KOMPAS.com – Dalam sejarah peradaban manusia, bangkit dan runtuhnya sebuah bangsa sering kali berkaitan erat dengan kualitas pemimpinnya.
Ketika kekuasaan dijalankan dengan adil, masyarakat dapat hidup dalam ketenteraman, hukum ditegakkan, dan kesejahteraan lebih mudah dirasakan.
Sebaliknya, ketika kekuasaan berubah menjadi alat untuk menindas, korupsi merajalela, dan keadilan dipinggirkan, maka benih-benih kerusakan mulai tumbuh di tengah kehidupan berbangsa.
Fenomena ini bukan hanya tercatat dalam buku-buku sejarah, tetapi juga menjadi pelajaran yang berulang dalam perjalanan umat manusia.
Banyak negeri yang awalnya kuat dan makmur akhirnya mengalami kemunduran akibat kepemimpinan yang tidak amanah.
Baca juga: Ancaman bagi Pemimpin Zalim dalam Islam
Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap persoalan kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab di hadapan rakyat, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas setiap kebijakan dan keputusan yang diambilnya.
Di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi suatu bangsa, umat Islam dianjurkan untuk tidak hanya mengeluh atau mengkritik.
Ada satu ikhtiar yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu berdoa agar Allah melindungi negeri dari pemimpin yang zalim dan menganugerahkan pemimpin yang adil, amanah, serta berpihak kepada kemaslahatan rakyat.
Islam memandang jabatan bukan sebagai kehormatan semata, melainkan amanah yang sangat berat.
Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kepemimpinan akan menjadi sebab keselamatan atau justru penyesalan pada hari kiamat.
Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat. Seorang kepala negara, gubernur, bupati, hingga pemimpin dalam lingkup keluarga akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diembannya.
Dalam kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyyah karya Al-Mawardi dijelaskan bahwa tugas utama pemimpin adalah menjaga agama, menegakkan keadilan, melindungi rakyat, dan mengelola urusan publik demi kemaslahatan bersama.
Ketika fungsi-fungsi tersebut tidak dijalankan, maka lahirlah berbagai bentuk kezaliman yang dapat merugikan masyarakat luas.
Baca juga: 5 Doa Nabi Yusuf agar Wajah Bercahaya dan Dijaga dari Fitnah
Kezaliman tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan atau penindasan yang tampak jelas. Dalam perspektif Islam, kezaliman juga bisa berupa penyalahgunaan kekuasaan, pengabaian hak rakyat, ketidakadilan hukum, korupsi, serta kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Dalam kitab Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa salah satu penyebab runtuhnya peradaban adalah ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa. Ketika keadilan hilang, kepercayaan masyarakat melemah, ekonomi terganggu, dan stabilitas sosial mulai rapuh.
Allah SWT juga mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa kezaliman akan membawa kerugian.
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
Wa lā taḥsabannallāha ghāfilan 'ammā ya'maluẓ-ẓālimūn.
Artinya: "Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim." (QS. Ibrahim: 42)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada kezaliman yang luput dari pengawasan Allah SWT.
Salah satu doa yang dapat dipanjatkan untuk memohon perlindungan dari kepemimpinan yang buruk adalah:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ وُلَاةِ الْجَوْرِ وَسُوءِ الْأَئِمَّةِ، وَنَسْأَلُكَ وُلَاةَ عَدْلٍ رُحَمَاءَ يَهْدُونَا بِالْحَقِّ وَيَحْكُمُونَا بِالْعَدْلِ
Allahumma innā na'ūdzu bika min wulātil-jauri wa sū'il-a'immati, wa nas'aluka wulāta 'adlin ruḥamā'a yahdūnanā bil-haqqi wa yaḥkumūnanā bil-'adl.
Artinya: "Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari para penguasa yang zalim dan pemimpin yang buruk. Kami memohon kepada-Mu pemimpin yang adil dan penuh kasih sayang, yang membimbing kami dengan kebenaran dan memimpin kami dengan keadilan."
Doa ini berisi dua harapan besar sekaligus. Pertama, perlindungan dari kepemimpinan yang membawa kerusakan.
Kedua, permohonan agar Allah menghadirkan pemimpin yang mampu menegakkan keadilan dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat.
Baca juga: Doa Kafaratul Majelis Lengkap Arab, Latin, dan Arti serta Keutamaannya
Rasulullah SAW pernah mengajarkan doa yang sangat relevan terkait kepemimpinan.
اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ
Allahumma man waliya min amri ummatī syai'an fasyaqqa 'alaihim fasyquq 'alaihi, wa man waliya min amri ummatī syai'an farafaqa bihim farfuq bih.
Artinya: "Ya Allah, siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia menyulitkan mereka, maka persulitlah urusannya. Dan siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia berlaku lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan kelembutan-Mu." (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang menyulitkan masyarakat mendapat peringatan keras, sementara pemimpin yang melayani dengan kasih sayang mendapat doa langsung dari Rasulullah SAW.
Walaupun Al-Qur'an tidak memuat doa khusus yang menyebut pemimpin secara eksplisit, terdapat doa yang dapat dipanjatkan untuk memohon hadirnya orang-orang saleh yang membawa kebaikan bagi masyarakat.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a'yunin waj'alnā lil-muttaqīna imāmā.
Artinya: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)
Ayat ini mengandung harapan agar lahir generasi pemimpin yang bertakwa dan mampu menjadi teladan dalam masyarakat.
Baca juga: Doa Akhir Tahun 1447 H Lengkap Arab, Latin, Arti dan Waktu Membacanya
Islam mengajarkan keseimbangan antara doa dan usaha. Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan ikhtiar, tetapi menggabungkan usaha maksimal dengan ketergantungan penuh kepada Allah.
Karena itu, mendoakan negeri agar terhindar dari pemimpin zalim perlu diiringi dengan berbagai ikhtiar nyata, seperti meningkatkan pendidikan, memperkuat budaya kejujuran, mengawasi jalannya pemerintahan secara konstruktif, serta mendukung lahirnya pemimpin yang berintegritas.
Doa menjadi kekuatan spiritual, sementara ikhtiar menjadi bentuk tanggung jawab sosial.
Dalam banyak literatur Islam disebutkan bahwa keadilan merupakan fondasi utama tegaknya sebuah negeri. Bahkan para ulama sering mengutip sebuah hikmah yang berbunyi:
"Allah menegakkan negara yang adil meskipun tidak beriman, dan tidak menegakkan negara yang zalim meskipun beriman."
Pesan ini menunjukkan bahwa keadilan memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketika pemimpin berlaku adil, rakyat merasa aman. Ketika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, kepercayaan tumbuh. Ketika kepentingan umum lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi atau kelompok, keberkahan lebih mudah hadir dalam kehidupan berbangsa.
Doa untuk negeri agar dijauhkan dari pemimpin yang zalim bukanlah bentuk pesimisme terhadap keadaan.
Sebaliknya, doa merupakan ekspresi harapan dan ikhtiar spiritual agar Allah SWT menjaga bangsa dari berbagai bentuk ketidakadilan.
Sebagai umat Islam, kita dianjurkan memohon kepada Allah agar diberikan pemimpin yang amanah, adil, jujur, dan mencintai rakyatnya.
Namun pada saat yang sama, kita juga dituntut untuk berperan aktif menjaga nilai-nilai keadilan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah SWT melindungi negeri ini dari kezaliman, menghadirkan pemimpin-pemimpin yang bijaksana, serta menjadikan bangsa ini senantiasa berada dalam keberkahan, kedamaian, dan kemakmuran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang