KOMPAS.com – Setelah memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan saleh sebagai bentuk syukur sekaligus ikhtiar memperbaiki diri di awal tahun. Salah satu ibadah yang memiliki keutamaan besar pada bulan Muharram adalah puasa sunnah.
Tak sedikit umat Muslim yang mulai mencari informasi mengenai jadwal puasa Muharram 2026.
Pertanyaan seperti "Puasa Muharram berapa hari?", "Kapan puasa Tasua dan Asyura?", hingga "Bagaimana bacaan niatnya?" menjadi pencarian yang banyak dilakukan menjelang datangnya bulan Muharram.
Bulan Muharram sendiri bukan bulan biasa dalam kalender Islam. Ia termasuk salah satu dari empat bulan suci yang dimuliakan Allah SWT.
Karena itu, berbagai amalan kebaikan yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai tersendiri, termasuk ibadah puasa sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menyebut adanya empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram."
Keistimewaan Muharram juga ditegaskan dalam berbagai hadis Nabi SAW. Bahkan Rasulullah menyebut Muharram sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah, sebuah penyebutan yang menunjukkan kemuliaan dan kedudukannya yang istimewa dibanding bulan lainnya.
Dalam buku Ternyata Shalat dan Puasa Sunah Dapat Mempercepat Kesuksesan karya Ceceng Salamudin, M.Ag., dijelaskan bahwa puasa Muharram merupakan puasa sunnah yang sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan yang besar setelah puasa Ramadan.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Sedangkan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam." (HR Muslim)
Hadis ini menjadi dasar utama mengapa banyak ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak puasa pada bulan Muharram.
Baca juga: Hukum Menikah Bulan Muharram, Boleh atau Dilarang? Ini Penjelasan Islam
Pada dasarnya, puasa sunnah di bulan Muharram tidak dibatasi hanya dua hari. Seorang Muslim diperbolehkan berpuasa lebih banyak sepanjang bulan Muharram sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Namun, terdapat dua hari yang secara khusus dianjurkan dan memiliki keutamaan yang paling masyhur, yaitu:
Puasa Tasua dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram.
Para ulama menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan puasa ini sebagai bentuk pembeda dari tradisi kaum Yahudi yang pada saat itu hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.
Inilah puasa sunnah yang paling terkenal di bulan Muharram karena memiliki keutamaan luar biasa.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu."
Karena itu, mayoritas umat Islam melaksanakan puasa Tasua dan Asyura secara berurutan selama dua hari.
Sebagian ulama bahkan menganjurkan menambah puasa pada tanggal 11 Muharram agar lebih sempurna dalam menyelisihi tradisi kaum Yahudi sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kitab fikih klasik.
Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia, awal Muharram 1448 H diperkirakan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.
Berikut jadwal puasa Muharram 2026:
Jadwal tersebut mengacu pada kalender resmi yang digunakan pemerintah dan dapat menjadi pedoman bagi umat Islam dalam mempersiapkan ibadah puasa Muharram tahun ini.
Baca juga: Bolehkah Qadha Puasa Ramadhan Saat Tasua dan Asyura? Ini Hukumnya
Dalam buku Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa puasa Asyura memiliki sejarah panjang dalam tradisi Islam.
Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.
Melihat hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti Nabi Musa AS. Karena itu beliau berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkannya kepada para sahabat.
Setelah puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura berubah status menjadi sunnah, tetapi keutamaannya tetap sangat besar hingga sekarang.
Sebelum melaksanakan puasa, umat Islam dianjurkan membaca niat sebagai bentuk kesungguhan hati dalam beribadah.
نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shaumal Muharrami lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Aku berniat puasa Muharram karena Allah Ta'ala."
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَّاسُوعَاءِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i sunnatit Tāsū'ā lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Tasua esok hari karena Allah Ta'ala."
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma 'Āsyūrā'a sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Aku berniat puasa Asyura sunnah karena Allah Ta'ala."
Baca juga: 12 Amalan di Bulan Muharram, dari Puasa Asyura hingga Sedekah Anak Yatim
Selain menjadi sarana meraih pahala, puasa Muharram mengandung banyak hikmah yang relevan dengan kehidupan modern.
Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa ibadah puasa mampu melatih kesabaran, keikhlasan, serta pengendalian diri dari berbagai hal yang dapat menjauhkan manusia dari kebaikan.
Awal tahun Hijriah juga sering dimaknai sebagai momentum hijrah. Bukan hanya berpindah tempat sebagaimana hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga berpindah dari kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, banyak ulama memandang puasa Muharram sebagai salah satu amalan terbaik untuk mengawali tahun baru Islam dengan semangat pembaruan diri dan peningkatan kualitas ibadah.
Datangnya Muharram 1448 Hijriah menjadi kesempatan berharga bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh.
Di antara amalan yang paling dianjurkan adalah puasa Tasua pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram yang tahun ini diperkirakan jatuh pada 24 dan 25 Juni 2026.
Selain menjalankan sunnah Rasulullah SAW, puasa tersebut menjadi sarana memperkuat ketakwaan, memperbanyak muhasabah, serta memohon ampunan kepada Allah SWT atas berbagai kekurangan di masa lalu.
Dengan demikian, awal tahun Hijriah tidak hanya menjadi pergantian angka dalam kalender, tetapi juga momentum memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang