Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kiai Said dan Kiai Imam Jazuli: Pesantren Harus Berani Berubah atau Mati

Kompas.com, 15 Juni 2026, 16:32 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pesantren dituntut berani melakukan perubahan agar tetap relevan menghadapi perkembangan zaman.

Jika gagal merespons perubahan dengan tepat, lembaga pendidikan Islam tersebut terancam tertinggal bahkan kehilangan perannya di tengah masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-4 yang digelar di Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan yang diikuti 190 pengasuh pesantren dari Jawa Tengah itu menghadirkan mantan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, sebagai keynote speaker dan dipandu langsung oleh Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli.

Dalam kesempatan tersebut, KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa kiai dan pesantren harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi pesantren.

Menurutnya, perubahan merupakan keniscayaan yang harus dihadapi dengan sikap terbuka. Namun keterbukaan itu tetap harus dibarengi dengan komitmen menjaga nilai-nilai dasar keislaman dan kebangsaan.

“Kiai harus terbuka terhadap kemajuan zaman di satu sisi, dan menjaga mabda asasi atau prinsip dasar di sisi lain,” ujar Kiai Said dikutip dari keterangan tertulis.

Baca juga: Gus Yahya Apresiasi Pelatihan 5.000 Pengasuh Pesantren Hadapi Era Disrupsi

Ia mencontohkan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, sebagai figur yang berhasil memadukan nilai keislaman dan semangat kebangsaan dalam satu kesatuan yang utuh.

“Mbah Hasyim Asy’ari adalah sosok yang harus diteladani oleh para kiai NU terkait hal ini. Beliau mampu menyatukan semangat keislaman dan kebangsaan yang sulit ditemukan sosoknya di negara-negara Timur Tengah,” katanya.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Kiai Said mengingatkan bahwa pesantren tidak boleh hanya menjadi penonton.

Menurutnya, pesantren harus ikut mengambil peran dalam melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan identitas keulamaannya.

“Kiai dan pesantren harus siap berubah supaya bisa melahirkan tokoh-tokoh hebat di bidang sains dan teknologi yang juga seorang ulama seperti di era keemasan Islam,” jelasnya.

Kiai Said juga mengingatkan para pengasuh pesantren agar tidak menyebarkan cara pandang fatalistis yang mengatasnamakan tasawuf.

Sebaliknya, pesantren harus menjadi pusat lahirnya optimisme, semangat kemajuan, dan mental pemenang.

“Jangan mengajarkan sedikit asal berkah, tapi ajarkan banyak dan berkah. Jangan mengajarkan kalah di dunia dan menang di akhirat, tapi ajarkan menang di dunia dan menang akhirat,” tegasnya disambut antusias peserta.

Baca juga: Menag: Santri Harus Tampil Jadi Pemimpin Bangsa, Pesantren Kunci Hadapi Tantangan Zaman

Sementara itu, KH Imam Jazuli menegaskan bahwa perubahan bukan lagi pilihan, melainkan hukum kehidupan yang tidak bisa dihindari.

Menurutnya, baik individu maupun lembaga akan menghadapi risiko kemunduran apabila tidak mampu merespons perubahan yang terjadi di sekitarnya.

“Perubahan adalah peristiwa yang mabni atau tidak bisa dihindari. Perubahan tidak bisa membikin manusia atau lembaga mati. Kematian akan dialami oleh manusia dan lembaga yang gagal merespons perubahan dengan tepat,” kata Kiai Imam.

Penulis buku Terobosan Pesantren Memimpin Perubahan (2024) itu menjelaskan bahwa keberhasilan transformasi pesantren sangat bergantung pada keberanian para pengasuh dalam mengambil keputusan.

Karena itu, workshop yang digelar secara khusus hanya mengundang para pengasuh pesantren yang memiliki kewenangan penuh untuk menentukan arah perubahan di lembaganya masing-masing.

“Karena itu, workshop ini hanya mengundang para pengasuh yang memiliki power untuk memutuskan perubahan,” ujarnya.

Menurut Kiai Imam, transformasi pesantren harus dilakukan secara terencana agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat posisi pesantren di masa depan.

Ia optimistis gerakan perubahan yang dimulai dari ribuan pengasuh pesantren akan membawa dampak besar terhadap perkembangan pendidikan Islam nasional.

“Saya yakin, jika 5.000 pengasuh pesantren seluruh Indonesia menjalankan gagasan perubahan yang muncul di workshop ini, tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya, pesantren akan menjadi top of the mind masyarakat,” ungkapnya.

Baca juga: Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan

Lebih jauh, Kiai Imam meyakini bahwa keberanian melakukan perubahan sejak dini akan membuka jalan bagi para alumni pesantren untuk menduduki posisi-posisi penting dalam pembangunan nasional.

“Selain itu, saat para kiai berani melakukan perubahan sejak dini, maka alumni pesantren juga akan menempati posisi-posisi sentral dan strategis dalam pembangunan Indonesia masa depan,” tuturnya.

Di samping itu, KH Baihaqi, Pengasuh Pesantren Raudhatul Jannah, Rembang, menilai materi yang disampaikan memberikan perspektif baru bagi para pengambil keputusan di lingkungan pesantren.

Menurutnya, strategi yang dibagikan Kiai Imam Jazuli merupakan terobosan untuk membawa pesantren naik ke level yang lebih tinggi.

Sementara itu, KH Rosikh Roghibi dari Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi Asy-Syar’i Karangmangu mengaku memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai langkah-langkah perubahan yang bisa diterapkan di lembaganya.

“Saya semakin pe-de dan semakin bisa membayangkan langkah-langkah perubahan setelah menyimak bagaimana Kiai Imam Jazuli membongkar lika-likunya dalam merintis dan membesarkan Bina Insan Mulia,” ujarnya.

Ketua Panitia Workshop, Ubaydillah Anwar, mengatakan antusiasme peserta membuat panitia memutuskan mempercepat target pelaksanaan program nasional tersebut.

Jika sebelumnya workshop dijadwalkan selesai pada akhir tahun, kini pelaksanaannya akan dipadatkan sepanjang Juli hingga Agustus 2026.

“Semula workshop ini kami laksanakan sepekan sekali, tapi nanti di bulan Juli-Agustus, workshop akan kami laksanakan tiga kali sepekan,” kata Ubaydillah.

Ia menambahkan, targetnya sebanyak 5.000 pengasuh pesantren dari seluruh Indonesia telah mengikuti workshop sebelum akhir Agustus 2026 sehingga dapat langsung menerapkan berbagai gagasan transformasi pada tahun ajaran baru 2026/2027.

“Tujuan kami supaya 5.000 pesantren telah mengikuti workshop semua di akhir Agustus 2026 sehingga dapat bertransformasi di tahun ajaran baru 2026/2027 ini,” tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com