus dibarengi adab, ketertiban, dan menjaga kenyamanan sesama Muslim.

Simbol Sejarah yang Tetap Hidup

Di tengah modernisasi besar-besaran kawasan Masjidil Haram, Maqam Ibrahim tetap dipertahankan sebagai salah satu simbol sejarah Islam paling penting.

Bangunan kecil di depan Ka'bah itu bukan sekadar artefak kuno, melainkan saksi perjalanan panjang dakwah tauhid sejak zaman Nabi Ibrahim AS.

Bagi jutaan jamaah yang datang ke Tanah Suci setiap tahun, melihat langsung Maqam Ibrahim sering menjadi pengalaman spiritual yang membekas.

Di balik keramaian tawaf dan kemegahan Masjidil Haram, tempat itu mengingatkan umat Islam bahwa sejarah Islam dibangun melalui pengorbanan, keimanan, dan ketaatan para nabi kepada Allah SWT.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar