Editor
KOMPAS.com - Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah diperkirakan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.
Menjelang pergantian tahun Hijriah, umat Muslim di berbagai daerah menyambutnya dengan beragam amalan sunnah dan tradisi bernilai spiritual.
Salah satu tradisi yang cukup dikenal adalah minum susu putih pada malam 1 Muharram sebagai simbol harapan akan keberkahan dan kesucian hidup di tahun yang baru.
Baca juga: Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi
Tradisi ini dilakukan sejak setelah Maghrib hingga menjelang Subuh, bersamaan dengan amalan lain seperti doa, dzikir, istighfar, dan muhasabah diri.
Dirangkum dair laman BAZNAS dan MUI Jatim, berikut adalah penjelasan terkait sejarah, doa dan makna dari tradisi ini.
Baca juga: Doa dan Dzikir 1 Muharram 2026, Amalan Awal Tahun Memohon Ampunan
Tradisi ini secara silsilah keilmuan dikaitkan dengan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, seorang ulama sufi ternama asal Makkah yang berpemahaman Ahlussunnah wal Jamaah.
Diceritakan bahwa setiap awal tahun Hijriah, beliau rutin membagikan susu putih kepada para santrinya.
Dari sisi spiritual, amalan tersebut dimaknai sebagai bentuk tafa’ul, yakni harapan akan datangnya kebaikan dan keberkahan sepanjang tahun sebagaimana putih dan bersihnya warna susu.
Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki menjelaskan bahwa meminum susu putih pada malam 1 Muharram melambangkan awal tahun yang baru yang bersih dan penuh dengan kebaikan.
Selama ini susu putih dipandang sebagai simbol kebersihan sekaligus nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.
Bagi umat Islam yang ingin mengamalkan tradisi ini, pelaksanaannya dapat dilakukan setelah Maghrib pada malam 1 Muharram hingga sebelum waktu Subuh. Sebelum meminumnya, dianjurkan membaca doa terlebih dahulu.
Sebagai bentuk harapan akan keberkahan, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki juga menganjurkan membaca doa berikut saat hendak meminum susu:
اللهم بارك لنا فيه وزدنامنه
Allahumma baarik lanaa fiihi wazidnaa minhu
Artinya: “Ya Allah, berkahilah minuman kami dan tambahkanlah darinya (rezeki) pada kami.”
Meminum susu putih pada malam atau tanggal 1 Muharram menjadi salah satu tradisi yang masih dijalankan sebagian umat Muslim.
Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk tafa'ul atau pengharapan baik agar kehidupan selama setahun ke depan dipenuhi keberkahan, kebersihan hati, dan kebaikan dari Allah SWT.
Meski bukan ibadah wajib, amalan ini telah lama dianjurkan oleh sejumlah ulama sebagai simbol optimisme dalam menyambut pergantian tahun Hijriah.
Warna putih pada susu dimaknai sebagai lambang kesucian dan kebersihan sehingga diharapkan setiap langkah kehidupan di tahun yang baru dipenuhi hal-hal baik.
Selain meminum susu, umat Muslim juga dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, istighfar, serta melakukan evaluasi diri atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Secara epistemologis, istilah tafa’ul sudah dikenal dalam ajaran Islam. Bahkan Nabi Muhammad SAW menyukai bentuk tafa’ul yang baik sebagaimana disebutkan dalam hadis:
كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم يُحِبُّ الْفَأْلَ الْحَسَنَ، وَيَكْرَهُ الطِّيَرَةَ
Artinya: “Nabi Saw. Itu menyukai tafa’ul yang baik dan membenci tiyarah”
Secara definitif, tafa’ul atau al-fa’lu adalah harapan dan optimisme terhadap kebaikan yang datang dari Allah SWT. Sikap ini merupakan salah satu bentuk husnuzan atau berbaik sangka kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.
Tafa’ul dinilai penting karena tidak hanya merealisasikan perintah untuk beriktikad baik kepada Allah SWT, tetapi juga mampu membangkitkan semangat dalam menjalani kehidupan. Imam al-Sya’rawi menjelaskan hal tersebut melalui penjelasan berikut:
لأن الفَأْل الطيب يُنشّط أجهزة الجسم انبساطاً للحركة
Artinya: “Sebab tafa’ul yang baik akan membangkitkan semangat jiwa untuk memudahkan aktivitas tubuh untuk berbuat baik.”
Karena itu, tradisi minum susu putih pada awal Muharram dipandang sebagai simbol harapan agar sepanjang tahun umat Islam memperoleh keberkahan dan kebaikan seputih susu yang diminum.
Harapan tersebut juga diiringi niat serta optimisme untuk terus melakukan berbagai amal baik selama setahun ke depan.
Tradisi minum susu putih pada malam 1 Muharram juga dapat dilakukan bersama keluarga, murid, santri, maupun masyarakat sekitar. Dengan cara tersebut, keberkahan dan harapan baik dapat dirasakan secara bersama-sama.
Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki tidak hanya meminum susu putih, tetapi juga membagikannya kepada para santri. Melalui tradisi tersebut, beliau berharap para santrinya memperoleh keberkahan pada bulan Muharram yang mulia.
Dengan membaca doa dan menjalankan tradisi ini, umat Muslim diharapkan tidak hanya memperoleh manfaat kesehatan dari susu yang dikonsumsi, tetapi juga mendapatkan keberkahan serta kebaikan yang melimpah dari Allah SWT dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang