Editor
KOMPAS.com - Kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan hari kiamat merupakan kepastian yang akan dihadapi setiap manusia.
Karena itu, umat Islam perlu memperkuat ketaatan kepada Allah SWT melalui amal saleh, termasuk menyegerakan shalat Jumat dan menjalankan kewajiban agama di tengah kesibukan dunia.
Baca juga: Tanda-Tanda Kiamat Kecil dalam Islam, dari Wafatnya Ulama hingga Menyebarnya Fitnah
Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Khaidir Sulaiman, dalam Mimbar Jumat TVMu pada Jumat (23/10/2026).
Dalam khutbahnya, ia menjelaskan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi hari akhir, termasuk dengan memahami tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat.
Baca juga: Tanda-tanda Besar Hari Kiamat dalam Islam, dari Kemunculan Dajjal hingga Dukhan
Dalam khutbahnya, Khaidir menjelaskan hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Ketujuh golongan tersebut menggambarkan berbagai bentuk ketaatan, mulai dari menjalankan amanah dan menjaga diri dari maksiat hingga bersedekah serta mendekatkan diri kepada Allah.
Golongan pertama adalah pemimpin yang adil. Khaidir menjelaskan bahwa pemimpin dalam hadis tersebut mencakup orang yang memegang kekuasaan, baik kepala negara maupun penguasa yang menentukan kebijakan bagi masyarakat.
Keadilan perlu diterapkan dalam pengambilan keputusan, penyusunan kebijakan, dan perlakuan terhadap rakyat. Mengutip penjelasan Imam Nawawi, Khaidir menyampaikan bahwa keadilan pemimpin mencakup urusan dirinya sendiri, keluarga, dan rakyatnya.
Pemimpin yang adil dapat membawa kebaikan bagi kehidupan masyarakat. Sebaliknya, kezaliman berpotensi menimbulkan kesusahan dan keresahan di tengah masyarakat.
Golongan kedua adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Khaidir menjelaskan bahwa ibadah perlu menjadi orientasi hidup sejak usia muda hingga dewasa.
Masa muda dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan beribadah, memperkuat keimanan, dan menjalankan perintah agama. Ketaatan yang ditanamkan sejak dini menjadi bagian penting dalam membentuk kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Golongan ketiga adalah orang yang hatinya terpaut pada masjid. Golongan ini merujuk pada orang-orang yang menjadikan masjid sebagai bagian penting dalam kehidupan dan kegiatan keagamaannya.
Kecintaan terhadap masjid tercermin melalui kesungguhan menjalankan ibadah dan menjaga hubungan dengan Allah. Masjid tidak hanya menjadi tempat menunaikan salat, tetapi juga ruang untuk memperkuat keimanan dan membangun kehidupan keagamaan.
Golongan keempat adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah. Hubungan tersebut dibangun atas dasar keimanan dan diwujudkan melalui kegiatan yang membawa manfaat.
Kecintaan karena Allah tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan duniawi, tetapi juga pada keinginan untuk menjaga ketaatan dan melakukan kebaikan. Hubungan semacam ini menjadi salah satu bentuk ikatan yang berlandaskan nilai-nilai agama.
Golongan kelima adalah orang yang mampu menolak ajakan berbuat maksiat meskipun mendapat godaan dari seseorang yang memiliki kecantikan dan kedudukan. Orang tersebut menegaskan bahwa dirinya takut kepada Allah.
Khaidir menjelaskan bahwa sikap ini menunjukkan kemampuan seseorang untuk menjaga diri ketika menghadapi godaan. Keimanan dan kesadaran akan pengawasan Allah menjadi landasan untuk tidak mengikuti ajakan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Golongan keenam adalah orang yang bersedekah dengan ikhlas. Khaidir mengajak umat Islam yang memiliki harta untuk menggunakannya dalam membantu sesama, membahagiakan keluarga, memperhatikan lingkungan, dan mendukung kegiatan dakwah.
Menurutnya, harta dapat menjadi sarana untuk memperluas manfaat dan memperkuat perjuangan di jalan Allah. Karena itu, kepemilikan harta perlu diiringi kesediaan untuk berbagi dan membantu orang lain tanpa menjadikan sedekah sebagai sarana mencari pujian.
Golongan ketujuh adalah orang yang mengingat Allah ketika berada dalam kesendirian hingga meneteskan air mata. Khaidir menggambarkan golongan ini sebagai orang yang bangun pada malam hari untuk menunaikan salat tahajud dan berdoa dengan penuh penghayatan.
Momen ketika seseorang menyendiri bersama Allah dapat menjadi kesempatan untuk merenungkan kehidupan, memohon ampun, dan memperkuat hubungan dengan-Nya. Air mata yang menetes saat mengingat Allah menggambarkan penghayatan mendalam dalam beribadah.
Khaidir mengingatkan bahwa kedatangan hari kiamat merupakan kepastian yang waktunya tidak diketahui manusia. Ketika hari itu tiba, manusia akan menghadapi keadaan yang sangat dahsyat hingga sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri dan tidak lagi sempat memberikan pertolongan kepada keluarga maupun orang-orang terdekat.
Kesadaran tentang hari akhir seharusnya mendorong umat Islam untuk memperbaiki ketaatan sejak sekarang. Salah satu bentuknya adalah menyegerakan diri memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan salat Jumat.
Khaidir mengutip firman Allah dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 9 yang memerintahkan orang-orang beriman agar segera mengingat Allah ketika diseru untuk melaksanakan salat Jumat dan meninggalkan aktivitas jual beli.
Ia menyoroti kebiasaan sebagian orang yang masih terlambat datang ke masjid, bahkan ketika khatib telah naik mimbar. Padahal, kesempatan untuk meninggalkan pekerjaan dan menuju masjid telah tersedia, termasuk melalui pengaturan waktu istirahat di sejumlah tempat kerja.
“Kalau kita tidak keluar menuju masjid, itu menandakan kita termasuk orang-orang yang lalai,” ujarnya.
Khaidir mengajak jemaah yang masih melakukan kebiasaan tersebut untuk bertobat, memohon ampun kepada Allah, dan berkomitmen memperbaiki diri. Menurutnya, pengakuan atas kelalaian perlu diikuti perubahan perilaku agar kesalahan serupa tidak terus berulang.
Ia juga mengingatkan bahaya terlalu terpikat pada kehidupan dunia hingga mengabaikan kewajiban kepada Allah. Pekerjaan dan penghasilan memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi keduanya harus menjadi sarana untuk beribadah, bukan alasan untuk mengesampingkan perintah agama.
Khaidir membandingkan sikap manusia terhadap aturan duniawi dan panggilan Allah. Sebagian orang takut terlambat masuk kantor karena khawatir mendapat sanksi, kehilangan penghasilan, atau menghadapi masalah pekerjaan. Namun, ketika Allah memanggil melalui kewajiban ibadah, sebagian orang justru kurang memberikan perhatian.
Karena itu, ia mengajak umat Islam memohon petunjuk agar menjadi hamba yang taat dan segera memenuhi panggilan-Nya.
Khaidir berharap penjelasan tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat menjadi pengingat bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri melalui amal saleh dan ketaatan yang nyata.
Kesadaran terhadap kehidupan akhirat perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, mulai dari menyegerakan salat Jumat, menjalankan tanggung jawab dengan baik, berlaku adil, membantu sesama, hingga menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah.
Dengan memahami ketujuh golongan tersebut, umat Islam diharapkan dapat mengevaluasi diri dan memperbaiki kualitas keimanan.
Persiapan menghadapi hari kiamat perlu dilakukan sejak sekarang melalui ibadah yang konsisten, kepedulian terhadap sesama, dan komitmen menjalankan perintah Allah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.