Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Muktamar Ke-35 NU, KH Imam Jazuli dan Gus Muhaimin Bertemu Bahas Masa Depan NU

Kompas.com, 29 Juni 2026, 14:59 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli bertemu dengan Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Gus Muhaimin Iskandar, di Aston Cirebon pada Minggu malam (28/06/2026).

Pertemuan tersebut membahas dinamika Nahdlatul Ulama (NU) serta upaya penguatan sinergi antara Jam’iyah NU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) demi kemaslahatan umat dan Nahdliyin.

KH Imam Jazuli menilai Muhaimin Iskandar sebagai tokoh penting di lingkungan NU yang memiliki tanggung jawab historis, moral, dan ideologis terhadap keberlangsungan organisasi.

Tanggung Jawab dan Dinamika Internal

“Sebagai cicit salah satu muassis Nahdlatul Ulama, Gus Muhaimin memiliki tanggung jawab biologis sekaligus ideologis untuk menjaga arah dan masa depan NU. Karena itu, setiap langkah dan pandangan beliau selalu menjadi perhatian warga Nahdliyin dan tidak bisa dilepaskan dari dinamika yang terjadi di tubuh NU,” ujar Kiai Imjaz, sapaan akrab KH Imam Jazuli.

Baca juga: Jelang Muktamar NU 2026, Rembug Warga NU Soroti Tata Kelola PBNU dan Beri Rekomendasi

Dalam diskusi, keduanya sepakat untuk menghentikan "hiruk-pikuk, gonjang-ganjing, dan disorientasi" di lingkungan organisasi.

“Kami sepakat bahwa hiruk-pikuk, gonjang-ganjing, dan disorientasi di lingkungan organisasi harus dihentikan. NU memiliki tugas besar dalam bidang sosial, pendidikan, keagamaan, dan ekonomi yang menyentuh langsung kebutuhan jemaah. Jangan sampai energi organisasi habis untuk persoalan perebutan pengaruh dan kekuasaan internal,” tegasnya.

Sinergi NU dan PKB

KH Imam Jazuli menekankan pentingnya hubungan sehat dan produktif antara NU dan PKB, yang lahir dari akar sejarah dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang sama.

“NU dan PKB lahir dari rahim perjuangan yang sama. Karena itu, hubungan keduanya harus ditata kembali secara dinamis, harmonis, dan sinergis. Yang diperlukan bukan saling menguasai atau mengkooptasi, melainkan saling menguatkan sesuai peran dan fungsi masing-masing,” katanya.

Pembagian peran yang jelas dianggap penting untuk menjaga marwah dan efektivitas perjuangan kedua institusi.

“NU harus fokus pada penguatan sosial, pendidikan, dakwah, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara PKB menjalankan peran politik kebangsaan melalui jalur demokrasi dan kebijakan publik. Ketika masing-masing berjalan sesuai khittah dan tugasnya, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh warga Nahdliyin dan masyarakat luas,” imbuhnya.

Visi dan Apresiasi

KH Imam Jazuli mengaku optimis dengan visi Gus Muhaimin Iskandar untuk membangkitkan kapasitas dan kemandirian warga Nahdliyin.

“Saya melihat Gus Muhaimin memiliki semangat yang sangat besar dan visi yang kuat untuk membangkitkan Nahdliyin agar lebih maju dan berdaya di berbagai bidang. Semangat itu tidak hanya sekadar gagasan, tetapi juga diwujudkan secara konkret dan bertahap melalui berbagai kebijakan, regulasi, program pemberdayaan, dan penguatan aspirasi warga Nahdliyin melalui jalur politik kebangsaan,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi NU dan PKB mengedepankan kepentingan umat.

“Yang terpenting adalah bagaimana seluruh energi yang dimiliki NU dan PKB diarahkan untuk kemaslahatan umat, memperkuat pendidikan, ekonomi, dakwah, dan kesejahteraan warga Nahdliyin. Di situlah esensi perjuangan yang harus terus dijaga bersama,” pungkasnya.

Sementara itu, Muhaimin Iskandar mengapresiasi KH Imam Jazuli sebagai kiai transformatif yang memadukan keilmuan Islam dengan tantangan zaman.

“Konsep transformasi pendidikan pesantren inisiasi Kiai Imam Jazuli merupakan contoh nyata bagaimana pesantren mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri dan tradisi keislaman yang kuat, dan ini harus jadi percontohan untuk pengembangan pendidikan di PBNU,” ujar Cak Imin.

Menko PM kabinet Prabowo-Gibran ini menambahkan apresiasinya.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kiai Imam Jazuli. Beliau adalah sosok yang memiliki gagasan konsisten dan jauh melampaui zamannya. Ketika banyak lembaga pendidikan di NU masih berfokus pada pola-pola konvensional, beliau sudah memikirkan, merancang dan menggerakkan transformasi pendidikan di pesantren yang mampu menyiapkan generasi masa depan,” lanjutnya.

Baca juga: Tokoh Muda NU Berharap Muktamar ke-35 NU Bisa Hasilkan Pemimpin Pemersatu

Simbolis Pertemuan

Pertemuan tersebut diakhiri dengan penyerahan Keris kerajaan Mataram abad ke-16 dan kiswah Ka’bah dari KH Imam Jazuli kepada Muhaimin Iskandar.

Keris tersebut memiliki gagang dari batu giok berukir pewayangan Bina Insan Mulia (BIMA) dan disebut sebagai pusaka BIMA yang pernah digunakan raja Mataram, diyakini cocok dipegang oleh orang yang bercita-cita memimpin Nusantara.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar