Editor
KOMPAS.com — Menjadi anak muda terkadang berhadapan dengan pilihan sulit, apakah mengikuti arus lingkungan agar diterima atau mempertahankan prinsip meski harus berbeda.
Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober dapat menjadi momentum untuk merenungkan keberanian mengambil sikap tersebut. Bagi pemuda Muslim, salah satu kisah yang dapat menjadi bahan refleksi adalah Ashabul Kahfi dalam Al-Quran.
Kisah para pemuda penghuni gua ini memperlihatkan keteguhan iman, kebersamaan, serta kesediaan memohon petunjuk Allah ketika menghadapi keadaan sulit.
Baca juga: 40 Ucapan Hari Sumpah Pemuda 2026 Bernuansa Islami, Cocok Dibagikan di Medsos
Konteks kehidupan mereka tentu berbeda dari tantangan pemuda Indonesia hari ini.
Namun, keteguhan mereka dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan prinsip, lingkungan pertemanan, dan tanggung jawab atas pilihan sendiri.
Al-Quran menyebut Ashabul Kahfi sebagai pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka. Allah berfirman dalam Surah Al-Kahf ayat 13:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
Naḥnu naquṣṣu ‘alaika naba’ahum bil-ḥaqq, innahum fityatun āmanū birabbihim wa zidnāhum hudā.
Artinya, “Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS Al-Kahf: 13).
Ayat berikutnya menceritakan bahwa Allah meneguhkan hati mereka ketika menyatakan keyakinan kepada Tuhan langit dan bumi serta menolak menyembah selain-Nya.
Baca juga: Teks Doa Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026, Lengkap dengan Doa Ashabul Kahfi
Sebagai bahan refleksi, kisah tersebut mengajak pembaca melihat masa muda sebagai masa membangun pendirian. Keinginan untuk diterima lingkungan perlu berjalan bersama kemampuan mempertimbangkan baik dan buruk suatu tindakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, tantangan itu dapat muncul ketika seseorang diajak menyontek, merundung teman, atau menyebarkan konten yang mempermalukan orang lain.
Menolak ajakan semacam itu mungkin terasa tidak nyaman. Namun, keberanian menjaga prinsip dapat dimulai dari keputusan sederhana untuk tidak ikut melakukan tindakan yang merugikan.
Ashabul Kahfi menghadapi keadaan sulit sebagai sebuah kelompok. Mereka berlindung ke dalam gua dan memohon rahmat serta petunjuk Allah, sebagaimana diceritakan dalam Surah Al-Kahf ayat 10.
Kebersamaan tersebut dapat menjadi bahan renungan mengenai lingkungan pertemanan yang dibangun anak muda.
Apakah pertemanan memberi ruang untuk mengatakan tidak? Apakah anggotanya dapat saling mengingatkan tanpa menghina? Apakah seseorang tetap dihargai ketika menolak tindakan yang bertentangan dengan prinsipnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini membantu menilai kualitas hubungan, baik di sekolah, kampus, organisasi, maupun ruang digital.
Lingkungan yang mendukung kebaikan juga dapat dibangun melalui kegiatan bersama, seperti belajar, menjadi relawan, membantu tetangga, atau mendampingi teman yang mengalami kesulitan.
Dikutip dari laman Kementerian Agama, ketika berlindung ke dalam gua, para pemuda itu berdoa:
رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
Rabbanā ātinā mil ladunka raḥmataw wa hayyi’ lanā min amrinā rasyadā.
Artinya, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.” (Penggalan QS Al-Kahf: 10).
Doa ini dapat dibaca ketika memohon rahmat dan petunjuk Allah dalam menghadapi berbagai urusan.
Bagi anak muda, keputusan tentang pendidikan, pekerjaan, maupun pergaulan sering disertai ketidakpastian. Memohon petunjuk dapat berjalan bersama ikhtiar mencari informasi, belajar, dan meminta nasihat kepada orang yang tepercaya.
Keteguhan prinsip juga memerlukan kesediaan mendengar dan memperbaiki keputusan ketika menemukan kekeliruan.
Menghubungkan kisah Ashabul Kahfi dengan Sumpah Pemuda merupakan refleksi atas nilai keteguhan dan kebersamaan, bukan penyamaan dua peristiwa yang berbeda konteks.
Pengalaman mereka menghadapi ancaman terhadap keyakinan tidak dapat begitu saja disamakan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.
Surah Al-Kahf ayat 20 menggambarkan kekhawatiran mereka akan kekerasan dan pemaksaan untuk kembali kepada agama kaumnya.
Dalam kehidupan pemuda Indonesia, menjaga prinsip dapat diwujudkan bersama penghormatan terhadap hak orang lain untuk memiliki keyakinan berbeda.
Kerja sama tetap dapat dibangun melalui kepentingan bersama, seperti pendidikan, kepedulian sosial, dan pemeliharaan lingkungan.
Pada momentum Sumpah Pemuda, refleksi atas Ashabul Kahfi dapat dimulai dari pertanyaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, apakah prinsip apa yang ingin dijaga, siapa yang membantu kita bertumbuh, dan kebaikan apa yang bisa dikerjakan bersama?
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.