KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya hari-hari istimewa di bulan Dzulhijjah.
Selain memperbanyak takbir, dzikir, dan amal saleh, banyak muslim juga menjalankan puasa sunnah Dzulhijjah, terutama puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Sebelum melaksanakan puasa maupun menjalankan ibadah lain seperti shalat, sebagian umat Islam memilih mandi keramas terlebih dahulu agar tubuh terasa lebih segar dan bersih.
Namun, tak sedikit pula yang bertanya, apakah ada mandi khusus sebelum puasa Idul Adha? Lalu bagaimana bacaan niat mandi puasa Idul Adha dan tata caranya menurut syariat Islam?
Pertanyaan ini cukup sering muncul, terutama karena banyak orang mengira puasa sunnah Dzulhijjah mengharuskan mandi wajib sebagaimana sebelum melaksanakan ibadah tertentu.
Lantas, bagaimana sebenarnya penjelasan ulama mengenai mandi sebelum puasa Idul Adha?
Baca juga: Puasa Arafah 2026 Kapan? Ini Jadwal, Niat, dan Keutamaannya
Pada dasarnya, puasa tidak mensyaratkan seseorang dalam keadaan suci dari hadas besar. Artinya, seseorang tetap sah menjalankan puasa meskipun belum mandi wajib, selama ia telah berniat puasa sebelum waktu Subuh.
Namun demikian, apabila seseorang berada dalam keadaan junub, haid yang telah selesai, atau nifas yang sudah berhenti, maka ia wajib mandi besar sebelum melaksanakan shalat wajib.
Oleh karena itu, mandi sebelum puasa Idul Adha sebenarnya bukan karena puasanya, melainkan untuk menghilangkan hadas besar agar dapat melaksanakan ibadah lain seperti shalat dalam keadaan suci.
Hal ini dijelaskan dalam buku Tuntunan Lengkap Shalat Wajib, Sunnah, Doa, dan Zikir karya Zakaria R. Rachman.
Dalam buku tersebut disebutkan bahwa mandi wajib merupakan bentuk thaharah atau bersuci dengan cara mengalirkan air ke seluruh tubuh disertai niat untuk menghilangkan hadas besar.
Baca juga: Doa Masuk & Keluar Kamar Mandi Lengkap Arab, Latin, Arti & Adab Sunnah
Perintah mandi wajib dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 6:
“Dan jika kamu junub maka mandilah...” (QS Al-Maidah: 6)
Ayat tersebut menjadi dasar utama kewajiban mandi bagi orang yang mengalami hadas besar.
Dalam tafsir para ulama, mandi wajib bukan sekadar membersihkan tubuh secara fisik, tetapi juga menjadi bagian dari penyucian diri sebelum menghadap Allah SWT dalam ibadah.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa mandi wajib termasuk syarat sah untuk melaksanakan shalat ketika seseorang berada dalam keadaan junub.
Karena tidak ada mandi khusus yang secara spesifik disyariatkan hanya untuk puasa Dzulhijjah atau puasa Arafah, maka niat mandi yang dibaca adalah niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar.
Dikutip dari buku Kitab Lengkap dan Praktis Fiqh Wanita karya Abdul Syukur Al-Azizi, berikut bacaan niat mandi wajib:
نَوَيْتُ الغُسْلَ لِرَفْعِ الحَدَثِ الْأَكْبَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhan lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta’ala.”
Niat tersebut dibaca dalam hati ketika mulai mengguyurkan air ke tubuh.
Baca juga: Hanya Puasa Arafah Saja, Apakah Tetap Dapat Pahala Dzulhijjah?
Tata cara mandi wajib telah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Penjelasan mengenai hal tersebut terdapat dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA.
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memulai mandi junub dengan mencuci kedua tangan, membersihkan kemaluan, berwudhu, lalu mengguyurkan air ke kepala dan seluruh tubuh.
Berdasarkan hadis tersebut, berikut tata cara mandi wajib yang benar:
Niat dilakukan bersamaan ketika mulai menyiramkan air ke tubuh.
Basuh kedua tangan hingga pergelangan sebanyak tiga kali untuk memastikan kebersihannya.
Membersihkan area kemaluan dan bagian tubuh lain yang terkena najis menggunakan tangan kiri.
Berwudhu dilakukan sebagaimana wudhu untuk shalat, dimulai dari membasuh wajah hingga kedua kaki.
Dalam beberapa riwayat, membasuh kaki dilakukan di akhir mandi.
Masukkan jari-jari ke sela rambut agar air benar-benar sampai ke kulit kepala.
Siram kepala sebanyak tiga kali hingga seluruh bagian kepala terkena air.
Pastikan seluruh tubuh terkena air tanpa ada bagian yang terlewat, termasuk lipatan tubuh.
Dalam buku Fiqih Islam wa Adillatuhu karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa syarat utama mandi wajib adalah air harus mengalir ke seluruh permukaan tubuh.
Keramas atau mencuci rambut termasuk bagian dari mandi wajib apabila dilakukan dengan memastikan air mengenai seluruh rambut dan kulit kepala.
Bagi perempuan yang rambutnya dikepang, para ulama menjelaskan bahwa kepangan tidak wajib dibuka selama air tetap dapat mencapai pangkal rambut.
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim ketika Ummu Salamah RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang perempuan yang rambutnya dikepang saat mandi junub.
Baca juga: Puasa Dzulhijjah Sampai Kapan? Ini Batas Waktu dan Jadwal Lengkapnya
Dalam fikih Islam, terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang wajib mandi besar.
Mengutip buku Fiqih susunan Udin Wahyudin dan sejumlah literatur fikih lainnya, berikut penyebab mandi wajib:
Baik karena mimpi, hubungan suami istri, maupun sebab lainnya.
Meskipun tidak keluar mani, mandi wajib tetap diwajibkan.
Perempuan wajib mandi setelah darah haid berhenti.
Mandi wajib dilakukan setelah masa nifas selesai.
Jenazah muslim wajib dimandikan kecuali syahid.
Seseorang boleh berpuasa setelah dalam keadaan junub. Seseorang tetap sah berpuasa meskipun masih dalam keadaan junub hingga masuk waktu Subuh, selama ia telah berniat puasa pada malam harinya.
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA dan Ummu Salamah RA yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah memasuki waktu Subuh dalam keadaan junub, kemudian mandi dan tetap melanjutkan puasanya.
Oleh karena itu, mandi wajib tidak menjadi syarat sah puasa, melainkan syarat sah untuk melaksanakan shalat.
Islam sangat menekankan pentingnya kebersihan, baik lahir maupun batin. Bersuci menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang muslim karena berkaitan langsung dengan ibadah sehari-hari.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
Oleh karena itu, mandi sebelum menjalankan puasa sunnah Dzulhijjah juga dapat menjadi bentuk persiapan spiritual agar ibadah dilakukan dengan lebih nyaman, khusyuk, dan penuh semangat.
Berikut jadwal puasa sunnah Dzulhijjah 1447 H:
Menjelang Idul Adha, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, mulai dari puasa sunnah, membaca takbir, bersedekah, hingga memperbanyak dzikir.
Mandi wajib sebelum puasa bukanlah kewajiban khusus puasa Dzulhijjah. Namun bagi muslim yang memiliki hadas besar, mandi menjadi bentuk penyucian diri sebelum melaksanakan shalat dan ibadah lainnya.
Dengan memahami niat dan tata cara mandi wajib yang benar sesuai syariat, umat Islam dapat menjalankan ibadah di bulan Dzulhijjah dengan lebih tenang, bersih, dan penuh kekhusyukan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang