KOMPAS.com – Dalam sejarah peradaban Islam, nama Khalifah Umar bin Abdul Aziz hampir selalu disebut ketika membahas kepemimpinan yang adil dan berpihak kepada rakyat kecil.
Masa pemerintahannya memang terbilang singkat, hanya sekitar dua tahun lima bulan, yakni antara 717 hingga 720 Masehi.
Namun dalam waktu yang relatif pendek itu, ia berhasil meninggalkan warisan besar yang membuat namanya dikenang hingga kini.
Banyak sejarawan menyebut Umar bin Abdul Aziz sebagai pemimpin yang berhasil menekan kesenjangan ekonomi, memberantas praktik penyalahgunaan kekuasaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.
Bahkan dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa pada masa pemerintahannya, petugas zakat kesulitan menemukan orang yang berhak menerima bantuan karena tingkat kemiskinan menurun drastis.
Bagaimana seorang khalifah mampu melakukan perubahan besar dalam waktu singkat? Apa rahasia kebijakan ekonomi Umar bin Abdul Aziz yang membuatnya dikenang sebagai salah satu pemimpin paling sukses dalam sejarah Islam?
Umar bin Abdul Aziz memiliki nama lengkap Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abul Ash bin Umayyah.
Ia berasal dari Dinasti Umayyah, tetapi memiliki hubungan darah dengan Khalifah Umar bin Khattab dari jalur ibunya.
Menurut buku Umar bin Abdul Aziz: Khalifah Pembaru dari Bani Umayyah karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, sejak muda Umar dikenal sebagai pribadi yang mencintai ilmu, dekat dengan para ulama, dan memiliki karakter sederhana meskipun berasal dari keluarga penguasa.
Sebelum menjadi khalifah, ia pernah menjabat sebagai gubernur Madinah. Pengalaman tersebut membuatnya memahami secara langsung berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, mulai dari kemiskinan, ketimpangan ekonomi, hingga penyalahgunaan wewenang oleh sebagian aparat pemerintahan.
Karena integritas dan keadilannya, banyak ulama kemudian menjulukinya sebagai Khulafaur Rasyidin kelima, meskipun secara resmi ia berasal dari Dinasti Umayyah.
Baca juga: Keutamaan Sedekah dalam Islam, Kisah Sayyidina Ali yang Mendapat Balasan Berlipat
Saat Umar bin Abdul Aziz naik menjadi khalifah, kondisi ekonomi kekhalifahan tidak sepenuhnya ideal. Wilayah Islam memang sangat luas dan pendapatan negara besar, tetapi distribusi kekayaan belum merata.
Sebagian kelompok elite menikmati kemewahan yang berlebihan, sementara masyarakat di sejumlah daerah masih hidup dalam keterbatasan. Kekayaan negara juga banyak terkonsentrasi pada keluarga penguasa dan pejabat tertentu.
Menurut Dr. Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi dalam buku Fikih Ekonomi Umar bin Khattab, ketimpangan ekonomi sering kali bukan disebabkan kurangnya sumber daya, melainkan buruknya distribusi kekayaan dan lemahnya pengawasan terhadap aparat negara.
Pemahaman inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan kebijakan Umar bin Abdul Aziz.
Langkah pertama yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz setelah menjadi khalifah adalah membersihkan birokrasi dari praktik-praktik yang merugikan rakyat.
Ia menegaskan bahwa jabatan bukanlah sarana memperkaya diri, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Karena itu, para pejabat negara dilarang memanfaatkan kekuasaan untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Aset yang diperoleh secara tidak sah selama menjabat diperiksa dan dikembalikan kepada pemiliknya.
Jika pemiliknya tidak diketahui, harta tersebut dimasukkan ke dalam baitulmal untuk digunakan bagi kepentingan masyarakat.
Kebijakan ini menjadi salah satu reformasi paling berani pada masanya. Tidak sedikit kalangan elite yang kehilangan berbagai fasilitas dan keuntungan yang sebelumnya mereka nikmati.
Namun Umar bin Abdul Aziz meyakini bahwa keadilan hanya bisa ditegakkan apabila penguasa dan pejabat terlebih dahulu memberi teladan.
Baca juga: Kisah-kisah Anak Berbakti di Haji 2026: Demi Ibu, Gushendra Latihan Jalan 3 Km Per Hari
Reformasi yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz tidak berhenti pada aturan bagi pejabat. Ia memulai perubahan dari dirinya sendiri.
Dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi disebutkan bahwa setelah menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz mengembalikan berbagai fasilitas mewah yang sebelumnya digunakan keluarganya kepada baitulmal.
Ia memilih hidup sederhana dan mengurangi pengeluaran yang tidak diperlukan. Bahkan sebagian besar kekayaan pribadinya disedekahkan demi kepentingan masyarakat.
Langkah ini membuat rakyat melihat bahwa kebijakan penghematan yang diterapkan bukan sekadar perintah kepada bawahan, melainkan juga dijalankan langsung oleh pemimpinnya.
Salah satu kebijakan paling terkenal Umar bin Abdul Aziz adalah redistribusi kekayaan secara lebih adil.
Ia memperkuat fungsi baitulmal sebagai lembaga yang mengelola dan menyalurkan harta negara kepada kelompok yang membutuhkan.
Dana zakat, sedekah, kharaj, dan berbagai pemasukan negara lainnya didistribusikan dengan lebih tepat sasaran.
Umar bin Abdul Aziz juga mendorong kaum kaya untuk membantu masyarakat miskin hingga mencapai had al-kifayah, yaitu tingkat kecukupan hidup yang layak.
Konsep ini tidak hanya berfokus pada bantuan sesaat, tetapi memastikan masyarakat memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan dasar mereka secara berkelanjutan.
Baca juga: Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut, Ini Penjelasan Ulama
Langkah penting lainnya adalah pembenahan sistem perpajakan.
Menurut buku Tarikh Al-Khulafa karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Umar bin Abdul Aziz meninjau ulang berbagai kebijakan fiskal yang dinilai memberatkan rakyat.
Salah satu kebijakan yang terkenal adalah larangan memperjualbelikan tanah kharaj secara bebas. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas penerimaan negara sekaligus mencegah penumpukan aset pada kelompok tertentu.
Ia juga memastikan pungutan dilakukan secara adil dan tidak membebani masyarakat kecil.
Dengan sistem yang lebih transparan dan berkeadilan, penerimaan negara tetap terjaga tanpa harus menekan rakyat.
Umar bin Abdul Aziz memahami bahwa kesejahteraan tidak hanya dicapai melalui pembagian bantuan.
Karena itu, ia juga fokus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sehat. Pemerintah memperbaiki infrastruktur, meningkatkan keamanan wilayah, dan memastikan penegakan hukum berjalan dengan baik.
Ketika keamanan terjamin, aktivitas perdagangan berkembang lebih pesat. Para petani dapat mengelola lahan dengan tenang, sementara para pedagang merasa aman menjalankan usahanya.
Kondisi tersebut secara bertahap meningkatkan produktivitas ekonomi di berbagai wilayah kekhalifahan.
Salah satu kisah yang paling sering dikutip dalam sejarah pemerintahan Umar bin Abdul Aziz adalah berkurangnya jumlah penerima zakat.
Dalam sejumlah catatan sejarah disebutkan bahwa petugas baitulmal pernah mengalami kesulitan menemukan masyarakat yang memenuhi kriteria sebagai penerima zakat karena tingkat kesejahteraan meningkat secara signifikan.
Meski para sejarawan berbeda pendapat mengenai cakupan wilayah dan detail peristiwanya, kisah tersebut menunjukkan keberhasilan kebijakan sosial-ekonomi yang diterapkan Umar bin Abdul Aziz.
Keberhasilan tersebut bukan lahir dari satu program instan, melainkan hasil kombinasi antara kejujuran pemimpin, tata kelola yang baik, distribusi kekayaan yang adil, serta pengawasan yang ketat terhadap pejabat negara.
Kisah Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak semata-mata bergantung pada besarnya pendapatan negara.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kekayaan tersebut dikelola dan didistribusikan secara adil.
Ia membuktikan bahwa pemimpin yang jujur mampu menciptakan perubahan besar meskipun memiliki waktu pemerintahan yang singkat.
Dengan menolak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi, memberantas penyalahgunaan kekuasaan, serta memastikan hak rakyat terpenuhi, Umar bin Abdul Aziz berhasil membangun kepercayaan publik sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hingga hari ini, namanya tetap dikenang sebagai salah satu teladan kepemimpinan dalam sejarah Islam.
Bukan karena luasnya wilayah yang dikuasai, melainkan karena keberhasilannya menjadikan kekuasaan sebagai sarana menghadirkan keadilan bagi rakyat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang