Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Awas Kaki Melepuh di Suhu Panas! Ini Pesan Dokter Buat Jemaah Haji

Kompas.com, 13 Mei 2026, 10:30 WIB
Pythag Kurniati,
Khairina

Tim Redaksi

JEDDAH, KOMPAS.com- Cuaca ekstrem dan udara kering di Arab Saudi menjadi tantangan bagi jemaah haji. Salah satu ancaman kesehatan yang sering mengganggu kelancaran ibadah adalah kaki pecah-pecah hingga melepuh akibat paparan suhu panas.

Menanggapi risiko tersebut, dr. Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, dokter dari Sektor 1 Daerah Kerja (Daker) Bandara, memberikan panduan penting bagi para jemaah. Menurutnya, masalah tersebut terjadi karena panas bisa membuat kelembapan kulit hilang.

"Kondisi udara yang sangat kering dan panas di Saudi tidak hanya membuat kulit haus, tapi juga merusak elastisitas telapak kaki. Kaki yang pecah-pecah sangat rentan mengalami luka bakar atau melepuh saat terpapar suhu permukaan aspal/lantai yang bisa mencapai 60-70°C," jelas dr Fathi.

Baca juga: PPIH Arab Saudi Siagakan Tim Kesehatan di Bandara Madinah, Jamaah Haji Sakit Langsung Diperiksa

Bahaya yang mengintai tidak bisa disepelekan. Luka bakar derajat dua (melepuh) dapat terjadi hanya dalam hitungan detik karena kondisi kulit yang kering membuatnya jauh lebih mudah rusak.

Celah pada kulit yang pecah-pecah juga menjadi pintu masuk kuman yang memicu infeksi. Pada akhirnya, kondisi ini akan menimbulkan nyeri hebat yang mengganggu mobilitas dan kekhusyukan jemaah dalam beribadah.

Langkah Pencegahan untuk Jemaah dan Petugas

Untuk mencegah hal tersebut, ada beberapa langkah mitigasi yang sangat direkomendasikan untuk diterapkan selama berada di Tanah Suci:

1. Gunakan alas kaki yang nyaman

Pilih sandal atau sepatu yang sudah biasa dipakai (bukan baru) dengan ukuran yang pas. Alas kaki yang terlalu sempit justru akan mempercepat munculnya luka lecet.

2. Oleskan pelembap rutin

Gunakan pelembap di seluruh telapak kaki sebelum memakai kaos kaki dan sebelum tidur. Kulit yang lembap terbukti jauh lebih elastis dan tidak mudah robek atau melepuh akibat gesekan saat berjalan jauh.

3. Gunakan kaus kaki

Kaus kaki berfungsi memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi kulit telapak kaki dari suhu permukaan yang tinggi, sekaligus menjaga kelembapan kulit agar tidak cepat pecah-pecah.

Baca juga: Doa Nabi Ayub AS Ketika Sakit, Lengkap Arab, Arti, dan Maknanya

4. Waspadai waktu dan tempat rawan

Risiko melepuh tertinggi terjadi antara pukul 10.00-16.00. Area paling rawan meliputi pelataran masjid yang terpapar matahari, area terminal bandara, serta jalur aspal menuju Jamarat di Mina.

5. Bawa kantong sandal

Selalu bawa tas kain atau kantong plastik untuk menyimpan sandal saat masuk ke dalam masjid. Hindari menitipkan sandal atau meletakkannya di rak karena kemungkinan besar sulit ditemukan kembali di tengah padatnya jemaah.

Kehilangan alas kaki di area masjid kerap menjadi pemicu utama cedera kaki pada jemaah. Terkait insiden yang sering terjadi ini, dr. Fathi menegaskan larangan keras bagi jemaah untuk berjalan tanpa alas kaki.

"Jika keluar masjid dan sandal hilang, jangan nekat berjalan di atas lantai yang panas. Segera hubungi petugas atau rekan untuk bantuan," tegasnya.

Baca juga: Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Didoakan 70 Ribu Malaikat Hingga Dibangunkan Rumah di Surga

Bagaimana Jika Terlanjur Melepuh?

Selain itu, apabila kulit kaki sudah terlanjur melepuh, jemaah diimbau untuk tidak mengambil langkah sendiri. Segera lapor ke petugas kesehatan terdekat untuk mendapat tindakan yang tepat.

“Jika kulit kaki sudah terlanjur melepuh, jangan pernah dipecahkan sendiri karena akan memicu infeksi terbuka. Segera lapor ke petugas kesehatan terdekat,” ujar dia.

Fathi juga menegaskan betapa vitalnya kesehatan kaki dalam menunjang seluruh rangkaian rukun Islam kelima ini. Untuk itu, jemaah wajib menjaga kondisi kakinya selama di Tanah Suci.

"Kaki adalah tumpuan utama dalam ibadah haji. Melindungi kaki berarti menjaga kelancaran rangkaian ibadah haji. Mencegah kaki dari pecah-pecah dan melepuh jauh lebih mudah daripada mengobatinya," pungkas dr Fathi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar