Editor
KOMPAS.com - Perang Uhud mengajarkan pentingnya ketaatan terhadap pemimpin, menjaga amanah, serta menghindari keserakahan dalam perjuangan.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, mengajak warga Muhammadiyah mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut untuk memperkuat iman dan mewujudkan kebanggaan melalui amal nyata.
Pesan itu disampaikan Kiai Saad dalam Kajian Ahad Pagi Pencerahan yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya di kompleks SD Muhammadiyah 15 Wiyung, Surabaya, Ahad (25/10/2026).
Baca juga: Abdullah bin Amr bin Haram, Ayah Jabir yang Gugur dalam Perang Uhud
Kiai Saad menjelaskan, Perang Uhud merupakan salah satu peristiwa bersejarah dalam perjuangan Rasulullah Muhammad SAW menegakkan Islam. Dalam peperangan tersebut, sekitar 1.000 pasukan Muslim menghadapi 3.000 pasukan Quraisy.
Salah satu peristiwa penting dalam Perang Uhud adalah ketika pasukan pemanah meninggalkan pos mereka karena tergiur harta rampasan perang. Padahal, Rasulullah telah memerintahkan mereka untuk tetap berada di posisi yang ditentukan.
Baca juga: Perang Uhud: Kisah Luka Nabi Muhammad di Kaki Jabal Uhud
Keputusan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasukan Muslim mengalami kekalahan setelah sebelumnya berada dalam posisi yang menguntungkan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kelalaian dalam menjalankan amanah dan ketaatan dapat membawa dampak besar bagi perjuangan bersama.
Meski mengalami kekalahan, Rasulullah dan para sahabat tidak kehilangan semangat untuk melanjutkan perjuangan.
Menurut Kiai Saad, umat Islam perlu memahami bahwa kekalahan tidak boleh memadamkan semangat, sedangkan kemenangan tidak seharusnya melahirkan kesombongan.
“Kedua keadaan tersebut perlu dihadapi dengan iman, keteguhan, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri,” katanya.
Kiai Saad juga mengaitkan pelajaran dari Perang Uhud dengan kandungan Surat Ali Imran ayat 139. Ayat tersebut mengingatkan umat Islam agar tidak merasa lemah dan bersedih, sekaligus meneguhkan keimanan dalam menghadapi berbagai keadaan.
Menurut dia, kebanggaan atau pride perlu dibangun di atas landasan iman agar tidak membuat seseorang merasa lebih baik daripada orang lain.
Kebanggaan yang bersumber dari iman seharusnya mendorong seseorang untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Atas dasar itu, Kiai Saad memandang warga Muhammadiyah perlu membangun kebanggaan terhadap Persyarikatan dengan berpegang pada nilai-nilai keimanan.
Kebanggaan tersebut perlu diwujudkan melalui kerja nyata dan amal kebajikan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas.
“Kebangaan itu harus tampak dalam konsistensi menjalankan kebaikan, mengembangkan program, dan menjaga komitmen terhadap tujuan Persyarikatan,” katanya.
Kiai Saad menegaskan, kebanggaan sebagai bagian dari Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada identitas atau simbol semata.
Keislaman dan kemuhammadiyahan perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk melalui keimanan, sikap amanah, produktivitas, dan kontribusi nyata.
Bagi warga Muhammadiyah, nilai-nilai tersebut menjadi landasan untuk menjalankan program Persyarikatan secara konsisten sekaligus menjaga komitmen terhadap tujuan organisasi.
Semangat perjuangan juga perlu diarahkan pada upaya menghadirkan kebaikan bagi umat dan kemanusiaan secara luas.
Pelajaran dari Perang Uhud dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan sejarah perjuangan Rasulullah, tetapi juga menjadi pengingat bagi warga Muhammadiyah untuk menjaga ketaatan, menghindari keserakahan, serta menjadikan iman sebagai dasar dalam bekerja dan beramal.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.