Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masjid Ramah Musafir, dari Tempat Singgah hingga Penggerak Ekonomi Umat

Kompas.com, 26 Oktober 2026, 09:11 WIB
Reni Susanti

Editor

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Layanan bagi musafir membuka peluang bagi masjid untuk mengembangkan kegiatan ekonomi, mulai dari penginapan, kuliner halal, hingga usaha yang mendukung kebutuhan jemaah dan warga sekitar.

Potensi tersebut dibahas dalam diskusi panel Masjid Ramah Musafir pada Silaturahmi Nasional (Silatnas) Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammadiyah di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Minggu (25/10/2026).

Arif Sulfiantono dari Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai kebutuhan wisatawan terhadap akomodasi serta makanan dan minuman dapat menjadi peluang bagi pengelola masjid.

“Ini sebagai peluang untuk mengembangkan masjid sebagai bisnis wisata,” ujar Arif dikutip dari laman Muhammadiyah, Senin (26/10/2026). 

Baca juga: Suriah Buka Kembali Masjid Berusia 1.300 Tahun Setelah 13 Tahun Tutup Imbas Perang

Menurutnya, masjid ramah musafir perlu menyediakan layanan yang membantu perjalanan pengunjung. Fasilitasnya dapat mencakup WiFi, minuman gratis, tempat mengisi daya perangkat, kuliner halal, serta akses bagi penyandang disabilitas.

Ia juga memasukkan keberadaan imam yang hafiz sebagai bagian dari layanan keagamaan.

Hotel Masjid Jogokariyan hampir selalu terisi

Arif mencontohkan Masjid Jogokariyan yang mengembangkan layanan penginapan dengan 11 kamar. Menurut paparannya, tingkat hunian hotel masjid tersebut mendekati 100 persen.

Sepanjang Januari–September 2026, Masjid Jogokariyan menerima 228 rombongan. Kelompok terbanyak berasal dari lembaga pendidikan, yakni 80 rombongan, disusul takmir dan dewan kemakmuran masjid (DKM) sebanyak 56 rombongan.

Kunjungan paling ramai berlangsung pada akhir pekan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan adanya kebutuhan layanan bagi rombongan yang datang untuk belajar maupun berkegiatan di masjid.

Baca juga: Kemenag Buka Bantuan Masjid Rp50 Juta dan Musala Rp35 Juta, Ini Syaratnya

Usaha masjid mendukung kegiatan warga

Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Jamaluddin Ahmad, turut memaparkan contoh masjid yang mengembangkan usaha untuk mendukung kegiatan masyarakat.

Salah satunya Masjid Baitul Mukhlisin di Ponorogo. Menurut Jamaluddin, masjid tingkat ranting tersebut memiliki badan usaha berupa laundry, minimarket Suryamart, dan restoran.

Ia menyebut minimarket tersebut membukukan laba bersih sekitar Rp20 juta–Rp25 juta per bulan. Sementara itu, restorannya mampu melayani 500–1.000 orang dalam sekali makan.

Masjid tersebut juga memberikan bantuan kepada 13 RT di sekitarnya, masing-masing Rp11 juta. Dana itu terdiri atas Rp1 juta untuk ketua RT dan Rp10 juta untuk program mengajak warga salat berjemaah.

Jamaluddin mengatakan, pengembangan program masjid perlu bertumpu pada data. Karena itu, LPCR-PM menyusun Sistem Informasi Masjid Muhammadiyah (SIMASMU).

Dari sekitar 4.600 masjid yang telah terdata, rata-rata jumlah jemaah pada setiap waktu salat tercatat sekitar 30 orang. Informasi itu menjadi bahan untuk menentukan kebutuhan pembinaan.

“Kalau kita bekerja tanpa data biasanya masalah,” tegasnya.

Siapkan tempat menginap bagi rombongan

Jamaluddin menjelaskan, LPCR-PM juga tengah menyiapkan pengembangan masjid ramah musafir, termasuk fasilitas dengan 100 tempat tidur untuk rombongan.

Di Gunungkidul, Pimpinan Daerah Muhammadiyah sedang membangun masjid ramah musafir di jalur wisata dan jalan nasional. Pembangunannya ditargetkan selesai pada Januari mendatang.

Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah, Syauqi Soeratno, mengingatkan agar pengelola terlebih dahulu menentukan arah pengembangan masjid.

Menurutnya, masjid yang berfungsi sebagai tempat singgah membutuhkan pola pengelolaan berbeda dengan masjid yang dikembangkan menjadi destinasi kunjungan.

Ia berharap Silatnas menghasilkan rekomendasi dan dokumen pandangan Muhammadiyah tentang pariwisata serta ekonomi kreatif, baik untuk kebutuhan internal maupun sebagai masukan bagi pemerintah.

Syauqi juga mengusulkan pengembangan pusat pertumbuhan pariwisata dan ekonomi kreatif Muhammadiyah di sekitar 12 titik di Indonesia melalui kerja bersama.

Layanan menjadi kunci

Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Zainul Muttaqin, menekankan bahwa keberhasilan masjid ramah musafir bergantung pada kualitas pelayanan.

Menurutnya, pengelola perlu menempatkan kebutuhan dan kenyamanan pengunjung sebagai perhatian utama. Usaha yang dikembangkan juga harus memberi manfaat bagi Persyarikatan.

Zainul turut mendorong pengelola membagikan praktik baik melalui media sosial agar layanan masjid semakin dikenal masyarakat.

Adapun Jamaluddin menegaskan bahwa pembinaan masjid diarahkan untuk menguatkan perannya dalam menjawab kebutuhan umat.

“Masjid makmur memakmurkan, dari masjid kita bangkit, apa pun masalahnya masjid solusinya,” pungkasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar