Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Munas dan Konbes NU 2026 Digelar 20-21 Juni di Pesantren Al-Falah Ploso

Kompas.com, 4 Juni 2026, 14:39 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memastikan pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 akan digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, pada 20–21 Juni 2026.

Keputusan tersebut menjadi salah satu langkah penting menjelang penyelenggaraan Muktamar NU mendatang.

Selain menentukan arah organisasi, forum Munas dan Konbes juga akan membahas berbagai persoalan keagamaan, kelembagaan, hingga tata kelola organisasi yang menjadi perhatian warga Nahdliyin di seluruh Indonesia.

Keputusan mengenai lokasi penyelenggaraan disampaikan langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar melalui surat bernomor 353/PB.23/A.II.08.03/99/06/2026 tentang Petunjuk dan Instruksi Terkait Pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU.

Dalam surat tersebut, KH Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa keputusan memilih Pesantren Al-Falah Ploso telah dikomunikasikan kepada Ketua Umum PBNU lebih awal.

“Bahwa pilihan dan keputusan tersebut telah saya komunikasikan kepada Yang Terhormat Ketua Umum PBNU melalui pesan WhatsApp sejak tanggal 1 Juni 2026,” tulis KH Miftachul Akhyar sebagaimana dikutip NU Online.

Baca juga: Jelang Muktamar, Hamzah Sahal Optimistis Masa Depan NU Semakin Kuat

Al-Falah Ploso Dipilih dari Tiga Kandidat Pesantren

Sebelum keputusan ditetapkan, terdapat tiga pesantren yang masuk dalam daftar kandidat lokasi penyelenggaraan Munas dan Konbes NU 2026.

Ketiga pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar di Medan, Sumatera Utara, Pondok Pesantren Shiin Al-Falah di Padang, Sumatera Barat, serta Pondok Pesantren Al-Falah Ploso di Kediri, Jawa Timur.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, PBNU akhirnya menetapkan Pesantren Al-Falah Ploso sebagai tuan rumah forum strategis tersebut.

Pemilihan pesantren sebagai lokasi penyelenggaraan bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, pesantren merupakan pusat kaderisasi ulama sekaligus ruang lahirnya berbagai pemikiran keagamaan yang menjadi fondasi organisasi sejak berdiri pada 1926.

Karena itu, pelaksanaan Munas dan Konbes di lingkungan pesantren dinilai memiliki nilai historis dan simbolik yang kuat bagi perjalanan NU.

Rais Aam Instruksikan Panitia Bekerja All Out

Bersamaan dengan penetapan lokasi, Rais Aam PBNU juga menginstruksikan seluruh panitia untuk segera melakukan persiapan secara maksimal.

Dalam surat tersebut, Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) diminta segera berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait agar pelaksanaan agenda nasional NU berjalan lancar.

“Dengan ini saya instruksikan kepada Steering Committee dan Organizing Committee untuk segera bekerja sekuat tenaga (all out) dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menyiapkan penyelenggaraan Munas Alim Ulama dan Konbes NU dengan sebaik-baiknya,” tegas KH Miftachul Akhyar.

Instruksi tersebut menunjukkan bahwa PBNU menaruh perhatian besar terhadap keberhasilan forum yang akan menjadi salah satu agenda terpenting organisasi menjelang Muktamar.

Katib Aam PBNU KH Said Asrori juga membenarkan keaslian surat instruksi yang diterbitkan oleh Rais Aam PBNU tersebut.

Saat dikonfirmasi mengenai surat itu, Said Asrori menjawab singkat, “Sudah.”

Baca juga: Jelang Muktamar, Wasekjen PBNU Minta Ada Dewan Pakar di Struktur Baru

Bukan Sekadar Forum Organisasi

Munas Alim Ulama dan Konbes NU bukan hanya agenda rutin organisasi. Forum ini memiliki posisi strategis karena menjadi ruang pembahasan berbagai persoalan aktual yang dihadapi umat, bangsa, dan organisasi.

Dalam Munas, para ulama NU biasanya membahas persoalan keagamaan kontemporer melalui mekanisme bahtsul masail.

Hasil pembahasan tersebut kemudian menjadi rujukan bagi warga NU dalam menyikapi berbagai perkembangan zaman.

Sementara Konbes berfungsi sebagai forum konsolidasi organisasi yang membahas kebijakan kelembagaan, tata kelola, serta arah strategis NU ke depan.

Tidak jarang, keputusan-keputusan penting yang lahir dalam Munas dan Konbes menjadi pijakan bagi penyusunan kebijakan organisasi pada tingkat nasional.

Persiapan Menuju Muktamar NU

Sekretaris Jenderal PBNU H Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebelumnya menjelaskan bahwa rapat pleno PBNU menekankan pentingnya percepatan penyusunan berbagai materi yang akan dibahas dalam Munas dan Konbes.

Menurut Gus Ipul, sejumlah rancangan regulasi organisasi sedang disiapkan sebagai bahan pembahasan.

Materi tersebut antara lain mencakup pengelolaan usaha milik PBNU, tata kelola keuangan organisasi, hingga penguatan sistem Digdaya yang kini menjadi bagian dari transformasi digital PBNU.

“Ini adalah masa-masa yang krusial. Ada hal-hal yang ke depan perlu diperbaiki dan dijadikan pelajaran untuk kemudian dituangkan dalam peraturan-peraturan perkumpulan,” kata Gus Ipul.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Munas dan Konbes 2026 tidak hanya membahas isu keagamaan, tetapi juga menjadi momentum evaluasi sekaligus pembenahan sistem organisasi secara menyeluruh.

Baca juga: Kiai Imjaz, Gus Yahya, dan Gus Yusuf Hadir di PMKNU Cirebon, Sinyal Panas Menuju Muktamar NU 2026

Momentum Konsolidasi NU Menjelang Abad Kedua

Pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 di Pesantren Al-Falah Ploso dipandang sebagai momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi di tengah berbagai tantangan zaman.

Di era transformasi digital, perubahan sosial yang cepat, serta semakin kompleksnya persoalan umat, NU dituntut mampu menghadirkan tata kelola organisasi yang modern tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren yang menjadi akar perjuangannya.

Karena itu, forum yang akan berlangsung di Kediri tersebut diperkirakan tidak hanya menjadi ajang pembahasan program kerja, tetapi juga ruang strategis untuk merumuskan arah perjalanan NU menjelang agenda Muktamar mendatang.

Dengan berkumpulnya para ulama, pengurus, dan tokoh Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah, Munas dan Konbes NU 2026 diharapkan melahirkan keputusan-keputusan yang mampu memperkuat peran organisasi dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, serta pelayanan kepada masyarakat luas.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar