Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Salam Maju Calon Ketum PBNU, Sebut Dapat Perintah dari KH Nurul Huda Djazuli

Kompas.com, 29 Juni 2026, 08:51 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam menyatakan kesiapannya maju sebagai kandidat calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU.

Ia menyebut langkah tersebut didasari perintah dari sesepuh NU, KH Nurul Huda Djazuli, serta mendapat dukungan dari sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama.

Dilansir dari Antara, Gus Salam menegaskan salah satu misi yang diusungnya adalah membangun rekonsiliasi dan memperkuat persatuan di lingkungan PBNU.

Baca juga: Tokoh Muda NU Berharap Muktamar ke-35 NU Bisa Hasilkan Pemimpin Pemersatu

Pernyataan itu disampaikan saat bersilaturahmi dengan jajaran PWNU Aceh dan pengurus cabang NU se-Aceh di sela Musyawarah Kerja Wilayah NU Aceh di Banda Aceh.

"Latar belakang kami berikhtiar untuk mengabdi di PBNU pada Muktamar akan datang, yang paling utama atas perintah KH Nurul Huda Djazuli," kata Gus Salam di Banda Aceh, Minggu (28/6/2026).

Baca juga: PBNU Jadwalkan Muktamar NU 2026 pada 1-5 Agustus, Lokasi Belum Diputuskan

Sebagai informasi, Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 telah menyepakati pelaksanaan Muktamar ke-35 NU pada 1–5 Agustus 2026.

Sementara itu, lokasi penyelenggaraan muktamar hingga kini masih belum ditetapkan.

Gus Salam Bawa Misi Rekonsiliasi dan Persatuan PBNU

Gus Salam mengatakan KH Nurul Huda Djazuli menginginkan kepengurusan PBNU tetap rukun, bersatu, dan kompak mengingat organisasi tersebut menjadi wadah para ulama yang menjadi panutan masyarakat.

"Beliau sangat sedih (KH Nurul Huda Djazuli), dan prihatin melihat adanya konflik terbuka di pengurus PBNU," ujarnya.

Ia menuturkan, dalam sebuah pertemuan di Malang beberapa waktu lalu, KH Nurul Huda Djazuli secara langsung memintanya untuk berikhtiar menjadi pemimpin PBNU pada muktamar mendatang.

"Kamu sebagai santri. Kamu juga mengabdi di NU sekarang. Harus ikhtiar menjadi pemimpin di Muktamar yang akan datang," ujarnya mengulangi ucapan ulama yang akrab disapa Kiai Da itu.

Menurut Gus Salam, Kiai Da memberikan dua amanat utama.

Pertama, membangun PBNU yang lebih rukun, kompak, bersatu, serta mampu melakukan rekonsiliasi secara menyeluruh.

Kedua, memperkuat tata kelola organisasi agar tetap menjaga nilai-nilai pesantren sebagai ciri khas Nahdlatul Ulama.

"Dua pesan utama itu yang beliau sampaikan kepada kami. Dan itu tidak hanya sekali," katanya.

Gus Salam Mengaku Sempat Merasa Belum Layak

Gus Salam mengaku sempat meragukan dirinya setelah menerima amanat tersebut karena merasa belum pantas menjadi pemimpin PBNU.

"Saya sendiri mengatakan saya tidak pantas, maka saya kemudian meminta kepastian lagi kepada pendamping beliau (Kiai Da). Apakah benar ini meminta saya untuk ikhtiar di muktamar ini. Apakah tidak salah? Dan ternyata memang itu dari beliau," katanya.

Setelah memperoleh kepastian, ia memutuskan menjalankan amanat tersebut sebagai bentuk kepatuhan seorang santri kepada gurunya.

"Maka kemudian yang pertama untuk menuju kebersamaan, kekompakan, kami kemudian melakukan sowan (berkunjung) kepada semua stakeholder yang ada di Nahdlatul Ulama, baik kepada sesepuh maupun pengurus. Karena sudah mendapatkan restu, kita akan lakukan rekonsiliasi total," tegas Gus Salam.

PWNU Aceh Belum Tentukan Dukungan

Sementara itu, Sekretaris PWNU Aceh, Tgk Asnawi M Amin, mengatakan pihaknya belum menentukan dukungan kepada kandidat tertentu dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.

Menurutnya, PWNU Aceh masih ingin mendengarkan paparan visi, misi, dan program kerja seluruh calon sebelum mengambil sikap.

Ia mengatakan, hingga saat ini baru Gus Salam yang bersilaturahmi dengan pengurus NU se-Aceh.

Namun, PWNU Aceh membuka kesempatan yang sama bagi kandidat lainnya untuk bertemu dan berdialog dengan pengurus wilayah maupun cabang.

"Para kandidat yang ingin bertemu seluruh cabang kita tidak keberatan, dan memberikan kesempatan kepada semua calon. Bisa jadi nanti yang lain, semua kita terima," katanya.

PWNU Aceh juga mengajak seluruh pengurus cabang untuk bermusyawarah sebelum menentukan dukungan pada Muktamar ke-35 NU.

"Gus Salam yang pertama, kita berharap kandidat lainnya juga datang bertemu silaturahmi dan berinteraksi langsung dengan pengurus NU se Aceh," demikian Tgk Asnawi M Amin.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar