Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Pernah ga merasa, sudah mempelajari materi dan berlatih soal, tetapi masih takut menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA)?
Sebenarnya, kekhawatiran terhadap soal yang sulit maupun hasil yang belum pasti dapat menjadi kesempatan untuk memahami kembali hubungan ikhtiar dan tawakal.
Dalam ajaran Islam, berserah diri kepada Allah SWT berjalan bersama tanggung jawab untuk berusaha.
Bagi peserta TKA, prinsip tersebut dapat diterapkan dengan mempersiapkan diri, mengerjakan soal secara jujur, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Baca juga: 495.251 Siswa Ikuti Asesmen Nasional dan TKA Madrasah Hari Ini, Simak Jadwalnya
Dewan Pakar Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Untung Cahyono, mengingatkan bahwa keyakinan terhadap takdir tidak boleh membuat seseorang berhenti berusaha.
“Iman kepada takdir bukan berarti diam tanpa usaha,” ujarnya dikutip dari laman Muhammadiyah.
Penjelasan tersebut disampaikan dalam kajian mengenai sikap seorang Muslim menghadapi ketidakpastian kehidupan, bukan secara khusus tentang TKA.
Namun, prinsip ikhtiar dan tawakal yang diuraikannya dapat menjadi bahan refleksi bagi siswa menjelang ujian.
Perintah bertawakal antara lain terdapat dalam Surah Ali Imran ayat 159. Penggalan ayat tersebut berbunyi:
فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ
Artinya: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.”
Merujuk terjemahan dan tafsir yang ditampilkan Quran NU Online, ayat tersebut membicarakan sikap Rasulullah SAW terhadap para sahabat, termasuk perintah bermusyawarah.
Setelah keputusan ditetapkan dan tekad dibulatkan untuk melaksanakannya, manusia diperintahkan bertawakal kepada Allah. Tafsirnya menekankan pengakuan terhadap keterbatasan diri setelah melakukan usaha secara maksimal.
Baca juga: Doa Sebelum TKA agar Dimudahkan dan Diberi Ketenangan, Arab, Latin, dan Artinya
Dalam konteks persiapan TKA, pesan tersebut dapat dipahami sebagai dorongan untuk menjalankan bagian yang mampu diusahakan: belajar, menanyakan materi yang belum dipahami, dan mengikuti ujian dengan sungguh-sungguh.
Hasil yang belum diketahui tidak perlu dijadikan alasan untuk menghentikan langkah.
Menurut Untung, manusia tetap bertanggung jawab mencari jalan keluar dan memperbaiki keadaan. Tawakal tidak semestinya menjadi alasan untuk menutup kesempatan berusaha.
Ia menjelaskan, keimanan kepada takdir dapat menumbuhkan kerendahan hati ketika berhasil dan menjaga optimisme ketika menghadapi kegagalan.
Kesulitan maupun kenyataan yang berbeda dari rencana tidak harus menghentikan upaya untuk bangkit.
Bagi siswa, penerapannya dapat dimulai dengan menentukan langkah yang masih bisa dilakukan menjelang ujian.
Misalnya, meninjau materi yang belum dipahami, memastikan jadwal dan perlengkapan, serta meminta arahan guru.
Saat TKA berlangsung, perhatian dapat diarahkan pada petunjuk dan soal yang sedang dikerjakan.
Tawakal menyertai usaha tersebut, termasuk ketika siswa belum mengetahui apakah jawabannya akan menghasilkan nilai sesuai harapan.
Memaknai tawakal menjelang TKA berarti memberi perhatian pada proses yang dapat dilakukan saat ini, sambil menerima bahwa hasil akhirnya belum berada dalam pengetahuan peserta.
Siswa tetap boleh memiliki target dan berharap memperoleh hasil yang baik.
Setelah ujian selesai, hasil tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah belajar berikutnya.
Dengan pemahaman ini, tawakal dapat menyertai seluruh proses menghadapi TKA yakni mempersiapkan diri, menjalani ujian dengan jujur, dan tetap bersedia belajar setelah mengetahui hasilnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.