Editor
KOMPAS.com - Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dilakukan sebagian masyarakat Muslim Indonesia pada Rabu terakhir bulan Safar.
Pada 2026, Rebo Wekasan diperingati pada Rabu, 12 Agustus, sebelum memasuki bulan Maulid atau Rabiul Awal.
Tradisi ini umumnya diisi dengan doa, amalan, dan kegiatan keagamaan sebagai ikhtiar memohon perlindungan dari bala serta musibah.
Baca juga: Tata Cara Sholat Hajat Lidaf’il Bala’ untuk Tolak Bala dan Doa Rebo Wekasan Lengkap
Tradisi Rebo Wekasan telah diwariskan secara turun-temurun di sejumlah daerah, terutama di kalangan masyarakat di sejumlah daerah.
Rebo Wekasan adalah tradisi ritual yang dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Safar. Istilah Rebo Wekasan berasal dari bahasa Jawa, yaitu Rebo yang berarti Rabu dan wekasan yang bermakna terakhir atau penutup.
Baca juga: Doa Rebo Wekasan 2026 Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya
Melansir Tebuireng Online, tradisi Rebo Wekasan yang berlangsung secara turun-temurun tersebut dijumpai di tengah masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dan sejumlah daerah lainnya.
Tradisi ini juga berkaitan dengan sejumlah keterangan dalam literatur keislaman yang menjadi rujukan sebagian masyarakat dalam melaksanakan amalan Rebo Wekasan.
Salah satu rujukan mengenai Rebo Wekasan disebut berasal dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w. 1151 H) dalam kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid, yang juga dikenal dengan nama Mujarrobat ad-Dairobi.
Sementara itu, dalam kitab Al-Jawahir Al-Khams karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H) disebutkan:
"Sesungguhnya dalam setiap tahun diturunkan 320.000 bencana (bala) dan semuanya diturunkan pada hari Rabu akhir dari bulan Safar, maka hari itu merupakan hari yang paling berat dalam setahun."
Keterangan tersebut menjadi salah satu dasar yang dikaitkan dengan pelaksanaan tradisi Rebo Wekasan di sejumlah masyarakat.
Ritual Rebo Wekasan umumnya dilakukan melalui sejumlah kegiatan keagamaan. Bentuknya antara lain sholat tolak bala, doa khusus, dan selamatan.
Namun, pelaksanaan sholat yang secara khusus disebut sebagai sholat Rebo Wekasan memiliki ketentuan tersendiri dalam pandangan ulama.
Sholat Rebo Wekasan tidak boleh dilakukan apabila diniatkan sebagai sholat Rebo Wekasan secara khusus.
Sebaliknya, sholat tersebut diperbolehkan apabila diniatkan sebagai sholat sunnah mutlaq atau sholat hajat.
Pembahasan mengenai hukum sholat khusus Rebo Wekasan juga pernah dilakukan dalam Musyawarah NU Jawa Tengah pada 1978 di Magelang.
Hasil pembahasan tersebut menyatakan bahwa sholat Rebo Wekasan hukumnya haram apabila diniatkan secara khusus sebagai sholat Rebo Wekasan.
Namun, sholat tersebut diperbolehkan apabila diniatkan sebagai sholat sunnah muthlaqah atau sholat hajat.
Ketentuan serupa juga dibahas dalam Muktamar NU ke-25 di Surabaya pada 20-25 Desember 1971.
Muktamar tersebut melarang pelaksanaan sholat yang tidak memiliki dasar hukum, kecuali apabila diniatkan sebagai sholat mutlaq.
Selain sholat, ada juga yang memilih membaca doa untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT. Berikut beberapa bacaan doa Rebo Wekasan yang dapat diamalkan.
اللّهُمَّ إِنِّي أسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التّامّاتِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنْ تَحْفَظَنِي وَأَنْ تُعَافِيَنِي مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ البَلاَيَا، يَا مُفَرِّجَ الهَمِّ، وَيَا كَاشِفَ الغَمِّ، اكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ؛ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا.
Latin: Allāhumma innī asaluka bi-asmāika al-ḥusnā, wa bi-kalimātika al-tammāt, wa bi-ḥurmat nabiyyika Muḥammad - ṣallallāhu ʿalayhi wa sallam - an taḥfaẓanī wa an tuʿāfiyanī min balāika, yā dāfiʿ al-balāyā, yā mufarriǧ al-hamm, wa yā kāshif al-ghamm, ikshif ʿannī mā kutiba ʿalayya fī hādhihi as-sanah min hamm aw ghamm; innaka ʿalā kulli shayin qadīr, wa ṣallallāhu ʿalā sayyidinā Muḥammad wa ʿalā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam taslīman.
Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah, dengan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna, dan dengan kemuliaan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar Engkau menjaga dan menyelamatkan-ku dari cobaan-Mu. Wahai Zat yang menolak bala, yang melapangkan kesusahan, dan yang mengangkat kesedihan, jauhkan-lah dariku segala hal yang telah ditetapkan atas diriku pada tahun ini berupa duka atau kesulitan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarganya, serta para sahabatnya."
Selain doa tersebut, Syekh Abdul Hamid dalam kitab-nya Kanzun Najah wa as-Surur juga menganjurkan umat Islam memperbanyak doa pada Rabu terakhir bulan Safar.
Doa tersebut ditujukan sebagai permohonan perlindungan dari mara bahaya dan keselamatan. Beliau menyampaikan:
فَمَنْ أَرَادَ السَّلَامَةَ وَالْحِفْظَ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَدْعُ أَوَّلَ يَوْمٍ مِنْ صَفَرٍ، وَكَذَا فِي آخِرِ أَرْبِعَاءِ مِنْهُ بِهَذَا الدُّعَاءِ، فَمَنْ دَعَا بِهِ دَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ شَرَّ ذَلِكَ الْبَلَاءِ
Artinya: "Barang siapa yang menginginkan keselamatan serta perlindungan dari bala tersebut, hendaknya berdoa pada hari pertama bulan Safar, dan juga di Rabu terakhir bulan itu dengan doa ini. Siapa saja yang membacanya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghindarkan dirinya dari keburukan bala tersebut."
Selain bacaan pendek, terdapat doa Rebo Wekasan lainnya yang berisi permohonan perlindungan dari keburukan, keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ – أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَأَعُوذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ، وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْرَتِكَ أَنْ تُجِيرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَأَهْلِي وَأَحِبَّائِي، وَمَا تُحِيطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هَذِهِ السَّنَةِ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيهَا، وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ، يَا كَرِيمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لِي فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَالأَهْلِ وَمَا تَحُوطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ – وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Wa ṣallallāhu ta‘ālā ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn A‘ūdzu billāhi min sharri hādzāz-zamāni wa ahlihī, wa a‘ūdzu bijalālika wa jalāli wajhika, wa kamāli jalāli qudratika an tujīranī wa wālidayya wa aulādī wa ahlī wa aḥibbā’ī, wa mā tuḥīṭuhu syafaqatu qalbī min sharri hādzihis-sanah, wa qinī sharra mā qaḍaita fīhā, waṣrif ‘annī sharra syahri ṣafar, yā karīman-naẓar, wakhtim lī fī hādzāsy-syahri waddaḥri bis-salāmati wal-‘āfiyati was-sa‘ādah lī wa liwālidayya wa aulādī wal-ahli wa mā taḥūṭuhu syafaqatu qalbī wa jamī‘il-muslimīn wa ṣallallāhu ta‘ālā ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī wa sallam.
Terjemahan: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan shalawat kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan zaman ini dan penduduknya. Aku berlindung dengan keagungan-Mu, cahaya wajah-Mu, serta kesempurnaan kekuasaan-Mu agar Engkau menjaga diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang ku-cintai, dan siapa pun yang dekat di hatiku dari keburukan tahun ini. Lindungi-lah aku dari segala kejelekan yang telah Engkau tetapkan di dalamnya, dan jauhkan aku dari keburukan bulan Safar. Wahai Dzat yang pandangannya penuh kasih, akhiri bulan ini serta umur-ku dengan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan, baik untuk diriku, orang tuaku, anak-anakku, keluarga, semua yang dekat di hatiku, dan seluruh kaum Muslimin. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau."
Doa Rebo Wekasan dibaca pada Rabu terakhir bulan Safar. Waktu membacanya dapat dimulai sejak malam Rabu, yakni Selasa malam, hingga siang hari Rabu.
Dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur, Syekh Abdul Hamid menganjurkan umat Islam memperbanyak doa pada hari pertama bulan Safar dan Rabu terakhir bulan tersebut.
Doa dipanjatkan sebagai ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai keburukan dan musibah.
Selain doa utama, terdapat pula bacaan lain yang dapat diamalkan untuk memohon perlindungan bagi diri sendiri, keluarga, dan seluruh kaum Muslimin, sekaligus memohon keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang