Editor
KOMPAS.com - Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan menandai awal tahun baru Hijriah.
Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, termasuk menjalankan puasa sunnah.
Di antara puasa sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa Tasu'a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram.
Baca juga: 6 Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram, Hapus Dosa Setahun
Puasa Asyura memiliki keutamaan besar karena dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah berlalu serta menjadi salah satu sunnah yang sangat dijaga oleh Rasulullah SAW.
Puasa Asyura memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Hal ini tercermin dari perhatian khusus Rasulullah SAW terhadap puasa tersebut sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu:
Baca juga: Bolehkah Puasa Asyura Tanpa Puasa Tasua? Simak Hukumnya Menurut Ulama
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا اليَوْمَ، يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَهَذَا الشَّهْرَ، يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
Artinya: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Muhammad SAW begitu bersungguh-sungguh memilih untuk berpuasa pada suatu hari yang beliau utamakan atas hari-hari lainnya selain hari ini, yaitu hari Asyura’, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadan.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Hari Asyura mendapat perhatian istimewa dari Nabi SAW.
Di antara banyak hari dalam setahun, Rasulullah SAW secara khusus mengutamakan pelaksanaan puasa pada hari Asyura.
Para ulama menganjurkan agar niat puasa sunnah dihadirkan dalam hati dan dilafalkan untuk membantu menghadirkan kesungguhan niat.
Apabila berniat sejak malam hari, niat puasa Asyura dapat dibaca sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الْعَاشُوْرَاءِ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat berpuasa sunnah Asyura’ esok hari karena Allah Ta’ala.”
Dalam mazhab Syafi'i, niat puasa sunnah yang dilakukan pada pagi hari atau sebelum masuk waktu Dzuhur tetap sah selama belum makan, minum, maupun melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Hal ini sebagaimana diterangkan Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul Mu'in:
وَاحْتَرَزَ بِاشْتِرَاطِ التَّبْيِيتِ فِي الْفَرْضِ عَنِ النَّفْلِ، فَتَصِحُّ فِيهِ وَلَوْ مُؤَقَّتًا النِّيَّةُ قَبْلَ الزَّوَالِ
“Kewajiban berniat pada malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib. Adapun puasa sunnah, maka niat tetap sah apabila dilakukan sebelum waktu Dzuhur.” (Fathul Mu’in [Beirut: Dar Ibn Hazm], h. 262)
Jika niat baru dilakukan pada pagi hari tanggal 10 Muharram sebelum Dzuhur, lafaz yang dapat dibaca ialah:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الْعَا شُوْرَاءِ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Asyura’ hari ini karena Allah SWT.”
Para ulama juga menjelaskan bahwa puasa sunnah tetap sah meski dilakukan dengan niat puasa sunnah secara umum tanpa menyebut secara khusus puasa Asyura.
Selain menunjukkan perhatian besar terhadap puasa Asyura, Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaannya dalam hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu:
عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Qatadah r.a: ‘Sungguh Rasulullah SAW bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura’, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura’ melebur dosa setahun yang telah lewat.’” (HR Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan besarnya pahala yang dijanjikan bagi orang yang menjalankan puasa Asyura sehingga amalan ini menjadi salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan Muharram.
Ulama mazhab Syafi'i menganjurkan agar puasa Asyura tidak dilakukan sendirian, tetapi disertai puasa Tasu'a pada 9 Muharram.
Syekh Zakariya al-Anshari menjelaskan:
وَيُسْتَحَبُّ صَوْمُ عَاشُورَاءَ وَهُوَ عَاشِرُ الْمُحَرَّمِ مَعَ تَاسُوعَاءَ وَهُوَ تَاسِعُهُ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. وَقَالَ: لَئِنْ عِشْت إلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ فَمَاتَ قَبْلَهُ رَوَاهُمَا مُسْلِمٌ
“Disunnahkan berpuasa pada Hari Asyura’, yaitu tanggal sepuluh bulan Muharram, bersamaan dengan puasa Tasu’a, yaitu tanggal sembilannya. Rasulullah SAW bersabda: Aku berharap kepada Allah agar puasa pada hari Asyura’ dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu. Beliau juga bersabda: Jika aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu’a). Namun, beliau wafat sebelum datangnya tahun berikutnya. Kedua hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim.” (Asna al-Mathalib fi Syarh Raudh at-Thalib [Mesir: al-Mathba’ah al-Maimuniyah], vol. 1, h. 431)
Para ulama juga membagi tingkatan puasa Asyura menjadi tiga, yaitu:
Pelaksanaan puasa Asyura pada dasarnya sama dengan puasa sunnah lainnya.
1. Niat
Seseorang dapat berniat pada malam hari atau sebelum Dzuhur apabila belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
2. Sahur
Seperti ibadah puasa lainnya, seseorang juga disunnahkan untuk makan sahur.
3. Menahan Nafsu
Selama puasa, seseorang perlu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, sekaligus menjaga lisan, pandangan, dan perbuatan dari berbagai bentuk maksiat.
4. Berbuka
Salah satu yang dianjurkan adalah menyegerakan berbuka ketika waktu Maghrib telah tiba.
Dengan berbagai keutamaannya, puasa Asyura menjadi salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan Muharram.
Selain menjadi sebab diampuninya dosa-dosa setahun yang telah lalu, puasa Asyura juga merupakan bentuk meneladani sunnah Nabi Muhammad SAW serta menghidupkan hari-hari mulia pada awal tahun Hijriah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang