KEDERMAWANAN merupakan praksis kesalehan sosial yang lazim ditemukan di bulan suci Ramadhan. Umat Islam berlomba-lomba melakukan amal-amal kebaikan (fastabiqul khairat) karena pahala akan dilipatgandakan.
Dalam Hadis Sahih Riwayat Bukhari (no. 3290; no. 3554 pada Fathul Bari), kedermawanan Rasulullah SAW.—sebagai suri teladan—disebut-sebut ‘jauh melebihi angin yang berembus’ terutama pada bulan Ramadhan.
Ramadhan juga menjadi momentum menghangatkan bonding antaranggota keluarga. Sahur dan buka bersama, ngabuburit dengan tadarus atau war takjil, berbagi kudapan iftar, antusias mempersiapkan hamper Lebaran untuk sanak saudara, sahabat, dan kolega, serta membeli pakaian baru menjadi pernak-pernik menarik yang sayang untuk dilewatkan.
Sayangnya, di antara riuh rendah aktivitas manusia selama Ramadhan, bahaya ekologis tengah mengintai di depan mata.
Dilansir dari akun resmi Rekosistem (@rekosistem— perusahaan pengelolaan limbah) pada 4 Maret 2026, berdasarkan laporan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dan Badan Pusat Statistik (BPS), rerata produksi sampah harian selama Ramadhan mengalami peningkatan sekitar 5-20 persen dalam kurun tiga tahun terakhir.
Lebih lanjut, Rekosistem (2026) mengungkapkan empat jenis sampah yang kerap kali muncul di kala euforia menjalani Ramadhan, yaitu plastik kresek, kotak nasi, botol dan gelas kemasan, serta hamper Lebaran.
Fenomena meningkatnya sampah selama Ramadhan semakin mempertegas temuan nasional, di mana timbulan sampah mencapai lebih dari 25 juta ton per tahun dari 249 kabupaten/kota.
Empat sumber sampah paling dominan berasal dari rumah tangga (sebesar 56,47 persen), diikuti oleh sektor pasar (13,72 persen), perniagaan (7.61 persen), dan fasilitas publik (7,12 persen) (SIPSN Kementerian Lingkungan Hidup, 2026).
Sayangnya, persentase jumlah sampah terkelola hingga 2025 baru mencapai 34,27 persen, sementara sampah dengan kategori ‘terbuang ke lingkungan’ lebih unggul hingga hampir dua kali lipatnya (65,73 persen).
Di sisi lain, kasus longsornya gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, yang terjadi pada 8 Maret 2026, merupakan alarm nyata pertanda rapor merah pengelolaan sampah di Indonesia. Tragedi memilukan ini memakan tujuh korban meninggal dunia.
Petaka semacam ini ternyata bukan yang pertama kali terjadi. Pada 21 Februari 2005, gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Leuwigajah, Cimahi, ‘meledak’ dan longsor ke segala penjuru.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Sebanyak 157 orang diumumkan meninggal dunia; jumlah yang fantastis untuk kasus ‘sepele’—timbunan sampah—yang semestinya bisa ditangani lebih baik.
Citra Indonesia terkait sampah di kancah internasional juga cukup memalukan. Negara dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa ini (BPS, 2025) menempati peringkat kelima di dunia sebagai negara penghasil sampah terbanyak dan rangking ketiga pada kategori sampah laut tertinggi.
Bahkan, Indonesia dinobatkan sebagai ‘Juara 1’ se-Asia Tenggara terkait jumlah sampah makanan rumah tangga terbanyak (Food Waste Index Report UNEP, 2024).
Selain itu, Indeks Performa Lingkungan 2025 juga menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Indonesia berada di urutan ke-163 dari total 180 negara yang disurvei dengan skor hanya 33.6.
Adapun tiga indikator makro dalam asesmen performa ini adalah optimalisasi environmental health, proteksi ecosystem vitality, dan mitigasi climate change.
Ramadhan seyogianya menjadi wasilah untuk berbenah dan berkontemplasi perihal alam dan lingkungan. Esensi Ramadhan untuk ‘menahan nafsu’—bukan sekadar lapar dan dahaga semata—kini terasa subtil dan menjadi semakin kabur.
Alih-alih berhasil mengendalikan nafsu di bulan suci, rasa-rasanya banyak pelaku puasa yang malah mengumbar nafsu merusak bumi.
Misalnya, nafsu membeli takjil secara eksesif bermuara kepada food waste (limbah pangan) dan plastic waste (limbah plastik).
Nafsu membeli pakaian baru karena berburu diskon dan fast fashion berefek negatif berupa textile waste (limbah tekstil).
Ditambah, ajakan buka bersama (bukber) secara maraton—terlebih dengan skema all-you-can-eat—tanpa mengindahkan kapasitas konsumsi dapat meningkatkan volume sampah.
Demikian pula niat luhur berbagi kudapan berbuka atau hamper Lebaran yang tidak dibarengi dengan pengemasan ramah lingkungan juga bisa berakibat fatal bagi milieu sekitar.
Lunturnya mindfulness (kesadaran penuh), rendahnya environmental awareness (kesadaran lingkungan), dan lemahnya infrastruktur ramah lingkungan ditengarai menjadi beberapa alasan primer yang menyebabkan menjamurnya fenomena ‘berbagi dosa ekologis’ di saat Ramadhan.
Padahal, sejatinya Islam telah mengajarkan mindfulness, antimubazir, dan penyelamatan lingkungan.
Lebih mirisnya lagi, di antara segala kemubaziran yang tecermin dari perilaku konsumtif manusia—khususnya makanan—selama Ramadhan, tingkat kelaparan di Indonesia masih berada di posisi moderat dengan skor 14.6 atau peringkat ke-70 dari 123 negara (Global Hunger Index, 2025).
Dengan kata lain, ketika ada sekelompok manusia yang membuang-buang makanan, sekelompok lainnya tengah berjuang melawan kelaparan.
Berkaitan dengan dosa-dosa ekologis tersebut, Hadis Sahih Riwayat Malik (no. 1452; no. 1772 pada Daar Al Ma’rifah Libanon) mengutarakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang”.
Hadis ini merupakan nasihat penting untuk mengamalkan mindful eating sekaligus respons terhadap para emotional eater.
Riset Mindful Eating Study (2024) yang digagas oleh Health Collaborative Center (HCC) mengemukakan temuan mengejutkan: 5 dari 10 orang Indonesia menunjukkan perilaku emotional eating.
Bukan tidak mungkin manakala Ramadhan datang, perilaku ini mengalami lonjakan tinggi seiring datangnya godaan makanan dan minuman dari lingkungan dan media massa, terutama media sosial.
Ayat Al-Qur’an yang tertuang dalam Surat Al-Isra’ Ayat 27 secara terang benderang mewanti-wanti manusia untuk tidak berlaku boros.
Bahkan, Allah SWT mengasosiasikan para pemboros ini sebagai saudara setan—bukan sekadar teman.
Di bulan suci Ramadhan ini, para setan sebenarnya dibelenggu secara temporer oleh Allah SWT. (Hadis Sahih Muslim no. 1793; no. 1079 pada Syarh Sahih Muslim).
Namun, tanpa kehadiran setan, manusia ternyata sudah swamenjelma menjadi kepanjangan tangan mereka di dunia.
Sebagai khalifah di bumi, manusia diutus untuk menjaga lingkungan dengan sebaik-baiknya. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 56 yang berbunyi: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik…”.
Tanggung jawab ini memang tidak ringan, tapi bukan berarti tidak bisa dieksekusi. Perilaku-perilaku tidak terpuji yang berpotensi merusak lingkungan, termasuk selama Ramadhan, semestinya bisa direduksi kembali.
Setidaknya terdapat lima cara menebus dosa ekologis selama Ramadhan. Pertama, tanamkan dalam diri kita karakter mindful eating, antimubazir, dan cinta lingkungan sebagai pengejawantahan takwa.
Kedua, selalu bawa kantong belanja (totebag), tumbler, dan kotak makanan pada saat, misalnya, bukber, perang takjil, sahur on the road, atau iktikaf.
Mungkin pada awalnya akan terasa kurang praktis, tapi efek jangka panjangnya akan mewujud bombastis.
Ketiga, ketika berbagi, usahakan menggunakan kemasan dan peralatan ramah lingkungan dan hindari utilisasi plastik sekali pakai.
Namun, masalahnya, kemasan dan peralatan eco-friendly ini memang cenderung lebih mahal harganya. Bioplastik dari singkong, sendok edibel, dan berbagai produk hijau lainnya umumnya tidak terjangkau oleh kantong masyarakat menengah ke bawah.
Keempat, hendaknya setiap rumah tangga memiliki tempat sampah untuk jenis sampah yang berbeda-beda. Hal ini akan sangat membantu pengolahan dan pengelolaan sampah di tingkat lanjut.
Selain itu, pembuatan biopori untuk sampah organik di masing-masing rumah dan secara komunal di kawasan RT/RW patut dipertimbangkan.
Kelima, intervensi positif perlu dilakukan oleh pemerintah, baik dalam hal pembuatan kebijakan hijau (termasuk pemberlakuan sanksi dengan efek jera), mendorong akselerasi produk-produk ramah lingkungan (meliputi stimulasi pasar, pemberian subsidi/insentif), dan mengedukasi masyarakat secara formal, nonformal, dan informal.
Dan pada akhirnya, dosa ekologis wajib ditebus segera agar bumi tidak merintih nestapa. Atau, maukah kita menjadi saudara setan yang terkutuk selamanya di neraka?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang