Editor
KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat tentang tanggung jawab ekologi yang akan dituntut di hari kiamat yang disusun Subdit Kepustakaan Islam dikutip dari laman Simbi Kemenag.
Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Ngathahi Istighfar lan Tetulung Nalika Mangsa Ketiga
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَقَامَ الْأَرْضَ وَاسْتَقَرَّهَا، وَجَعَلَهَا مِهَادًا وَمَعَاشًا لِلْخَلْقِ أَجْمَعِينَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى آلَائِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيرُ النَّذِيْرُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
وَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
اتَّقُوا اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاتَّبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُوهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ عَظِيمٍ.
صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْكَرِيمُ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah Swt. atas karunia kesehatan jasmani dan rohani, serta kesehatan akal dan hati, sehingga iman dan takwa mampu kita pertahankan hingga hari ini. Semoga iman dan takwa yang kita miliki senantiasa mengarahkan kita untuk bersikap baik kepada Allah, Rasulullah, sesama manusia, dan alam semesta. Amin.
Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada makhluk Allah yang paling agung, yaitu Nabi Muhammad saw. Beliau merupakan uswah dan qudwah yang wajib kita teladani, baik dalam kedudukan beliau sebagai hamba Allah, pemimpin, maupun utusan Allah bagi seluruh ciptaan-Nya.
Nabi Muhammad saw. berpesan kepada umatnya untuk menjaga hubungan baik dengan Allah, berbuat baik kepada sesama, serta memperhatikan lingkungan sekitar, bahkan ketika Hari Kiamat tinggal sehari lagi.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu masalah kontemporer yang dihadapi umat manusia, termasuk di Indonesia, adalah krisis ekologi atau krisis lingkungan. Masalah ini muncul karena bumi tidak lagi diperlakukan sebagai sahabat oleh manusia. Penebangan liar (illegal logging), pencemaran lingkungan, dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan terus terjadi. Akibatnya, keseimbangan alam terganggu dan berbagai bencana, seperti banjir hingga tanah longsor, semakin menjadi ancaman bagi kehidupan manusia.
Dampak kerusakan bumi tidak hanya dirasakan selama kehidupan di dunia. Kelak, bumi juga akan menjadi saksi pada Hari Kiamat atas segala perbuatan manusia. Apabila manusia menjalankan amanah sebagai khalifah dengan melakukan kebaikan, bumi akan bersaksi atas kebaikannya. Sebaliknya, jika manusia melakukan kerusakan, bumi akan bersaksi atas keburukan yang diperbuatnya. Hal ini dijelaskan Allah Swt. dalam Surah Az-Zalzalah ayat 1–5.
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا
Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, bumi mengeluarkan isi perutnya, dan manusia bertanya, "Apa yang terjadi dengannya (bumi)?" Pada hari itu (bumi) menyampaikan berita (tentang apa yang diperbuat manusia di atasnya), karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya.
Menurut pakar tafsir Indonesia, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, ketika guncangan dahsyat terjadi kelak, bumi akan mengeluarkan semua beban berat yang dikandungnya sekaligus menceritakan berbagai peristiwa yang dilakukan manusia di atasnya.
Imam Ahmad dan Imam At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa ketika membaca ayat ke-4 Surah Az-Zalzalah, Nabi Muhammad saw. bertanya kepada para sahabat apakah mereka mengetahui berita-berita yang dimaksud dalam ayat tersebut. Para sahabat menjawab bahwa Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi saw. kemudian menjelaskan, "Berita-berita yang dimaksud adalah bahwa bumi kelak akan menjadi saksi atas apa yang dilakukan di dalamnya; baik itu laki-laki atau perempuan. Dia berkata si fulan melakukan ini dan si fulan melakukan ini."
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita bayangkan dan renungkan pesan dalam ayat ke-4 Surah Az-Zalzalah tersebut. Ayat itu menyampaikan kabar yang mengejutkan, yakni bumi yang selama ini terlihat diam dan membisu akan mendapat izin dari Allah untuk menceritakan seluruh peristiwa yang terjadi di atasnya.
Semua perbuatan manusia, baik berupa kebaikan maupun kejahatan, keadilan maupun kezaliman, serta rasa syukur maupun tindakan perusakan, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Persaksian bumi mencakup berbagai perbuatan manusia yang selama ini mungkin dianggap tersembunyi. Setiap langkah dalam melakukan kezaliman, setiap tetes air mata, setiap tumpahan darah, setiap pohon yang ditebang tanpa hak, dan setiap limbah yang dibuang sembarangan akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban manusia atas perbuatannya.
Menurut Imam Al-Ghazali, apabila seluruh anggota tubuh manusia dapat bersaksi di akhirat kelak, bumi yang menjadi tempat berlangsungnya berbagai perbuatan itu juga akan tampil sebagai saksi yang menyeluruh.
Lalu, bagaimana dengan bumi Nusantara? Allah menganugerahkan Indonesia tanah yang subur, hutan yang hijau, laut yang kaya, serta keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dari permukaan hingga perut bumi, negeri ini memiliki kekayaan alam yang melimpah.
Namun, apa yang telah kita lakukan terhadap amanah tersebut?
Setiap menit, hutan kita menyusut. Bumi menyaksikan pohon-pohon yang berfungsi sebagai penyeimbang alam, tempat hidup satwa, dan penyerap karbon ditebang secara serakah tanpa diimbangi upaya reboisasi. Sungai-sungai yang dahulu jernih kini tercemar limbah industri dan sampah rumah tangga. Udara di kota-kota besar dipenuhi polusi.
Belum lagi aktivitas pertambangan yang meninggalkan lubang-lubang menganga, pengambilan pasir laut yang merusak ekosistem, hingga perburuan satwa langka. Berbagai kerusakan tersebut menunjukkan dampak buruk perilaku manusia terhadap lingkungan. Namun, manusia kerap mengabaikannya dan belum menjadikan berbagai bencana ekologis sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Agar kelak kita selamat ketika bumi memberikan kesaksiannya pada Hari Kiamat, kita perlu melakukan berbagai kebaikan ekologis. Bumi tidak akan memihak kepada siapa pun. Kebenaran akan disaksikan sebagai kebenaran, sedangkan kesalahan akan dipertanggungjawabkan sesuai perbuatan manusia.
Karena itu, marilah kita menjaga bumi dengan baik, dimulai dari rumah masing-masing. Kelola sampah rumah tangga secara bijak dan jangan membuangnya ke sungai. Hindari membuang sampah sembarangan, tanamlah pohon sebagai bagian dari upaya reboisasi, dan ajaklah masyarakat untuk bersahabat dengan lingkungan.
Bumi bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi sesuka hati, melainkan ciptaan Allah yang harus dijaga dan diperlakukan dengan penuh tanggung jawab.
Demikianlah Islam mengajarkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan upaya menjaga bumi merupakan bagian dari ajaran agama yang mulia. Syaikh Nuruddin Mukhtar menjelaskan:
وَذَرْوَةُ عِنَايَةِ الْإِسْلَامِ بِالْبِيْئَةِ اعْتِبَارُ هَذِهِ الْبِيْئَةِ مِلْكًا لِلَّهِ تَعَالَى، وَحَقًّا شَرَعَهُ لِكُلِّ عِبَادِهِ وَخَلْقِهِ، وَأَمَانَةً سَنُسْأَلُ عَنْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَمْرًا مُرْتَبِطًا غَايَةَ الْإِرْتِبَاطِ بِأَمْرِ الْعَقِيدَةِ وَأَرْكَانِ الْإِيْمَانِ وَقَوَاعِدِ الْأَخْلَاقِ.
"Puncak kepedulian Islam terhadap lingkungan ialah ketika keyakinan bahwa lingkungan merupakan milik Allah, tanggung jawab pemeliharaan yang disyariatkan terhadap hamba dan makhluk-Nya, amanah yang dituntut pertanggungjawabannya pada hari kiamat, dan aspek keagamaan yang sangat bertalian erat dengan akidah, rukun iman, dan kaidah akhlak mulia."
Nabi Muhammad saw. juga memerintahkan umatnya untuk menanam pohon sebagai bentuk upaya menjaga bumi, bahkan ketika kiamat sudah dekat. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا، فَلْيَغْرِسْهَا
"Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah satu dari kalian ada bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat itu datang, tanamlah."
Hadis tersebut menjadi bukti perhatian Nabi saw. terhadap bumi. Pelestarian lingkungan memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia, binatang, dan seluruh makhluk hidup. Bumi yang tandus dapat mengancam kehidupan penghuninya, sedangkan bumi yang subur mendukung seluruh makhluk dalam menjalankan perannya masing-masing.
Berdasarkan ayat Al-Qur'an dan hadis tersebut, ulama kontemporer seperti Syed Hossein Nasr dan Yusuf Al-Qaradawi turut membahas konsep fikih lingkungan (fiqh al-bi'ah). Konsep ini mencakup prinsip amanah, istikhlaf atau kekhalifahan, sadd adz-dzari'ah atau pencegahan kerusakan, serta larangan israf atau perilaku berlebihan.
Prinsip-prinsip tersebut bertujuan mewujudkan 'imaratul ardh, yakni memakmurkan bumi, sehingga kelak bumi dapat menceritakan berbagai kebaikan yang dilakukan manusia selama hidup di dalamnya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Akhirul kalam, semoga kita yang masih diberikan kesehatan dan kesempatan mampu melakukan kebaikan demi kebaikan serta mencegah kerusakan demi kerusakan. Dengan demikian, kelak di akhirat kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merusak bumi.
Manusia yang melakukan kerusakan tidak akan mampu mengelak dari pertanggungjawaban di hadapan Allah. Selain anggota tubuhnya menjadi saksi, bumi yang dipijaknya juga akan menceritakan perbuatannya dan menguatkan kesaksian tersebut.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ الْعَقْلِ وَالتَّمْيِيزِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الرَّحِيمُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
وَأَرْضَى اللَّهُ عَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الرُّحَمَاءِ بِالْخَلْقِ أَجْمَعِينَ، وَالْمُحْسِنِينَ فِي التَّعَامُلِ مَعَ كُلِّ ذِي رُوحٍ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْقَصْدَ فِي الْإِنْفَاقِ وَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، وَالْحِكْمَةَ فِي التَّصَرُّفِ فِي جَمِيعِ أُمُورِنَا.
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَارْزُقْنَا الْقَنَاعَةَ وَالرَّحْمَةَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.