Editor
KOMPAS.com - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Angkatan XI Tahun 2026 di Pesantren Bumi Sholawat Progresif, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 6-12 Juli 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk melahirkan cetak biru kepemimpinan nasional.
Ketua Umum PP GP Ansor, Dr H Addin Jauharudin, menegaskan bahwa kaderisasi merupakan jangkar organisasi.
Ia menekankan pentingnya mencetak mimpi-mimpi baru di tengah perubahan zaman dan keragaman kader.
"Ansor adalah rumah terbuka, mimpi apapun bisa kita cetak. Tempat berkumpulnya harapan, itulah organisasi. Kedepan, seluruh instrumen dan struktur Ansor harus hadir dengan kemampuan-kemampuan barunya," tegas Addin dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).
Baca juga: GP Ansor Rombak Kepengurusan, Libatkan Tokoh Muda NU untuk Perkuat Organisasi
Addin menilai tantangan Ansor di masa depan semakin besar, terutama dengan potensi munculnya masyarakat tanpa nilai dan tanpa organisasi.
Ia mendorong kader untuk menggerakkan orang melalui ide dan karya.
"Bagaimana kita menggerakkan orang dengan ide dan karya kita, bahkan tanpa kita harus bergerak secara fisik? Seorang pemimpin itu adalah pemimpin ide," cetus Addin.
Doktor bidang Ilmu Manajemen Strategis Universitas Brawijaya itu menolak kepengurusan yang berjalan biasa-biasa saja dan menginstruksikan penciptaan ritme organisasi yang luar biasa dengan menggerakkan seluruh struktur.
Dalam mendorong kapasitas kader, Addin menggarisbawahi bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) adalah kunci kemakmuran ekonomi.
Ia menginstruksikan jajaran struktur untuk masif membangun "sekolah pelatihan" mandiri guna menciptakan lapangan kerja baru.
"Tidak boleh ada lahan dan orang yang nganggur. Semua aset harus bisa kita kelola secara maksimal. Itulah fungsi kepemimpinan," kata Addin.
Wakil Menteri Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus kader Ansor, Aminuddin Ma'ruf, yang hadir sebagai narasumber pada Kamis (9/7/2026), menyetujui pandangan tersebut.
Aminuddin menegaskan bahwa transformasi besar harus berakar pada integritas niat dan ketajaman visi.
Ia mencontohkan BUMN yang melakukan streamlining radikal, menyederhanakan portofolio dari 1.074 entitas menjadi sekitar 281 entitas pada tahun 2026 demi efisiensi dan tata kelola yang ramping.
"Organisasi yang besar tidak boleh terjebak dalam kompleksitas birokrasi internal yang mengaburkan mandat utamanya. Begitu pula dengan GP Ansor," ujar Amin.
PKN Angkatan XI Sidoarjo menghadirkan teknokrat, profesional, dan tiga guru besar terkemuka sebagai narasumber: Prof. Drs. Ec.
Abdul Mongid MA PhD (Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Airlangga), Prof Mas’ud Said MM PhD (Guru Besar Ilmu Pemerintahan & Direktur Pascasarjana UNISMA), dan Prof Dr Widodo SSi MSi PhD (Guru Besar Biologi Molekular & Rektor Universitas Brawijaya).
"Kehadiran para akademisi lintas disiplin ini sengaja dilibatkan untuk memperluas cakrawala berpikir para kader, baik dari aspek manajemen modern, tata kelola pemerintahan, hingga sains global," jabar Addin.
PKN XI Sidoarjo dibuka di Pondok Pesantren Bumi Sholawat Progresif Sidoarjo pada 7 Juli 2026 dan ditutup di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur.
Baca juga: Gowes 123 Km Bangkalan–Jombang, GP Ansor Ajak Anak Muda Telusuri Jejak Ulama
Menurut Addin, Tambakberas merupakan pesantren yang melahirkan pencetus embrio Nahdlatul Ulama, KH Wahab Hasbullah, sekaligus inisiator berdirinya GP Ansor.
Lokasi ini juga akan menjadi tempat Muktamar ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026.
“Mbah Wahab selain pendiri NU, juga pendiri Ansor. Dan kita telah melakukan tirakat sepeda dari Bangkalan ke Jombang. Maka harapan besarnya Ansor akan menjadi penggerak organisasi seperti teladan dari Mbah Wahab. Selain itu, tanggung jawab kita, Ansor Banser adalah memastikan muktamar berjalan dengan aman dan sukses,” tandas Addin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang