Editor
KOMPAS.com - Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan menandai awal tahun baru Hijriah.
Namun, di tengah masyarakat masih beredar berbagai mitos yang mengaitkan Muharram dengan kesialan, larangan bepergian, hingga pantangan menggelar hajatan.
Menanggapi hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan umat Islam agar tetap berpegang pada akidah yang benar dan tidak mempercayai keyakinan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Baca juga: Mengenal Bulan Muharram, Pembuka Tahun Hijriah yang Mulia dan Diharamkan untuk Berperang
MUI juga mengajak umat menjadikan Muharram sebagai momentum memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri.
Komisi Fatwa MUI mengimbau umat Islam agar tidak meyakini berbagai mitos yang berkembang terkait bulan Muharram.
Baca juga: Kapan Libur Tahun Baru Islam 2026? Cek Jadwal Long Weekend 1 Muharram 1448 Hijriah
Keyakinan bahwa Muharram merupakan bulan yang membawa kesialan atau tidak baik untuk bepergian maupun menggelar hajatan dinilai tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, menegaskan bahwa seorang Muslim harus meyakini seluruh hari dan bulan sebagai ciptaan Allah SWT yang tidak memiliki unsur kesialan.
"Sebagai Muslim yang menjaga kesahihan akidah dan kepercayaan kepada Allah SWT, kita harus meyakini bahwa semua hari dan bulan itu tidak ada yang sial. Hari Senin sampai Ahad itu sama, bahkan ada keutamaan misalnya hari Jumat sebagai sayyidul ayyam (penghulu hari)," kata dia kepada MUIDigital, Ahad (29/6/2025).
Menurutnya, Islam memang memberikan keutamaan pada waktu-waktu tertentu, seperti hari Jumat yang dikenal sebagai penghulu hari.
Pada hari tersebut umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, membaca Al-Quran, berdzikir, dan melakukan qiyamul lail.
KH Miftahul Huda menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih dipengaruhi tradisi dan kepercayaan yang berkembang sebelum Islam hadir, khususnya di lingkungan budaya Jawa.
"Dalam tradisi Jawa ada yang mengibaratkan hari yang menakutkan apalagi Jumat Keliwon. Ini tidak sesuai kepercayaan dan keyakinan agama Islam," tegasnya.
Ia mengakui bahwa umat Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial dan budaya yang telah berkembang selama berabad-abad.
Meski demikian, kepercayaan yang bertentangan dengan akidah Islam tidak boleh dijadikan pegangan.
"Kita tidak bisa terlepas dari itu, sebagai Muslim yang baik, kita meyakini bahwa hal itu tidak dibenarkan dalam keyakinan agama," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Ahmad Zubaidi, mengingatkan bahwa Muharram merupakan salah satu bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.
Karena itu, umat Islam dianjurkan mengisi bulan tersebut dengan berbagai amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
“Kenapa dinamakan Muharam? Karena bulan ini dimuliakan oleh Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi segala bentuk kezaliman,” ujarnya kepada MUIDigital di Jakarta, Senin.
Menurutnya, Muharram seharusnya dijadikan momentum untuk melakukan muhasabah, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Karena bulan ini mulia, maka semua umat Islam harus memuliakannya dengan kebaikan. Umat Islam juga dilarang melakukan kemaksiatan maupun kezaliman,” jelasnya.
KH Ahmad Zubaidi menegaskan bahwa larangan berbuat zalim berlaku setiap waktu. Namun, pada bulan-bulan haram seperti Muharram, larangan tersebut mendapatkan penekanan yang lebih kuat sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran.
“Jangan kau berbuat zalim pada dirimu sendiri pada bulan-bulan ini.” Kezaliman kepada diri sendiri juga mencakup kezaliman kepada orang lain, kata dia menambahkan.
Karena itu, MUI mengajak umat Islam untuk meninggalkan berbagai keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam syariat dan memanfaatkan bulan Muharram sebagai kesempatan memperbanyak amal kebaikan, memperkuat keimanan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang