Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Unik, Alquran Kuningan Abad 18 Jadi Koleksi Museum di Makkah

Kompas.com, 4 Mei 2026, 12:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah geliat modernisasi Kota Suci Makkah, sebuah ruang sunyi di kawasan Distrik Budaya Hira justru mengajak pengunjung menengok masa lalu.

Di sinilah Museum Alquran menghadirkan jejak panjang peradaban Islam melalui koleksi manuskrip dan artefak berharga, termasuk satu karya langka, Alquran yang diukir pada lempengan kuningan dari abad ke-18.

Dilansir dari Arab News, koleksi unik ini menjadi salah satu daya tarik utama museum karena tidak hanya menunjukkan keindahan seni, tetapi juga ketelitian luar biasa dalam menjaga keaslian teks suci umat Islam.

Baca juga: Dari Museum ke Bahasa, Indonesia-Arab Saudi Perkuat Diplomasi Budaya

Jejak Sejarah dalam Ukiran Kuningan

Di antara berbagai manuskrip yang dipamerkan, Alquran berbahan kuningan tersebut menonjol karena teknik pembuatannya yang tidak lazim.

Jika umumnya mushaf ditulis di atas kertas atau perkamen, karya ini justru diukir langsung pada lembaran logam.

Setiap ayat ditatah dengan presisi tinggi, menunjukkan tingkat keahlian luar biasa para pengrajin Muslim pada masanya.

Ukiran tersebut tidak hanya berfungsi sebagai medium penulisan, tetapi juga sebagai ekspresi seni yang sarat makna spiritual.

Dalam perspektif sejarah seni Islam, penggunaan material logam seperti kuningan menandakan eksperimen artistik yang berkembang di berbagai wilayah dunia Islam pada abad ke-18.

Hal ini sekaligus memperlihatkan bagaimana Alquran tidak hanya dijaga sebagai teks, tetapi juga dimuliakan melalui medium estetika yang beragam.

Museum Alquran: Ruang Edukasi dan Refleksi

Museum ini dirancang bukan sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi sebagai ruang edukasi yang memperkenalkan perjalanan panjang penulisan dan pelestarian Alquran.

Pengunjung diajak memahami bagaimana mushaf berkembang dari masa awal Islam hingga era modern.

Dari lembaran perkamen sederhana hingga teknologi percetakan canggih, setiap fase menunjukkan dedikasi umat Islam dalam menjaga kemurnian wahyu.

Dalam buku The History of the Qur'an karya Theodor Nöldeke, dijelaskan bahwa proses kodifikasi Alquran merupakan salah satu proyek intelektual terbesar dalam sejarah Islam.

Upaya ini melibatkan ketelitian tinggi untuk memastikan setiap huruf tetap otentik sebagaimana diturunkan.

Museum di Makkah ini menghadirkan narasi tersebut dalam bentuk visual dan artefak nyata, sehingga pengunjung tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga “melihatnya” secara langsung.

Baca juga: Menbud Fadli Zon Resmikan Ruang Pamer Museum Sejarah Al-Quran di Deli Serdang

Tradisi Kaligrafi: Antara Seni dan Ibadah

Salah satu pesan kuat yang ingin disampaikan museum adalah hubungan erat antara seni dan spiritualitas dalam Islam.

Kaligrafi Alquran bukan sekadar hiasan, melainkan bentuk ibadah yang mencerminkan penghormatan terhadap firman Allah.

Dalam buku Islamic Calligraphy karya Sheila Blair, disebutkan bahwa kaligrafi berkembang menjadi seni tertinggi dalam peradaban Islam karena berfungsi langsung dalam penulisan Alquran.

Oleh karena itu, setiap goresan huruf tidak hanya dinilai dari keindahan, tetapi juga ketepatan dan kesuciannya.

Karya Alquran di atas kuningan menjadi contoh konkret dari tradisi tersebut. Ia memadukan estetika, teknik, dan spiritualitas dalam satu medium yang tidak biasa.

Material dan Inovasi dalam Penulisan Mushaf

Sepanjang sejarah, umat Islam menggunakan berbagai bahan untuk menyalin Alquran, mulai dari kulit hewan, daun papirus, hingga kertas.

Namun, penggunaan logam seperti kuningan menunjukkan adanya inovasi dalam upaya pelestarian teks.

Material ini memiliki keunggulan dalam hal daya tahan, sehingga memungkinkan mushaf bertahan lebih lama dibandingkan media konvensional.

Di sisi lain, proses pembuatannya yang rumit menjadikannya sebagai karya eksklusif yang kemungkinan hanya dibuat dalam jumlah terbatas.

Dalam kajian filologi Islam, variasi medium ini juga menjadi bukti bahwa pelestarian Alquran tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti konteks zaman tanpa mengubah substansi teksnya.

Baca juga: Museum Makkah Pajang Al-Qur’an Raksasa 3 Meter, Terbesar di Dunia

Simbol Kecintaan Umat terhadap Alquran

Lebih dari sekadar artefak, koleksi di museum ini mencerminkan hubungan emosional dan spiritual umat Islam dengan Alquran.

Setiap manuskrip, termasuk yang diukir di kuningan, adalah bukti nyata bagaimana generasi demi generasi berusaha menjaga dan memuliakan kitab suci tersebut.

Upaya ini tidak hanya dilakukan melalui hafalan dan pengajaran, tetapi juga melalui seni dan budaya.

Dengan demikian, Alquran hadir tidak hanya sebagai pedoman hidup, tetapi juga sebagai inspirasi peradaban.

Menjaga Warisan, Menghidupkan Makna

Kehadiran Museum Alquran di Makkah menjadi pengingat bahwa warisan Islam tidak hanya tersimpan dalam teks, tetapi juga dalam karya-karya seni yang menyertainya.

Di tengah dunia yang serba cepat, ruang seperti ini menawarkan kesempatan untuk berhenti sejenak dan merenungkan perjalanan panjang Alquran.

Bagi pengunjung, pengalaman ini bukan sekadar wisata sejarah, tetapi juga perjalanan spiritual yang memperdalam pemahaman terhadap kitab suci.

Sebab, di balik setiap ukiran dan manuskrip, tersimpan kisah tentang dedikasi, kecintaan, dan penghormatan umat Islam terhadap firman Allah yang terus hidup sepanjang zaman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Catatan MUI Tentang Tradisi Rebo Wekasan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Catatan MUI Tentang Tradisi Rebo Wekasan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Aktual
Rebo Wekasan 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Amalan yang Bisa Dikerjakan
Rebo Wekasan 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Amalan yang Bisa Dikerjakan
Aktual
Empat Syarat Agar Pekerjaan Bernilai Ibadah
Empat Syarat Agar Pekerjaan Bernilai Ibadah
Aktual
Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur
Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur
Aktual
Baznas Ajak Bangsa Pererat Persatuan lewat Zakat, Infak, Sedekah
Baznas Ajak Bangsa Pererat Persatuan lewat Zakat, Infak, Sedekah
Aktual
Jangan Keliru, Bekerja Cari Nafkah Juga Bagian dari Ibadah
Jangan Keliru, Bekerja Cari Nafkah Juga Bagian dari Ibadah
Aktual
Bagian dari Syiar Islam, MTQ Jawa Barat Tetap Digelar, Ini Jadwalnya
Bagian dari Syiar Islam, MTQ Jawa Barat Tetap Digelar, Ini Jadwalnya
Aktual
Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU
Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU
Aktual
Willie Salim Belajar Agama ke KH Cholil Nafis di Pesantren Depok
Willie Salim Belajar Agama ke KH Cholil Nafis di Pesantren Depok
Aktual
Mengintip Tren Fesyen Muslim Gen Z 2026, Terinspirasi Gaya Korea
Mengintip Tren Fesyen Muslim Gen Z 2026, Terinspirasi Gaya Korea
Aktual
Khitan Gratis untuk Yatim dan Dhuafa di Bandung, Begini Cara Mengikutinya
Khitan Gratis untuk Yatim dan Dhuafa di Bandung, Begini Cara Mengikutinya
Aktual
Apakah Anak Piatu Berhak Mendapat Santunan seperti Anak Yatim? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Apakah Anak Piatu Berhak Mendapat Santunan seperti Anak Yatim? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Doa Sebelum Bekerja di Hari Senin agar Rezeki Lancar dan Diberi Kemudahan
Doa Sebelum Bekerja di Hari Senin agar Rezeki Lancar dan Diberi Kemudahan
Doa dan Niat
Hukum Sengaja Tidak Membayar Hutang Padahal Mampu, Benarkah Termasuk Dosa Besar?
Hukum Sengaja Tidak Membayar Hutang Padahal Mampu, Benarkah Termasuk Dosa Besar?
Aktual
Doa Pelunas Hutang dalam Islam dan Waktu Paling Mustajab Membacanya
Doa Pelunas Hutang dalam Islam dan Waktu Paling Mustajab Membacanya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar