KOMPAS.com — Dalam setiap rakaat salat, umat Islam diwajibkan membaca Surah Al-Fatihah. Namun setelah Al-Fatihah, terdapat amalan sunah yang hampir selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW, yakni membaca ayat atau surah dari Al-Qur'an sebelum rukuk.
Meski hukumnya tidak wajib, membaca surah setelah Al-Fatihah memiliki keutamaan besar. Selain menyempurnakan salat, bacaan tersebut menjadi sarana memperbanyak interaksi seorang Muslim dengan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Rasulullah SAW tidak selalu membaca surah yang panjang. Dalam banyak kesempatan, beliau juga membaca surah-surah pendek yang mudah dihafal, terutama ketika menjadi imam dan mempertimbangkan kondisi para makmum.
Di tengah kesibukan aktivitas modern, surah-surah pendek menjadi pilihan yang sangat relevan. Ringkas, mudah diingat, namun mengandung pesan tauhid, perlindungan, akhlak, hingga pengingat tentang kehidupan akhirat.
Lalu, surah apa saja yang paling sering dianjurkan untuk dibaca dalam salat wajib sehari-hari?
Dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca Al-Fatihah kemudian dilanjutkan dengan surah lain pada dua rakaat pertama salat.
Para ulama menjelaskan bahwa membaca surah setelah Al-Fatihah termasuk sunnah muakkadah, yaitu sunah yang sangat dianjurkan.
Dalam buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap karya Drs. Moh. Rifai dijelaskan bahwa seorang Muslim dapat membaca ayat atau surah apa pun yang mudah dihafal setelah Al-Fatihah. Tujuannya agar salat dapat dilaksanakan dengan tenang dan khusyuk tanpa memberatkan.
Sementara itu, Syekh Abdullah bin Jibrin dalam buku Tuntunan Sholat Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah menerangkan bahwa Rasulullah SAW juga menyesuaikan panjang pendeknya bacaan sesuai waktu salat.
Salat Subuh umumnya lebih panjang, sedangkan Maghrib sering kali menggunakan surah-surah pendek.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan kemudahan sekaligus ruang bagi umat untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur'an sesuai kemampuan masing-masing.
Baca juga: Surat Yasin Lengkap 83 Ayat: Arab, Latin dan Artinya
Surah Al-Ikhlas hanya terdiri dari empat ayat, namun memiliki kedudukan yang sangat istimewa.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur'an dari sisi kandungan tauhidnya.
Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, surah ini merangkum konsep ketuhanan Islam secara sempurna: Allah Maha Esa, tidak bergantung kepada siapa pun, tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Karena pendek dan mudah dihafal, Al-Ikhlas menjadi salah satu surah yang paling sering dibaca umat Islam dalam salat.
Surah Al-Falaq dikenal sebagai salah satu bagian dari Al-Mu'awwidzatain, yaitu dua surah perlindungan.
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa surah ini mengajarkan seorang Muslim untuk berlindung kepada Allah dari segala bentuk kejahatan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Membacanya dalam salat membantu menghadirkan kesadaran bahwa hanya Allah tempat berlindung dari berbagai ancaman kehidupan.
Jika Al-Falaq melindungi dari bahaya eksternal, Surah An-Nas lebih menekankan perlindungan dari bahaya internal berupa bisikan setan.
Menurut Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, surah ini mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dari godaan yang merusak hati dan pikiran.
Karena itu Rasulullah SAW kerap membaca Al-Falaq dan An-Nas secara beriringan.
Dengan hanya tiga ayat, Al-Kautsar merupakan surah terpendek dalam Al-Qur'an.
Namun menurut Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur'an, surah ini membawa pesan besar tentang nikmat Allah, rasa syukur, dan optimisme.
Ketika dibaca dalam salat, Al-Kautsar mengingatkan bahwa setiap nikmat harus diwujudkan dalam ibadah dan penghambaan kepada Allah.
Surah ini memiliki lima ayat yang berbicara tentang malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Al-Qadr mengajarkan umat Islam untuk menghargai wahyu dan petunjuk Allah yang menjadi sumber kebahagiaan dunia dan akhirat.
Membaca surah ini saat salat dapat menghadirkan kesadaran tentang besarnya karunia Al-Qur'an.
Baca juga: Berawal dari Surat Nabi, Ini Kisah Tragis Robeknya Kerajaan Persia
Imam Syafi'i pernah mengatakan bahwa seandainya manusia hanya merenungkan Surah Al-Ashr, maka surah itu sudah cukup menjadi pelajaran hidup.
Pernyataan tersebut dikutip dalam berbagai kitab ulama karena kandungan surah ini sangat padat.
Dalam tiga ayat singkat, Allah menjelaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang memiliki empat sifat, yaituberiman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
Di era media sosial, pesan Surah Al-Humazah terasa semakin relevan.
Surah ini mengingatkan bahaya mencela orang lain, menumpuk harta secara berlebihan, serta merasa aman hanya karena kekayaan yang dimiliki.
Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, Al-Humazah menjadi kritik keras terhadap sifat sombong dan budaya merendahkan sesama manusia.
Surah Quraisy mengingatkan bahwa keamanan dan kecukupan rezeki merupakan nikmat besar yang sering terlupakan.
Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, dijelaskan bahwa Allah mengingatkan kaum Quraisy untuk bersyukur atas stabilitas dan kemakmuran yang mereka nikmati.
Pesan tersebut tetap relevan hingga sekarang ketika banyak orang hidup nyaman tetapi lupa bersyukur.
Banyak orang mengira ibadah hanya berkaitan dengan ritual.
Namun Surah Al-Ma'un menunjukkan bahwa kualitas agama juga tercermin dari kepedulian sosial.
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib menjelaskan bahwa surah ini mengecam orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan anak yatim, fakir miskin, dan kebutuhan masyarakat.
Karena itu Al-Ma'un menjadi pengingat bahwa salat harus melahirkan kepedulian sosial.
Surah Al-Fil menceritakan kehancuran pasukan bergajah yang hendak menghancurkan Ka'bah.
Peristiwa ini menjadi salah satu mukjizat sejarah yang menunjukkan bahwa Allah mampu melindungi rumah-Nya dengan cara yang tidak pernah dibayangkan manusia.
Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, peristiwa tersebut juga menjadi tanda dekatnya kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Surat Al-Baqarah Ayat 285-286: Doa Mustajab dan Pelindung Malam
Para ulama sepakat bahwa tidak ada kewajiban membaca surah tertentu setelah Al-Fatihah.
Dalam kitab Al-Majmu' karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa seorang Muslim boleh membaca surah apa saja yang dihafalnya.
Namun Rasulullah SAW memberikan beberapa pedoman umum:
Prinsip utamanya adalah menjaga kekhusyukan tanpa memberatkan diri sendiri maupun makmum.
Banyak orang memilih surah pendek karena mudah dihafal. Itu tentu baik.
Namun para ulama mengingatkan bahwa tujuan utama membaca Al-Qur'an dalam salat bukan sekadar melafalkan ayat, melainkan menghadirkan makna yang terkandung di dalamnya.
Ketika membaca Al-Ikhlas, kita sedang meneguhkan tauhid. Saat membaca Al-Falaq dan An-Nas, kita sedang memohon perlindungan. Ketika membaca Al-Ma'un, kita sedang diingatkan untuk peduli kepada sesama.
Dengan memahami maknanya, salat tidak lagi menjadi rutinitas harian semata, tetapi benar-benar menjadi perjumpaan spiritual antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Karena itulah, meski hanya terdiri dari beberapa ayat, surah-surah pendek tersebut mampu menghadirkan pelajaran hidup yang mendalam dan menjadi bekal berharga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang