Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hidup Sezaman Nabi Muhammad, Ratu Shima Viral hingga Jazirah Arab

Kompas.com, 12 Juni 2026, 12:58 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ketika membicarakan sejarah Islam, banyak orang mengira Jazirah Arab dan Nusantara berada dalam dua dunia yang sama sekali berbeda pada abad ke-7 Masehi.

Padahal, pada masa yang sama ketika Nabi Muhammad SAW menyebarkan ajaran Islam di Makkah dan Madinah, di wilayah yang kini menjadi Indonesia juga hidup seorang tokoh perempuan yang namanya begitu terkenal.

Sosok itu adalah Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga yang dikenal karena ketegasan, kejujuran, dan keberaniannya dalam menegakkan hukum.

Kemasyhurannya bahkan disebut-sebut sampai terdengar ke Jazirah Arab, membuat seorang raja Arab penasaran dan ingin membuktikan sendiri kabar yang beredar tentang kerajaan yang dipimpinnya.

Kisah Ratu Shima menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah Nusantara. Bukan hanya karena ia seorang perempuan yang berhasil memimpin kerajaan besar, tetapi juga karena prinsip keadilan yang diterapkannya membuat namanya dikenang hingga berabad-abad kemudian.

Hidup Sezaman dengan Nabi Muhammad SAW

Menurut sejumlah sumber sejarah, Ratu Shima lahir sekitar tahun 611 Masehi. Tahun kelahirannya hampir bersamaan dengan masa awal kehidupan Nabi Muhammad SAW yang lahir pada sekitar 570 M.

Artinya, ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama pada tahun 610 M dan memulai dakwah Islam, di Nusantara juga hidup seorang perempuan yang kelak dikenal sebagai pemimpin besar Kerajaan Kalingga.

Dalam buku Sandyakala: Kejayaan dan Kemasyhuran Kerajaan Nusantara karya Joko Darmawan dan Rita Wigira Astuti dijelaskan bahwa beberapa literatur Belanda, termasuk kajian Frederik David Kan Bosch dalam Crivijaya de Cailendra-en de Sanjayavamsa, menyebut Ratu Shima memiliki hubungan dengan Dinasti Syailendra yang berkembang di kawasan Sumatera dan Jawa.

Meski sejumlah detail silsilahnya masih menjadi bahan kajian para sejarawan, hampir semua sumber sepakat bahwa Ratu Shima merupakan tokoh penting yang membawa Kerajaan Kalingga mencapai masa kejayaannya.

Baca juga: Ziarah ke Taif, Menelusuri Jejak Dakwah Rasulullah di Masjid Abdullah bin Abbas

Kerajaan Kalingga di Pesisir Utara Jawa

Kerajaan Kalingga, yang juga dikenal dengan nama Holing atau Keling, merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang di pesisir utara Pulau Jawa.

Berdasarkan berbagai catatan sejarah China, kerajaan ini diperkirakan berada di wilayah yang kini termasuk Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Dalam buku Cerita Rakyat di Jepara karya Vanessa Almayra dan Erna Zumrotun dijelaskan bahwa Kalingga menjadi pusat perdagangan penting karena letaknya strategis di jalur pelayaran internasional yang menghubungkan India, China, dan kawasan Asia Tenggara.

Posisi tersebut membuat Kalingga dikenal oleh banyak bangsa asing. Kapal-kapal dagang dari berbagai wilayah datang untuk melakukan aktivitas perdagangan sekaligus membawa kabar tentang kerajaan tersebut ke berbagai penjuru dunia.

Di tengah aktivitas perdagangan yang ramai itu, muncul satu hal yang membuat Kalingga berbeda dibanding kerajaan lain pada zamannya, yaitu tingkat kejujuran masyarakatnya yang sangat tinggi.

Pemimpin yang Menjadikan Kejujuran sebagai Fondasi Negara

Setelah wafatnya sang suami, Prabu Kartikeyasingha, Ratu Shima naik takhta dan memimpin kerajaan sekitar tahun 674 hingga 695 Masehi.

Ia kemudian dikenal sebagai pemimpin yang sangat disiplin dalam menegakkan aturan.

Ratu Shima menerapkan sistem pemerintahan yang menempatkan kejujuran sebagai prinsip utama kehidupan masyarakat.

Segala bentuk pencurian, penipuan, dan pelanggaran hukum mendapat hukuman tegas tanpa memandang status sosial pelakunya.

Kebijakan tersebut berhasil membentuk budaya masyarakat yang menjunjung tinggi integritas.

Sejumlah catatan dari Dinasti Tang di China menyebut bahwa hukum di Kerajaan Holing diterapkan secara ketat. Siapa pun yang melakukan kejahatan akan menerima hukuman sesuai kesalahannya.

Karena itulah, nama Ratu Shima mulai dikenal luas oleh para pedagang dan pelaut asing yang singgah di Nusantara.

Baca juga: Rutin Dibaca Rasulullah, Ini 10 Surat Pendek untuk Shalat

Ketika Raja Arab Ingin Menguji Kebenaran Kabar Itu

Kisah paling terkenal tentang Ratu Shima tercatat dalam berbagai buku sejarah populer, salah satunya Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara karya Deni Prasetyo.

Diceritakan bahwa kabar mengenai kejujuran masyarakat Kalingga sampai ke telinga seorang penguasa Arab yang dalam catatan kuno disebut berasal dari Ta-Shih.

Istilah Ta-Shih sendiri sering digunakan sumber-sumber China kuno untuk merujuk kepada bangsa Arab.

Sang raja merasa penasaran. Apakah benar ada sebuah kerajaan yang penduduknya sedemikian jujur sehingga tidak tergoda mengambil barang berharga yang bukan miliknya?

Untuk membuktikannya, ia mengirim sebuah pundi-pundi berisi emas dan meletakkannya di persimpangan jalan yang ramai dilalui masyarakat.

Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan berganti. Bahkan hingga bertahun-tahun kemudian, tidak ada seorang pun yang berani menyentuh emas tersebut.

Pundi-pundi itu tetap berada di tempatnya. Tidak dicuri. Tidak dipindahkan. Tidak pula diambil oleh siapa pun.

Kesalahan Putra Mahkota yang Menggemparkan Kerajaan

Peristiwa mengejutkan terjadi setelah tiga tahun berlalu.

Suatu hari, putra mahkota Kerajaan Kalingga tanpa sengaja menyentuh pundi-pundi emas tersebut dengan kakinya saat melintas.

Kabar itu segera sampai kepada Ratu Shima.

Sebagai penguasa yang sangat menjunjung hukum, Ratu Shima menilai tindakan tersebut tetap merupakan pelanggaran terhadap aturan kerajaan, meskipun dilakukan tanpa sengaja.

Ia kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada putranya sendiri. Keputusan itu membuat para pejabat kerajaan terkejut.

Para menteri lalu memohon agar hukuman tersebut diringankan karena sang putra mahkota tidak berniat mengambil emas tersebut.

Setelah mempertimbangkan berbagai masukan, Ratu Shima akhirnya mengubah keputusan. Bagian tubuh yang dianggap melakukan kesalahan adalah kaki yang menyentuh pundi-pundi emas itu.

Karena itu, hukuman dijatuhkan pada jari kaki sang putra mahkota.

Kisah tersebut kemudian menjadi simbol bahwa hukum di Kalingga berlaku untuk semua orang tanpa pengecualian, termasuk keluarga kerajaan sendiri.

Baca juga: Apa yang Ditakdirkan untukmu Tak Akan Tertukar, Ini Penjelasan Rasulullah SAW

Mengapa Kisah Ini Terus Dikenang?

Para sejarawan menilai bahwa kisah Ratu Shima bukan sekadar cerita tentang hukuman.

Lebih dari itu, kisah tersebut menggambarkan pentingnya integritas dalam pemerintahan.

Dalam banyak peradaban kuno, hukum sering kali berlaku berbeda antara rakyat biasa dan keluarga penguasa.

Namun dalam cerita Ratu Shima, justru keluarga kerajaan yang menjadi contoh bahwa aturan harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

Nilai inilah yang membuat nama Ratu Shima terus dikenang hingga sekarang.

Ia tidak hanya dianggap sebagai pemimpin perempuan yang kuat, tetapi juga simbol keadilan, keberanian, dan keteguhan moral.

Pelajaran yang Masih Relevan hingga Kini

Di era modern, ketika isu korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran hukum masih menjadi tantangan di berbagai negara, kisah Ratu Shima kembali mendapat perhatian.

Kejujuran yang menjadi fondasi Kerajaan Kalingga menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau militer, tetapi juga oleh karakter masyarakat dan pemimpinnya.

Karena itu, meski hidup lebih dari 1.300 tahun lalu dan sezaman dengan Nabi Muhammad SAW, nama Ratu Shima tetap relevan untuk dibicarakan.

Ia menjadi bukti bahwa Nusantara sejak dahulu telah melahirkan tokoh-tokoh besar yang dihormati bukan hanya karena kekuasaan, tetapi juga karena nilai-nilai moral yang mereka perjuangkan.

Tak heran jika kisahnya terus hidup dalam berbagai catatan sejarah, cerita rakyat, hingga penelitian akademik.

Dari pesisir utara Jawa, nama Ratu Shima pernah melintasi lautan, menembus jalur perdagangan internasional, dan membuat dunia Arab penasaran terhadap sebuah kerajaan yang menjadikan kejujuran sebagai kehormatan tertinggi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
10 Doa agar Terhindar dari Fitnah Akhir Zaman dan Dajjal
10 Doa agar Terhindar dari Fitnah Akhir Zaman dan Dajjal
Doa dan Niat
6 Tradisi Tahun Baru Islam di Berbagai Negara, dari Indonesia hingga Mesir
6 Tradisi Tahun Baru Islam di Berbagai Negara, dari Indonesia hingga Mesir
Aktual
Surah Al Mulk, Amalan Malam yang Disebut Menyelamatkan dari Azab Kubur
Surah Al Mulk, Amalan Malam yang Disebut Menyelamatkan dari Azab Kubur
Doa dan Niat
Hidup Sezaman Nabi Muhammad, Ratu Shima Viral hingga Jazirah Arab
Hidup Sezaman Nabi Muhammad, Ratu Shima Viral hingga Jazirah Arab
Aktual
Sejarah Kota Mekkah, Tempat Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Pusat Peradaban Islam
Sejarah Kota Mekkah, Tempat Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Pusat Peradaban Islam
Aktual
Surah Al Ikhlas Hanya 4 Ayat, Mengapa Setara Sepertiga Al-Qur'an?
Surah Al Ikhlas Hanya 4 Ayat, Mengapa Setara Sepertiga Al-Qur'an?
Doa dan Niat
7 Amalan Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H, Dari Muhasabah hingga Puasa Muharram
7 Amalan Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H, Dari Muhasabah hingga Puasa Muharram
Aktual
7 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, dari Pawai Obor hingga Tabuik
7 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, dari Pawai Obor hingga Tabuik
Aktual
Puasa Muharram 2026 Berapa Hari? Ini Jadwal Lengkap, Niat, dan Keutamaannya
Puasa Muharram 2026 Berapa Hari? Ini Jadwal Lengkap, Niat, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Jadikan Muharram Momentum Hijrah Spiritual
Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Jadikan Muharram Momentum Hijrah Spiritual
Aktual
Tahun Baru Islam 2026 Tanggal Berapa? Cek Tanggal dan Jadwal Liburnya
Tahun Baru Islam 2026 Tanggal Berapa? Cek Tanggal dan Jadwal Liburnya
Aktual
Kemenhaj Bagikan 4 Tips Terhindar dari Badal Haji Fiktif
Kemenhaj Bagikan 4 Tips Terhindar dari Badal Haji Fiktif
Aktual
Arab Saudi Buka Wisata Safari Satwa Liar, 10.000 Hewan Dilepas ke Alam
Arab Saudi Buka Wisata Safari Satwa Liar, 10.000 Hewan Dilepas ke Alam
Aktual
Kemenag Gelar Nikah Massal Sambut 1 Muharam 1448 H, Peserta Dapat Modal Usaha
Kemenag Gelar Nikah Massal Sambut 1 Muharam 1448 H, Peserta Dapat Modal Usaha
Aktual
Arab Saudi dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pariwisata, Jamaah Haji-Umrah Bakal Diajak Jelajahi Destinasi Selain Makkah-Madinah
Arab Saudi dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pariwisata, Jamaah Haji-Umrah Bakal Diajak Jelajahi Destinasi Selain Makkah-Madinah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com