BANYUWANGI, KOMPAS.com - Bagi sebagian orang, gelar "haji" atau "hajjah" sering kali dipandang sebagai simbol kehormatan baru di tengah masyarakat.
Ada ego yang merasa naik kelas setelah pulang dari Tanah Suci.
Padahal, esensi ibadah yang mulia ini sama sekali bukan tentang bagaimana manusia menyematkan hormat, melainkan seberapa besar perubahan yang terjadi pada diri seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.
haji mabrur bukanlah persoalan prestise sosial, melainkan sebuah prestasi spiritual.
Nabi SAW dengan tegas mengingatkan dalam sabdanya:
«وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»
"Dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga." (HR Bukhari)
Tentu, jaminan surga ini tidak datang cuma-cuma.
Baca juga: Cerita Mbah Marsiyah Jemaah Haji Tertua 105 Tahun, Selalu Sehat Selama Berhaji
Para ulama terdahulu, seperti Imam An-Nawawi, menjelaskan bahwa salah satu indikator nyata dari haji yang mabrur adalah ketika seseorang kembali ke tanah air dalam keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya, serta tidak lagi mengulangi maksiat.
Ada perubahan orientasi hidup yang kentara.
Ibadahnya menjadi lebih ikhlas, hartanya dipastikan halal, dan akhlaknya melunak kepada sesama.
Ketika ditanya mengenai apa itu haji mabrur, Rasulullah SAW bahkan memberikan jawaban yang sangat membumi: “Memberi makan dan menebarkan salam.”
Artinya, ada kepedulian sosial yang lahir dari kematangan spiritual tersebut, dan menjaga konsistensi ibadah pasca-haji jelas bukan perkara mudah.
Menanggapi fenomena kepulangan jemaah haji, Lajnah Dakwah Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi Ahsanul Falihin mengingatkan pentingnya menjaga momentum spiritual ini agar tidak menguap begitu saja.
"Orang yang telah berhaji tidak boleh bersandar pada amalnya, tetapi wajib baginya untuk terus istikamah dalam ketaatan hingga akhir hayat. Maknanya adalah hendaknya mereka membuka lembaran amal yang baru dan terus istikamah di atasnya. Singkatnya, teruslah beramal dan jangan berhenti hingga ajal menjemput," ungkap Ahsanul Falihin.
Pada akhirnya, panggung haji yang sesungguhnya justru baru dimulai ketika kaki kembali menginjak bumi pertiwi.
Apakah gelar tersebut akan menjadi sekadar hiasan nama di undangan-undangan sosial, atau justru menjelma menjadi karakter baru yang penuh takwa dan bersih dari dosa?
Baca juga: Komisi VIII DPR Dorong BPKH Lebih Independen untuk Optimalkan Investasi Dana Haji
Semoga para jemaah yang kembali ke tanah air pulang membawa predikat mabrur yang dinarasikan dalam doa:
«اللَّهُمَّ حَجًّا مَبْرُورًا، وَسَعْيًا مَشْكُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا»
"Ya Allah, anugerahkanlah haji yang mabrur, sa'i yang disyukuri, dan dosa yang diampuni."
Sebuah kepulangan yang suci, seperti hari ketika mereka pertama kali dilahirkan ke dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang