Editor
KOMPAS.com - Hari Kiamat merupakan bagian dari rukun iman yang wajib diyakini setiap Muslim, dengan sejumlah tanda kecil yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis.
Tanda-tanda kiamat kecil atau ash-shughra dapat berupa perubahan kehidupan sosial dan perilaku manusia yang menjadi pengingat untuk memperkuat iman serta memperbaiki amal.
Berbeda dengan tanda kiamat besar yang berupa peristiwa luar biasa menjelang akhir zaman, tanda-tanda kecil dapat muncul secara bertahap dalam kehidupan manusia.
Baca juga: Tanda-tanda Besar Hari Kiamat dalam Islam, dari Kemunculan Dajjal hingga Dukhan
Memahami tanda-tanda tersebut tidak hanya membantu mengenali gambaran akhir zaman dalam ajaran Islam, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri.
Dilansir dari Antara, berikut delapan tanda kiamat kecil yang dijelaskan dalam naskah ini berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis yang dicantumkan.
Baca juga: Mengenal Dukhan, Kemunculan Asap yang Disebut sebagai Tanda Besar Hari Kiamat
Wafatnya para ulama menjadi salah satu tanda kiamat kecil karena dapat menyebabkan berkurangnya ilmu agama di tengah masyarakat. Ketika ulama yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama semakin sedikit, masyarakat berisiko mengikuti pendapat orang yang tidak memiliki pengetahuan memadai.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma:
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Hingga jika sudah tidak ada lagi orang alim, manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”
Hadis tersebut menjelaskan bahwa hilangnya ilmu agama berkaitan dengan wafatnya para ulama. Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya menjaga dan mempelajari ilmu agama dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Meluasnya praktik riba juga disebut dalam hadis sebagai salah satu gambaran keadaan menjelang akhir zaman. Bahkan, orang yang tidak terlibat secara langsung dalam praktik tersebut disebut tetap dapat terkena dampaknya.
Dalam hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِ
Artinya: “Akan datang suatu masa kepada manusia, di mana semua orang memakan riba. Siapa pun yang tidak langsung memakannya, tetap akan terkena debunya.”
Hadis tersebut menggambarkan meluasnya praktik riba hingga sulit dihindari. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ajaran ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperhatikan prinsip-prinsip syariat dalam urusan ekonomi dan transaksi.
Kematian merupakan kepastian bagi setiap makhluk hidup dan menandai berakhirnya kehidupan seseorang di dunia. Dalam pengertian yang lebih luas, kematian kerap disebut sebagai kiamat kecil atau kiamat sugra bagi individu karena menjadi awal perjalanan menuju kehidupan akhirat.
Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُون
Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap makhluk hidup akan mengalami kematian dan kembali kepada Allah SWT. Kesadaran akan kepastian ini dapat menjadi pengingat untuk memanfaatkan kehidupan dengan memperbanyak amal kebaikan.
Naskah sumber mencantumkan perilaku laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya sebagai salah satu tanda kiamat kecil. Gambaran tersebut berkaitan dengan penampilan, sikap, dan perilaku yang menjadi perhatian dalam pembahasan tanda-tanda akhir zaman.
Dalam memahami pembahasan ini, konteks dalil dan penjelasan ulama perlu diperhatikan agar tidak menyimpulkan keadaan seseorang hanya berdasarkan penampilan atau identitasnya.
Gempa bumi yang semakin sering terjadi disebut dalam pembahasan tanda-tanda kecil Kiamat. Peristiwa ini digambarkan sebagai bagian dari berbagai perubahan yang akan dialami manusia menjelang akhir zaman.
Selain gempa bumi, naskah sumber juga mengaitkan periode tersebut dengan waktu yang terasa semakin singkat dan munculnya berbagai fitnah di tengah masyarakat.
Hilangnya ilmu agama berkaitan erat dengan wafatnya para ulama dan berkurangnya orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang ajaran Islam. Ketika tidak ada penerus yang mampu menjaga dan mengajarkan ilmu tersebut, masyarakat berisiko kehilangan panduan dalam memahami agama.
Pembahasan mengenai dicabutnya ilmu ini berdekatan dengan tanda pertama, yakni wafatnya ulama. Keduanya menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan ilmu agama agar pemahaman masyarakat tidak bergantung pada pendapat orang yang tidak memiliki keahlian.
Tanda lainnya adalah kecenderungan sebagian manusia untuk lebih mengutamakan kekayaan dan kepentingan duniawi daripada nilai-nilai agama. Dalam keadaan tersebut, upaya memperoleh harta dapat mengesampingkan pertimbangan mengenai halal dan haram.
Praktik riba yang dianggap biasa juga menjadi bagian dari gambaran tersebut. Karena itu, umat Islam diingatkan untuk tetap memperhatikan ketentuan agama dalam mencari rezeki dan menjalani kehidupan.
Fitnah atau al-fitan dalam bahasa Arab merujuk pada ujian, cobaan, atau keadaan yang dapat menimbulkan kerusakan dan kekacauan.
Dalam pembahasan akhir zaman, fitnah digambarkan sebagai keadaan yang menyulitkan manusia membedakan kebenaran dan kebatilan.
Fitnah dapat berkaitan dengan kekufuran, pembunuhan, konflik, hingga berbagai persoalan sosial lainnya.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar berhati-hati dalam menerima informasi, menjaga keimanan, dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan.
Waktu terjadinya Hari Kiamat hanya diketahui oleh Allah SWT dan tidak dapat dipastikan oleh manusia. Ketetapan ini dijelaskan dalam Surah Al-A'raf ayat 187.
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Artinya: "Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, 'Kapan terjadi?' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.' Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'"
Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu pasti terjadinya Kiamat, termasuk Rasulullah SAW.
Kiamat akan datang secara tiba-tiba sesuai ketetapan Allah SWT, sehingga manusia hendaknya tidak lalai dalam menjalankan kewajiban agama dan mempersiapkan kehidupan akhirat.
Tanda-tanda kiamat kecil dalam Islam mencakup berbagai keadaan, mulai dari wafatnya ulama dan meluasnya praktik riba hingga munculnya fitnah di tengah masyarakat.
Al-Qur’an dan hadis mengingatkan umat Islam bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya, sementara waktu pasti terjadinya Kiamat hanya diketahui oleh Allah SWT.
Memahami tanda-tanda tersebut hendaknya menjadi dorongan untuk memperkuat iman, menjaga perilaku, dan memperbanyak amal kebaikan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.