Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Isi Khutbah Wukuf di Arafah Hari Ini

Kompas.com, 26 Mei 2026, 10:52 WIB
Add on Google
Khairina

Editor

ARAFAH, KOMPAS.com- Jemaah haji seluruh dunia, termasuk Indonesia akan menjalankan ibadah wukuf di Padang Arafah pada hari ini, Selasa (26/5/2026).

Wukuf merupakan rukun haji dan ibadah inti dari rangkaian prosesi haji

Di Padang Arafah saat wukuf, jemaah akan mendengarkan khutbah di masing-masing tenda. Di tenda Amirul Hajj, khutbah wukuf akan disampaikan oleh Amirul Hajj K.H. Asep Saifuddin Chalim.

Khutbah wukuf 9 Dzulhijah 1447 H terbagi menjadi dua bagian. Khutbah mengusung tema Tri Sukses Haji: Jalan Menuju Haji Mabrur dan Kemaslahatan Bangsa.

Baca juga: Mau Saksikan Langsung Wukuf di Arafah? Ini Link Live Streaming yang Bisa Ditonton dari Rumah

Berikut adalah teks khutbah yang telah dihilangkan tulisan Arabnya:

KEMENTERIAN HAJI DAN UMRAH REPUBLIK INDONESIA

KHUTBAH WUKUF 9 DZULHIJJAH 1447H/26 ΜΕΙ 2026M TRI SUKSES HAJI: JALAN MENUJU HAJI MABRUR DAN KEMASLAHATAN BANGSA

Khutbah Pertama

Jemaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah.

Pada hari yang agung ini, kita berkumpul di Arafah. Kita hadir di tempat yang menjadi inti ibadah haji. Kita datang dengan pakaian ihram. Kita menanggalkan atribut-atribut dunia. Kita menundukan hati di hadapan Allah. Kita menyadari bahwa manusia tidak memiliki daya kecuali dengan pertolongan-Nya.

Di Padang Arafah ini, manusia belajar bahwa tidak ada kemuliaan sejati selain ketakwaan. Di tempat ini, air mata taubat lebih berharga daripada kemegahan dunia. Kedudukan tidak membuat seseorang lebih tinggi. Harta tidak membuat seseorang lebih mulia.

Jabatan tidak membuat seseorang lebih dekat kepada Allah. Di tempat ini pula, seorang hamba menyadari bahwa seluruh perjalanan hidup pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Semua hadir sebagai hamba. Semua memohon ampun. Semua mengharap rahmat. Semua menunggu karunia Allah. Rasulullah SAW bersabda:

"Haji adalah Arafah."

Hadis ini mengingatkan kita bahwa:

Wukuf bukan sekadar hadir secara jasmani, tapi sekaligus hadir dengan hati.

Wukuf adalah mengakui kelemahan diri.

Wukuf adalah kembali kepada Allah.

Wukuf adalah saat seorang hamba berkata dalam diamnya: Ya Allah, aku datang kepada-Mu. Aku membawa dosa dan harapan. Aku membawa kelemahan dan kerinduan. Aku memohon ampunan-Mu. Aku memohon ridha-Mu.

Jemaah haji yang dirahmati Allah.

Hari Arafah adalah hari di mana doa dipanjatkan dan ampunan diharapakan. Hari Arafah adalah hari ketika Allah memberikan kemurahan kepada hamba-hamba-Nya yang datang dengan debu perjalanan, lelah badan, dan air mata kerinduan. Rasulullah SAW bersabda:

"Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah." (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu jangan biarkan waktu ini berlalu tanpa istighfar. Jangan biarkan Arafah berlalu tanpa munajat. Jangan biarkan detik-detik mulia ini hilang tanpa doa untuk diri, keluarga, orang tua, guru, para petugas, para pemimpin, semua jemaah haji, umat Islam, dan bangsa Indonesia. Mari kita panjatkan doa terbaik untuk semuanya.

Di tempat ini, mari kita tundukkan hati, kita jernihkan niat, kita bersihkan lisan dari keluhan yang tidak perlu dan berpotensi melukai hati orang lain. Mari kita lapangkan dada dan kita mohon kepada Allah agar haji ini menjadi haji yang mabrur. Rasulullah SAW bersabda:

“Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga." (HR. Bukhari Muslim)

Haji mabrur bukan hanya selesai manasik. Haji mabrur adalah perubahan hidup yang akan menampakkan diri pada wujud hati yang lebih lembut, ibadah yang lebih terjaga, lisan yang lebih santun, sikap yang lebih sabar dan bijak, serta kepedulian yang lebih nyata dalam kehidupan.

Baca juga: Matahari Tepat di Atas Kabah pada Hari Arafah 2026, Fenomena Langka 33 Tahunan

Jemaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah.

Arafah mengajarkan tauhid. Talbiyah yang kita ucapkan sejak ihram mengajarkan bahwa hidup kita harus kembali kepada Allah. Kami datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kalimat ini sederhana. Namun maknanya sangat dalam bagi seorang hamba yang bertalbiyah sebab dengan kalimat ini dia sedang menyerahkan dirinya kepada Allah. Ia menyatakan kesiapan untuk taat. Ia menyatakan kesediaan untuk dibimbing. Ia menyatakan kesadaran bahwa seluruh pujian, nikmat, dan kekuasaan hanya milik Allah. Inilah sesungguhnya ruh haji itu. Inilah inti ibadah yang agung ini. Haji bukan perjalanan wisata, bukan perjalanan status, bukan perjalanan untuk mencari sebutan. Haji adalah perjalanan kembali, kembali kepada Allah, kembali kepada fitrah, kembali kepada hidup yang bersih. Allah SWT berfirman:

"Berbekallah. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal sehat." QS. Al-Baqarah: 197.

Oleh-oleh terbaik dari haji bukanlah barang, souvenir, dan status yang kita bawa pulang. Oleh-oleh terbaik dari haji adalah takwa, hati yang lebih bersih, hidup yang lebih dekat kepada Allah, kesediaan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bermartabat.

Jemaah haji yang dirahmati Allah.

Di Arafah ini, kita juga belajar persaudaraan. Jutaan manusia dari berbagai negara berkumpul dalam satu pakaian, satu arah, satu zikir, dan satu harapan. Mereka berbeda bahasa, berbeda warna kulit, dan berbeda latar belakang. Namun mereka disatukan oleh tauhid. Allah SWT berfirman:

"Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." QS. Al-Hujurat: 13.

Ayat ini sangat dekat dengan kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa kita terdiri dari banyak suku, bahasa, budaya, dan agama. Kita hidup dalam rumah besar bernama Indonesia. Karena itu, haji harus menguatkan rasa persaudaraan. Haji harus melatih kita untuk tidak mudah merendahkan dan menganggap orang lain tidak penting. Haji harus membuat kita lebih mampu mendengar, memahami, menolong, dan menjaga sesama.

Jemaah haji yang dimuliakan Allah.

Haji mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kesombongan. Kemuliaan lahir dari takwa, lahir dari akhlak, lahir dari kemampuan menahan diri saat lelah, tetap santun saat berdesakan, tetap sabar saat menunggu, dan tetap peduli saat melihat saudara membutuhkan bantuan. Di tengah jutaan manusia, haji menguji watak kita. Di tengah panas dan padat, haji menguji kesabaran kita. Di tengah keterbatasan fisik, haji menguji keikhlasan kita. Di tengah perbedaan kebiasaan, haji menguji keluasan hati kita. Sebagai jemaah haji Indonesia, kita harus menjadi teladan. Teladan dalam tertib, teladan dalam menjaga kebersihan, teladan dalam menghormati sesama, teladan dalam mematuhi ketentuan dan teladan dalam menolong lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah yang lemah.

Jemaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah.

Dalam penyelenggaraan haji, pemerintah mencanangkan Tri Sukses Haji. Tri Sukses Haji bukan sekadar slogan. Ia adalah arah khidmah. Ia adalah cara kita memastikan bahwa ibadah haji memberi manfaat bagi pribadi, umat, bangsa, dan peradaban. Sebab dalam timbangan syariat, setiap ikhtiar perbaikan layanan ini adalah wujud nyata dari penegakan maqashid syariah, yaitu menjaga keselamatan jiwa (hifzhun nafs), kenyamanan beribadah (hifzhud din), serta memuliakan harkat kemanusiaan. Ketika kenyamanan, kesehatan, dan keselamatan jemaah terjaga melalui tata kelola yang baik, di sinilah esensi kemaslahatan umat (mashlahatul ummah) itu membumi. Haji yang mabrur tidak hanya lahir dari kekhusyukan ritual individu di atas sajadah, tetapi juga ditopang oleh hadirnya kemaslahatan kolektif yang menghadirkan rasa aman bagi setiap tamu Allah dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Tri Sukses Haji tersebut dapat kami uraikan sebagai berikut:

Pertama, sukses ritual. Haji adalah ibadah ritual. Haji adalah satu dari lima rukun Islam. Haji masuk dalam wilayah fiqh ibadah yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqh klasik dan kontemporer. Karena itu, kesuksesan paling utama dalam haji adalah sahnya ibadah. Jemaah harus memahami rukun haji, wajib haji, sunah haji, larangan ihram, dam, rukhsah, dan tata cara ibadah sesuai tuntunan syariat. Sukses ritual berarti jemaah mampu menjalankan haji dengan benar. Wukufnya sah. Tawafnya sah. Sa'inya sah. Tahallulnya sah. Mabit dan lontar jumrahnya dilaksanakan sesuai ketentuan syariat. Bagi yang memiliki uzur, syariat menyediakan kemudahan, sebab Islam tidak memaksakan umatnya mengerjakan sesuatu di luar kemampuan yang bisa dia lakukan. Allah SWT berfirman: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." QS. Al-Baqarah: 286.

Kedua, sukses ekosistem ekonomi haji. Haji adalah ibadah. Haji menggerakkan ekosistem besar bahkan sangat besar. Ia menyerap lebih dari dua puluh triliun rupiah. Di dalamnya ada transportasi, akomodasi, konsumsi, perlengkapan, logistik, layanan kesehatan, teknologi, pembinaan, dan berbagai kebutuhan jemaah. Ekosistem ini harus memberi dampak ekonomi yang baik. Ia harus mendorong manfaat bagi umat dan bangsa. Ia harus membuka peluang bagi produk Indonesia untuk hadir di Arab Saudi. Ia harus mendorong penyediaan akomodasi dan konsumsi yang membawa nilai tambah bagi tanah air. Ia harus dikelola secara amanah, transparan, akuntabel, dan berpihak pada kemaslahatan Jemaah dan kita sebagai Bangsa Indonesia.

Baca juga: Wanita Haid Tetap Bisa Raih Pahala Hari Arafah, Simak 5 Amalan Penggantinya!

Jemaah haji Indonesia yang dimuliakan Allah.

Sukses ekosistem ekonomi haji menuntut kejujuran. Uang jemaah adalah amanah. Layanan jemaah adalah amanah. Setiap kontrak adalah amanah. Setiap rupiah harus dijaga. Setiap layanan harus dipertanggungjawabkan. Tidak boleh ada ruang untuk kelalaian, pemborosan, atau kepentingan yang merugikan jemaah. Jika ekosistem haji dikelola dengan benar, haji tidak hanya mengantarkan jemaah menuju kemabruran. Tetapi haji di sisi yang lain juga dapat menguatkan ekonomi umat, mengangkat produk bangsa, memperluas kemaslahatan dan haji juga dapat menjadi jalan bagi Indonesia untuk hadir lebih bermartabat dalam tata kelola layanan ibadah ini.

Ketiga, sukses keadaban dan peradaban. Haji harus membentuk akhlak personal. Haji harus menjadikan seseorang lebih santun kepada keluarga, lebih peduli kepada tetangga, lebih jujur dalam pekerjaan, lebih disiplin dalam amanah, dan lebih rendah hati dalam kehidupan sosial. Haji juga harus menjadikan jemaah sebagai teladan lingkungan. Ketika pulang ke tanah air, jemaah haji harus membawa kesejukan. Ia harus menjadi penengah, bukan pemecah. Ia harus menjadi penyambung persaudaraan, bukan penyulut permusuhan. Ia harus menebarkan kedamaian, bukan kebencian. Ia harus menguatkan masyarakat, bukan membebani masyarakat. Inilah makna sukses keadaban dan peradaban. Haji bukan hanya membentuk kesalehan pribadi. Haji harus menguatkan kesalehan sosial sekaligus menjadi katalisator peradaban nasional. Dalam sejarah bangsa, banyak pendiri dan penggerak kemerdekaan adalah para haji. Mereka pulang dari tanah suci dengan kesadaran baru, dengan keberanian moral, dengan semangat membela umat, dan dengan tekad membangun bangsa.

Maka hari ini, dari Arafah, kita berdoa agar jemaah haji Indonesia pulang sebagai manusia yang lebih bertakwa. Pulang sebagai pribadi yang lebih bermanfaat. Pulang sebagai keluarga yang lebih meneduhkan. Pulang sebagai warga bangsa yang lebih mencintai Indonesia. Pulang sebagai hamba Allah yang membawa rahmat bagi sesama.

Jemaah haji yang dirahmati Allah.

Padang Arafah akan segera kita tinggalkan, namun nilai-nilai Arafah jangan sampai hilang dari kehidupan kita. Biarlah hati tetap tunduk kepada Allah, lisan tetap basah denga dzikir, akhlaq tetap terjaga, dan semngat melayani sesame terus tumbuh dalam kehidupan setelah haji. Semoga kita pulang bukan hanya membawa cerita perjalanan, tetapi membawa perubahan diri. Pulang dengan hati yang lebih bersih, ibadah yang lebih istiqamah, akhlaq yang lebih mulia, serta cinta yang lebih besar kepada umat dan bangsa. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, menjaga bangsa Indonesia dalam persatuan dan keberkahan, serta menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang memperoleh haji mabrur.

Khutbah Kedua

Jemaah haji yang dimuliakan Allah.

Di penghujung khutbah ini, marilah kita bersungguh-sungguh berdoa. Rendahkan hati. Hadirkan wajah orang tua kita. Hadirkan keluarga kita. Hadirkan guru-guru kita. Hadirkan saudara-saudara kita. Hadirkan bangsa Indonesia dalam doa kita.

Ya Allah, lindungilah jemaah haji Indonesia dan seluruh jemaah haji di tanah suci. Mudahkan manasik mereka. Berikan kesehatan dan keselamatan. Lindungi diri, keluarga, dan harta mereka. Kembalikan mereka ke tanah air dalam keadaan selamat, membawa keberkahan, dan diterima ibadahnya. Ya Allah, sembuhkan yang sakit. Kuatkan yang lemah. Sayangi para lansia. Lindungi kaum perempuan. Jagalah saudara-saudara kami penyandang disabilitas. Berikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Berikan kelapangan dari setiap kegelisahan.

Ya Allah, lindungi tanah kami, laut kami, dan langit kami. Lindungi desa dan kota kami. Lindungi keluarga dan anak-anak kami. Berikan kepada rakyat kami rezeki yang halal, baik, dan penuh berkah. Ya Allah, bimbinglah Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Bimbinglah para pemimpin kami, para pemegang amanah, para ulama, dan para pejabat kami kepada jalan yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Jadikan mereka pemimpin yang amanah, jujur, adil, penyayang, mencintai rakyat, menjaga persatuan, melayani kemaslahatan, dan jauh dari kezaliman, korupsi, serta kelalaian.

Ya Allah, satukan hati kami. Perbaikilah hubungan di antara kami. Tunjukkan kepada kami jalan keselamatan. Keluarkan kami dari kegelapan menuju cahaya. Jauhkan kami dari keburukan dan fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ya Allah, jangan jadikan keberangkatan kami ke Tanah Suci hanya sebagai perjalanan jasad tanpa perubahan hati. Jadikan haji ini sebagai titik lahirnya ketakwaan, keikhlasan, persaudaraan, dan pengabdian yang lebih tulus kepada agama, bangsa dan kemanusiaan.

Padang Arafah, 9 Zulhijjah 1447 H.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Masjid Istiqlal Jakarta, Terbuka untuk Umum
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Masjid Istiqlal Jakarta, Terbuka untuk Umum
Aktual
Kumpulan Doa di Hari Arafah 2026 Paling Mustajab Beserta Keutamaannya
Kumpulan Doa di Hari Arafah 2026 Paling Mustajab Beserta Keutamaannya
Aktual
Ketika Marwah Pesantren Dipertaruhkan
Ketika Marwah Pesantren Dipertaruhkan
Aktual
Saudi Minta Jamaah Haji Hindari Sinar Matahari Langsung Saat Puncak Haji 2026
Saudi Minta Jamaah Haji Hindari Sinar Matahari Langsung Saat Puncak Haji 2026
Aktual
BAZNAS RI Dorong Ekosistem Zakat Daerah lewat Forum Nasional di Majalengka
BAZNAS RI Dorong Ekosistem Zakat Daerah lewat Forum Nasional di Majalengka
Aktual
Malam Wukuf, Menhaj dan Wakil Menteri Cek Tenda Jemaah
Malam Wukuf, Menhaj dan Wakil Menteri Cek Tenda Jemaah
Aktual
Doa Buka Puasa Arafah 9 Dzulhijjah 1447 H dan Sunnah Saat Berbuka
Doa Buka Puasa Arafah 9 Dzulhijjah 1447 H dan Sunnah Saat Berbuka
Aktual
Ini Isi Khutbah Wukuf di Arafah Hari Ini
Ini Isi Khutbah Wukuf di Arafah Hari Ini
Aktual
PBNU Gelar PD-PKPNU di Bina Insan Mulia, Siapkan Santri Jadi Penggerak NU di 16 Negara
PBNU Gelar PD-PKPNU di Bina Insan Mulia, Siapkan Santri Jadi Penggerak NU di 16 Negara
Aktual
Mau Saksikan Langsung Wukuf di Arafah? Ini Link Live Streaming yang Bisa Ditonton dari Rumah
Mau Saksikan Langsung Wukuf di Arafah? Ini Link Live Streaming yang Bisa Ditonton dari Rumah
Aktual
Contoh Ucapan Selamat Idul Adha 2026 dalam Bahasa Jawa dan Artinya yang Penuh Doa
Contoh Ucapan Selamat Idul Adha 2026 dalam Bahasa Jawa dan Artinya yang Penuh Doa
Aktual
Doa Buka Puasa Idul Adha Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Buka Puasa Idul Adha Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Lokasi Shalat Idul Adha 2026 Muhammadiyah di Semarang, Rabu 27 Mei 2026
Lokasi Shalat Idul Adha 2026 Muhammadiyah di Semarang, Rabu 27 Mei 2026
Aktual
Puasa Sebelum Idul Adha Apakah Wajib? Ini Penjelasan Hukum Puasa Tarwiyah dan Larangannya Saat Hari Tasyrik
Puasa Sebelum Idul Adha Apakah Wajib? Ini Penjelasan Hukum Puasa Tarwiyah dan Larangannya Saat Hari Tasyrik
Aktual
Kiai Cholil Nafis Ajak Jemaah Haji Doakan Indonesia Saat Wukuf di Arafah
Kiai Cholil Nafis Ajak Jemaah Haji Doakan Indonesia Saat Wukuf di Arafah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com