Editor
KOMPAS.com - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) melakukan penyegaran kepengurusan sebagai bagian dari langkah strategis memperkuat organisasi dan meningkatkan kontribusi kader dalam menjawab tantangan kebangsaan.
Penyegaran tersebut ditandai dengan masuknya sejumlah tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki pengalaman di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, olahraga, dunia profesional, hingga pemberdayaan masyarakat.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat konsolidasi internal sekaligus memperluas peran GP Ansor di berbagai sektor strategis nasional.
Baca juga: Gowes 123 Km Bangkalan–Jombang, GP Ansor Ajak Anak Muda Telusuri Jejak Ulama
GP Ansor menilai kebutuhan organisasi saat ini tidak hanya bertumpu pada penguatan ideologi, tetapi juga kemampuan kader dalam merespons perubahan dan tantangan zaman.
Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin mengatakan penyegaran kepengurusan dilakukan untuk memastikan organisasi tetap adaptif terhadap perkembangan yang terus terjadi.
Baca juga: Pernikahan Anggota Banser di Cilacap Pakai Hasta Pora, GP Ansor: Ekspresi Cinta Organisasi
Menurutnya, GP Ansor membutuhkan kader-kader yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan rekam jejak pengabdian yang kuat di berbagai bidang.
“Ansor harus terus menjadi organisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Karena itu kami memperkuat struktur organisasi dengan kader-kader yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan rekam jejak pengabdian di berbagai bidang,” ujar Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Ia menambahkan, masuknya kader-kader muda ke dalam struktur kepengurusan menjadi bagian dari upaya memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus memperluas jaringan dan kontribusi GP Ansor di tingkat nasional.
Beberapa nama yang bergabung dalam kepengurusan baru antara lain Aminuddin Ma'ruf yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN).
Selain itu, terdapat Muhammad Abdul Idris yang merupakan bagian dari jajaran Direksi Persiku Kudus, serta sejumlah kader muda lainnya yang selama ini aktif dalam berbagai bidang pengabdian.
Menurut Addin, figur-figur yang masuk ke dalam kepengurusan bukanlah sosok baru di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Sebagian besar telah melalui proses kaderisasi NU dan memiliki pengalaman yang dinilai relevan untuk mendukung penguatan organisasi ke depan.
"Mereka adalah kader-kader yang telah teruji. Ada yang berkiprah di pemerintahan, dunia profesional, olahraga, hingga pemberdayaan masyarakat. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kader NU mampu mengambil peran strategis di berbagai sektor sekaligus tetap berkomitmen mengabdi melalui organisasi," katanya.
Addin menegaskan GP Ansor saat ini menghadapi berbagai tantangan baru yang memerlukan respons organisasi yang lebih adaptif dan profesional.
Selain menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, organisasi juga dituntut mampu menjawab isu-isu strategis seperti transformasi digital, penguatan ekonomi umat, pengembangan sumber daya manusia, hingga peningkatan peran pemuda dalam pembangunan nasional.
Karena itu, GP Ansor membutuhkan kombinasi kader yang tidak hanya kuat secara ideologis dan matang secara organisatoris, tetapi juga memiliki kompetensi profesional yang dapat memperkuat tata kelola organisasi.
Menurutnya, perpaduan tersebut menjadi modal penting agar GP Ansor mampu terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat serta bangsa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang