BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, manusia sering kali larut dalam berbagai urusan dunia. Mengejar harta, jabatan, popularitas, dan berbagai kesenangan seakan menjadi tujuan utama hidup.
Tidak sedikit yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan prinsip demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Padahal, Allah SWT telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara.
Allah SWT berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ.
"Dan tidaklah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya." (QS Al-An'am: 32)
Baca juga: Unik, Alquran Kuningan Abad 18 Jadi Koleksi Museum di Makkah
Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir yang mengingkari adanya kehidupan setelah kematian. Mereka meyakini bahwa kehidupan hanya berhenti di dunia. Allah SWT mengabadikan ucapan mereka dalam firman-Nya:
وَقَالُوا اِنْ هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوْثِيْنَۖ ٢٩
"Mereka berkata: 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.'"
(QS Al-An'am: 29)
Melalui ayat tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa anggapan itu adalah kesalahan besar. Dunia yang selama ini dibanggakan ternyata hanyalah permainan dan senda gurau.
"Bukan berarti manusia dilarang bekerja, mencari nafkah, atau menikmati nikmat yang halal. Namun, dunia tidak boleh menjadi tujuan akhir yang membuat seseorang lupa kepada Allah dan lalai mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal," kata Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin.
Betapa banyak manusia yang tertipu oleh gemerlap dunia. Mereka merasa memiliki waktu yang panjang, seolah kematian masih jauh dari jangkauan.
Padahal, setiap hari manusia menyaksikan kematian, musibah, dan berbagai peristiwa yang menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan ini. Semua itu menjadi pengingat bahwa tidak ada yang abadi selain Allah SWT.
Karena itu, Allah SWT melanjutkan firman-Nya:
"Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa."
Baca juga: Muchlis M Hanafi Wakili Indonesia di Forum Internasional Pentashihan Mushaf Alquran Irak
Akhirat disebut lebih baik karena kenikmatannya tidak pernah berakhir. Berbeda dengan dunia yang fana dan sementara, kebahagiaan di akhirat bersifat kekal. Namun, keutamaan itu diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.
"Lalu, siapakah orang-orang yang bertakwa?
Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah SWT sehingga berusaha menaati segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta senantiasa mencari ridha-Nya dalam setiap langkah kehidupan," terangnya.
Takwa bukan sekadar ucapan, tetapi tercermin dalam amal saleh, kejujuran, kesabaran, dan kesungguhan menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.
Ayat ini ditutup dengan pertanyaan yang menggugah kesadaran:
"Maka tidakkah kamu memahaminya?"
Yang kemudian teguran agar manusia menggunakan akalnya. Orang yang berpikir jernih tentu akan menyadari bahwa dunia bukan tempat tinggal selamanya. Ia hanyalah ladang untuk menanam amal. Apa yang ditanam hari ini, itulah yang akan dipanen di akhirat kelak.
Baca juga: Kenapa Isra Miraj Dilakukan Malam Hari? Ini Penjelasan Alquran
Seorang yang cerdas bukanlah semata-mata mereka yang berhasil mengumpulkan kekayaan atau mencapai kedudukan tinggi. Orang yang benar-benar cerdas adalah mereka yang mampu menempatkan dunia di tangannya, bukan di hatinya.
Ia memanfaatkan dunia sebagai sarana untuk mendekat kepada Allah SWT dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang abadi.
Pada akhirnya, dunia memang akan ditinggalkan. Harta, jabatan, dan segala kebanggaan tidak akan ikut menyertai ke liang lahat. Yang tersisa hanyalah amal perbuatan.
"Dunia menipu dan sementara. Akhirat benar dan kekal. Orang cerdas akan memilih takwa: hidup untuk Allah, bukan diperbudak dunia," pesannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang