
JIKA ada organisasi perempuan yang mampu memadukan kedalaman spiritualitas pesantren dengan kelincahan manuver politik modern, jawabannya adalah Fatayat NU. Lahir di Surabaya pada 7 Rajab 1369 H atau 24 April 1950, Fatayat bukan sekadar banom (badan otonom).
Ia adalah tulang punggung sekaligus rahim kepemimpinan perempuan Nahdliyin yang tak pernah lelah melahirkan srikandi-srikandi tangguh. Mengingat sejarahnya, kita tak bisa melepaskan sosok "Tiga Serangkai": Nyai Murthasiyah (Surabaya), Nyai Chuzaimah Mansur (Gresik), dan Nyai Aminah Mansur (Sidoarjo).
Mereka merintis pemuda NU di era yang sulit, di tengah berkecamuknya perdebatan peran perempuan. Namun, justru dari situ, Fatayat membuktikan diri bahwa perempuan NU tidak hanya jago yasinan, tapi juga jago dalam tata kelola sosial dan politik.
Baca juga: Muslimat NU Surati PBB agar Hentikan Perang, Khofifah: Seruan untuk Perdamaian Dunia
Seringkali kita melihat organisasi perempuan hanya sebagai pelengkap. Fatayat? Sama sekali tidak. Gaya kepemimpinan yang cair namun strategis menjadikan Fatayat seperti "kawah candradimuka".
Pemimpin-pemimpinnya bukan sosok yang berjarak dengan akar rumput. Mereka turun ke desa, memegang paralegal, memberdayakan ekonomi, sambil tangan lainnya memegang kendali kebijakan di tingkat nasional.
Sejarah mencatat estafet kepemimpinan yang luar biasa. Dari era Nihayah Bakri, Aisyah Dahlan, hingga era-era modern yang melahirkan tokoh-tokoh hebat. Lihatlah bagaimana Ida Fauziyah menahkodai Fatayat (2000-2010), membawa organisasi ini menjadi lebih lincah dan berani. Dedikasi beliau berlanjut di parlemen (DPR RI) dan kementerian tenaga kerja.
Kemudian diteruskan oleh Anggia Ermarini, yang memperkuat advokasi isu-isu perempuan dan anak hingga ke level kebijakan publik nasional dengan perannya sebagai DPR RI. Kemarin, di tangan almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah, DPR RI Farksi PKB, Fatayat semakin progresif dan adaptif dengan era digital yang sangat relevan dengan tantangan zaman. Tiga sosok ini—Ida, Anggi, dan Margaret—adalah potret bagaimana kaderisasi Fatayat NU tidak pernah terputus.
Keberhasilan Fatayat bukan hanya pada ketua umumnya. Hampir di semua panggung pengabdian, kader Fatayat NU "ngangeni" dan dicari. Kita melihat bagaimana kader Fatayat membanjiri panggung politik, mengisi kursi-kursi DPR RI (terutama Fraksi PKB di DPR dan DPRD, di mana Fatayat menjadi penggerak utama).
Tak berhenti di parlemen, alumni Fatayat NU kini berserakan di lembaga-lembaga negara krusial: KPU, Bawaslu, KPAI, dan komisi-komisi negara lainnya. Ini membuktikan bahwa kapasitas kader Fatayat diakui secara nasional. Ketika masa bakti di Fatayat selesai, mereka "naik kelas" menjadi Muslimat NU dengan bekal pengalaman manajerial yang matang, atau melanjutkan kiprah di lembaga negara lain.
Lebih dari itu, Fatayat adalah "pabrik" sarjana. Seabrek kader bergelar doktor dan master, yang dulu aktif di kepengurusan tingkat cabang hingga pusat, kini menjadi birokrat yang efektif dan akademisi yang kritis. Mereka adalah perpaduan antara kealiman pesantren dan intelektualitas modern.
Baca juga: Muktamar NU 2026 Disorot, Gus Kikin: Kembalikan ke Qanun Asasi dan Perkuat Ukhuwah
Harlah Fatayat NU adalah momen merayakan keberhasilan mencetak ribuan pemimpin perempuan yang berdaya. Ia adalah bukti bahwa perempuan NU adalah agent of change. Bukan hanya di balik layar, tapi di tengah arus utama perubahan. Selamat Hari Lahir Fatayat NU. Teruslah menjadi pelita yang tak pernah redup. Fatayat NU, Berdaya dan Berdampak! Wallahu'alam bissowab.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang