MADINAH, KOMPAS.com- Di sisi barat laut 2,5 kilometer dari Masjid Nabawi tepatnya di barat Gunung Sela, berdiri sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Khandaq.
Masjid ini menjadi saksi bisu penggalian parit sekitar tahun 5 Hijriah untuk membentengi Madinah dalam Perang Khandaq.
Masjid Khandaq juga dikenal dengan Masjid Al Fath. Sekitar lokasi pendirian masjid juga merupakan tempat Nabi Muhammad melakukan shalat saat pertempuran Khandaq.
Baca juga: Napak Tilas Jannatul Baqi, Makam Bersahaja Para Sahabat Nabi di Sisi Timur Nabawi
Saat itu umat muslim membuat parit sebagai strategi perang atas usulan dari sahabat nabi Salman Al Farisi.
Pantauan Kompas.com, masjid ini memiliki arsitektur lawas dengan latar belakang bukit berbatu.
Begitu masuk ke area masjid, sejumlah pilar-pilar juga menjadi spot yang menarik bagi jemaah untuk mengabadikan foto.
Baca juga: Ketahui 12 Aturan Penting Jemaah Haji di Masjid Nabawi Madinah
Petugas Masjid Khandaq Umair Bin Seff mengungkapkan, masjid ini memiliki sejarah erat dengan Perang Khandaq.
"Masjid ini biasa dikenal dengan Masjidil Fattah atau Masjidil Khandaq, Ketika Perang Khandaq Nabi Muhammad SAW shalat di bawah bukit di sini," ungkap dia saat ditemui di Madjid Khandaq, Sabtu (27/6/2026).
Masjid ini juga menjadi bagian dari tujuh masjid dan masing-masing dikaitkan dengan sahabat seperti Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Ali Bin Abi Thalib, Salman Al-Farisi dan Saad bin Muadz.
Masjid Khandaq sendiri memiliki kapasitas 4.000 orang dan ramai dikunjungi oleh jemaah haji dan umrah yang ingin menyusuri jejak sejarah Nabi Muhammad.
"Di sini paling ramai hari Jumat karena selain mengunjungi masjid mereka juga shalat Jumat di sini dan masjid ini juga memberikan minuman pada Jemaah, Masya Allah," kata dia.
Dikutip dari buku The Great Story Muhammad yang disusun oleh Dr. Ahmad Hatta, dkk, Perang Khandaq berarti perang parit. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Ahzab yang berarti "sekutu".
Peristiwa bersejarah ini terjadi pada bulan Syawal hingga Dzulqa'dah tahun ke-5 Hijriah. Peperangan ini melibatkan umat Islam di Madinah yang berjumlah sekitar 3.000 prajurit, berhadapan dengan pasukan gabungan (sekutu) musuh yang dipimpin oleh Abu Sufyan.
Pasukan sekutu ini berkekuatan sangat besar, yakni mencapai 10.000 personel yang terdiri dari kaum kafir Quraisy, kabilah-kabilah Arab seperti Ghathafan, serta tokoh-tokoh Yahudi Bani Nadhîr.
Konflik bermula satu setengah tahun setelah Perang Bani Nadhîr. Orang-orang Yahudi Bani Nadhîr yang terusir dan menetap di Khaibar merasa geram melihat umat Islam hidup damai dan bahagia di Madinah.
Masjid Khandaq di Madinah.Untuk menghancurkan kedamaian tersebut, para pemuka Yahudi merancang sebuah makar. Mereka berkeliling menghasut dan mengajak kaum Quraisy di Makkah serta kabilah-kabilah Arab yang anti-Islam untuk bersatu menyerang kaum Muslimin.
Ketika mendengar kabar kedatangan pasukan sekutu, Rasulullah saw segera bermusyawarah dan menyetujui usulan brilian dari Salman al-Farisi, yaitu menggali parit di bagian utara kota Madinah sebagai benteng pertahanan. Pembuatan parit ini menguras tenaga fisik kaum Muslimin yang bekerja keras di bawah sengatan matahari dan rasa lapar yang hebat.
Ketika pasukan musuh tiba, mereka terkejut melihat adanya parit besar yang menghalangi jalan masuk, sebuah taktik yang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab sebelumnya. Hal ini memaksa 10.000 pasukan sekutu untuk mengepung Madinah selama 24 hari.
Di tengah kepungan, terjadi duel saat tokoh kaum musyrik, 'Amr bin Abdu Wudd, melompati parit. 'Amr menantang duel dan akhirnya tewas di tangan 'Ali bin Abi Thalib yang saat itu berusia 26 tahun, sehingga membuat moral pasukan sekutu anjlok.
Namun, sempat terjadi pengkhianatan dari dalam. Yahudi Bani Quraizhah yang berada di selatan Madinah membatalkan perjanjian damai setelah dihasut oleh Huyyai bin Akhthab, utusan Bani Nadhîr.
Pengkhianatan ini sangat membahayakan karena mengancam nyawa kaum wanita dan anak-anak Muslim yang sedang diungsikan, sementara pasukan utama berfokus menjaga parit di wilayah utara.
Pada akhirnya kaum Muslimin keluar sebagai pemenang dalam peperangan ini berkat pertolongan Allah melalui dua hal yang menghancurkan pasukan sekutu.
Pertama adalah strategi pecah belah oleh Nu'aim bin Mas'ud, seorang dari kabilah Ghathafan yang baru masuk Islam secara diam-diam. Dia menyebarkan informasi yang membuat kaum Quraisy, Ghathafan, dan Bani Quraizhah terpecah belah.
Kedua adanya mukjizat angin kencang yang dikirimkan Allah atas doa Rasulullah saw. Angin bertiup sangat kencang di malam yang sangat dingin dan gelap hingga memporak-porandakan perkemahan, mematikan api, dan menerbangkan periuk pasukan musyrik.
Perang Khandaq itu juga mengingatkan pada perjuangan kaum muslim yang menggali parit dalam kondisi menahan lapar. Hal itu mengingatkan bahwa setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan dan dengan bantuan Allah akhirnya umat muslim dapat menghadapi segala rintangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang