KOMPAS.com – Menjelang puncak musim haji 1447 Hijriah, perhatian umat Islam mulai tertuju pada satu momen istimewa yang datang hanya sekali dalam setahun, Puasa Arafah.
Ibadah sunah ini tidak sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari rangkaian spiritual yang berpuncak pada Hari Raya Idul Adha.
Lantas, kapan tepatnya Puasa Arafah 2026 dilaksanakan? Bagaimana jadwal lengkapnya, dan apa saja keutamaannya menurut dalil serta literatur klasik Islam?
Berikut ulasan lengkapnya.
Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah yang dirujuk dari Kementerian Agama RI serta metode hisab (astronomi), awal bulan Dzulhijjah 1447 H diperkirakan jatuh pada:
Dengan demikian, maka:
Tanggal tersebut masih bersifat estimasi karena pemerintah akan menetapkan secara resmi melalui sidang isbat, yang mengombinasikan metode hisab dan rukyat (pengamatan hilal).
Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Susiknan Azhari dijelaskan bahwa penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia bersifat dinamis karena mempertimbangkan aspek astronomis sekaligus observasi langsung, sehingga pengumuman final biasanya dilakukan mendekati hari pelaksanaan.
Baca juga: Niat Puasa Senin Kamis, Doa Berbuka, dan Keutamaan Menurut Hadits
Agar tidak melewatkan momentum penting, berikut rangkaian waktu yang perlu dicatat:
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah disebut sebagai hari-hari terbaik untuk beramal. Hal ini ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Puasa Arafah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Keutamaan ini menjadikan Puasa Arafah sebagai salah satu ibadah sunah paling dianjurkan (sunah muakkadah), khususnya bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa hari Arafah adalah momentum pengampunan dosa secara luas, di mana Allah membuka pintu rahmat-Nya bagi hamba yang bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Sementara itu, dalam Fiqh al-Ibadat karya Yusuf al-Qaradawi, disebutkan bahwa Puasa Arafah bukan hanya ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi bentuk latihan spiritual untuk mengendalikan diri sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.
Baca juga: Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Puasa Arafah memiliki dimensi simbolik yang kuat karena berlangsung bersamaan dengan prosesi wukuf yang dijalani jemaah haji di Padang Arafah.
Wukuf merupakan puncak ibadah haji. Pada saat itulah jutaan jemaah berkumpul, berdoa, dan memohon ampunan.
Bagi umat Islam yang tidak berhaji, Puasa Arafah menjadi cara untuk “hadir secara spiritual” dalam momentum tersebut.
Menurut Prof. M. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an, Arafah melambangkan kesadaran manusia akan jati dirinya sebagai hamba, sementara puasa menjadi sarana untuk membersihkan hati agar lebih peka terhadap nilai ketakwaan.
Bagi yang ingin melaksanakan ibadah ini, berikut bacaan niatnya:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ‘Arafata sunnatan lillāhi ta‘ālā
Artinya: Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah Ta’ala.
Niat dapat dibaca sejak malam hari hingga sebelum waktu zuhur selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Baca juga: Idul Adha 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Hitung Mundur dan Long Weekend
Selain berpuasa, terdapat beberapa amalan lain yang dianjurkan untuk memperkuat nilai ibadah di hari tersebut:
Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menekankan pentingnya menghidupkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah dengan amal saleh karena nilainya lebih utama dibanding hari-hari biasa.
Puasa Arafah tidak hanya menawarkan pahala besar, tetapi juga mengandung makna reflektif.
Ia mengajarkan:
Dalam perspektif tasawuf, hari Arafah sering dimaknai sebagai “hari perjumpaan batin”, di mana manusia diajak mengenali dirinya sekaligus mendekat kepada Tuhan.
Puasa Arafah menjadi gerbang menuju Idul Adha. Ia bukan hanya penutup dari rangkaian ibadah Dzulhijjah, tetapi juga puncak penyucian diri sebelum memasuki hari raya kurban.
Dengan memahami jadwal, keutamaan, serta makna spiritualnya, Puasa Arafah tidak lagi sekadar ibadah sunah, tetapi berubah menjadi pengalaman religius yang mendalam.
Dan mungkin, di situlah letak keistimewaannya, bukan hanya pada pahala yang dijanjikan, tetapi pada perubahan diri yang dihadirkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang