Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fajar Rachmadhani, mengingatkan bahwa tanggung jawab pemimpin adalah melindungi masyarakat dan hadir ketika mereka menghadapi kesulitan.
Jabatan tidak semestinya digunakan untuk mengejar kehormatan atau mempertahankan citra pribadi.
Menurut Fajar, kepemimpinan dalam Islam merupakan amanah untuk melayani dan mengutamakan keselamatan orang-orang yang dipimpin.
“Seorang pemimpin tidak boleh mati rasa terhadap derita yang dialami oleh umat dan rakyatnya. Bila rakyat itu susah, ia tidak boleh hanya menjaga citra,” ujar Fajar dikutip dari laman Muhammadiyah, Minggu (25/10/2026).
Baca juga: Menag: Pendidikan Antikorupsi Harus Dimulai dari Keteladanan Pemimpin
Ia mengajak jemaah meneladani Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan kepedulian terhadap keselamatan umat.
Keteladanan tersebut perlu diwujudkan melalui keputusan dan tindakan, terutama ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Fajar mencontohkan bencana kebakaran hutan dan lahan sebagai situasi yang menguji tanggung jawab bersama.
Di tengah bencana, masyarakat membutuhkan udara bersih dan kepastian keselamatan keluarga. Sementara itu, petugas di lapangan menghadapi risiko untuk memadamkan api.
Menurutnya, keadaan demikian membutuhkan pemimpin yang mendengarkan keluhan, mengupayakan perlindungan, dan memastikan bantuan menjangkau orang-orang yang memerlukannya.
“Ketika penderitaan sesama belum menggerakkan langkah kita, di manakah kasih sayang yang kita teladani dari Nabi kita Rasulullah Muhammad SAW?” ujarnya.
Fajar menegaskan, kecintaan kepada Rasulullah perlu terlihat dalam perilaku sehari-hari. Selawat dan ungkapan cinta kepada Nabi harus disertai kesediaan meneladani kasih sayangnya kepada sesama.
Baca juga: Angin Kencang Bertiup, Ini Doa yang Dicontohkan Rasulullah
Dalam khutbahnya, Fajar mengangkat peristiwa hijrah dari Makkah ke Yatsrib sebagai gambaran perhatian Rasulullah terhadap keselamatan para sahabat.
Mengutip pemikiran Syekh Ali at-Tantawi dalam buku Rijalun Minat Tarikh, ia menggambarkan kepemimpinan Nabi seperti nakhoda yang bertanggung jawab atas seluruh penumpang kapal.
Ketika menghadapi badai, nakhoda memastikan keselamatan penumpang dan tidak mendahulukan upaya menyelamatkan dirinya sendiri.
“Rasulullah itu bukan sosok pemimpin yang bertanya, ‘Bagaimana aku selamat?’ Tetapi seolah-olah seluruh hidup beliau dihabiskan untuk bertanya, ‘Bagaimana umatku dulu yang selamat?’” tutur Fajar.
Ia juga merujuk Surah At-Taubah ayat 128 yang menggambarkan kepedulian Rasulullah terhadap penderitaan umat serta sifat penyantun dan penyayang beliau kepada orang-orang beriman.
Menurut Fajar, pesan tersebut menjadi pedoman moral agar pemimpin tetap peka terhadap kesulitan masyarakat.
Fajar turut mengutip hadis “Innamal imamu junnatun”, yang bermakna pemimpin adalah perisai.
Ia menjelaskan, fungsi perisai adalah menghadapi ancaman dan melindungi orang-orang di belakangnya. Karena itu, kepemimpinan menuntut kesediaan menanggung risiko demi keselamatan pihak yang menjadi tanggung jawabnya.
Seorang pemimpin, menurutnya, tidak sepatutnya membiarkan bawahan menghadapi bahaya sementara dirinya berlindung dalam kenyamanan jabatan.
Dalam kehidupan organisasi, tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan dengan mendengarkan persoalan anggota dan mencari jalan keluar bersama.
Adapun dalam masyarakat, kehadiran pemimpin perlu dirasakan saat warga membutuhkan solusi, bukan hanya ketika berlangsung acara seremonial.
Fajar mengingatkan bahwa tanggung jawab memimpin juga melekat pada kehidupan sehari-hari, tidak terbatas pada pejabat atau pemegang kekuasaan.
Ia mengutip hadis “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi”, yang berarti setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Orangtua memiliki amanah terhadap keluarga dan anak-anak. Guru serta dosen juga bertanggung jawab terhadap peserta didik yang mereka dampingi.
Karena itu, ukuran keberhasilan kepemimpinan tidak cukup dilihat dari jabatan, jumlah pengikut, atau pujian yang diterima.
“Pertanyaan yang terberat bagi seorang pemimpin sejati dalam pandangan Islam adalah berapa banyak orang yang merasa aman dengan kehadiranku?” ungkapnya.
Fajar mengajak jemaah mengevaluasi cara mereka menjalankan tanggung jawab masing-masing, termasuk memastikan ucapan, tulisan, dan keputusan tidak menyakiti orang-orang yang dipimpin.
Ia menegaskan bahwa jabatan merupakan amanah, sedangkan kekuasaan dan pengaruh membawa tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.