Editor
KOMPAS.com - Fenomena Rashdul Qiblat kembali terjadi pada 15 dan 16 Juli 2026 dan dapat dimanfaatkan umat Islam untuk memverifikasi arah kiblat secara akurat.
Peristiwa astronomi ini terjadi ketika matahari berada tepat di atas Kabah sehingga bayangan benda tegak dapat dijadikan acuan menentukan arah kiblat.
Masyarakat dapat melakukan pengecekan secara mandiri di rumah maupun bersama petugas Kementerian Agama.
Baca juga: Menag Ajak Masyarakat Cek Arah Kiblat saat Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026
Momentum ini juga menjadi bagian dari Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 yang digelar Kementerian Agama.
Fenomena Rashdul Qiblat merupakan peristiwa astronomi saat matahari berada tepat di titik zenit Kabah.
Baca juga: Di Mana Kiblat Umat Islam yang Pertama Kali?
Peristiwa ini terjadi dua kali setiap tahun dan menjadi metode ilmiah untuk memverifikasi arah kiblat dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Tahun ini, Rashdul Qiblat dapat diamati pada Rabu dan Kamis, 15 dan 16 Juli 2026, tepat pukul 16.27 WIB, 17.27 WITA, dan 18.27 WIT.
Pada waktu tersebut, sinar matahari berada tepat di atas Kabah sehingga bayangan benda yang berdiri tegak lurus di permukaan bumi menunjukkan arah kiblat secara presisi.
Untuk memanfaatkan fenomena ini, masyarakat cukup menyiapkan tongkat atau benda lain yang dipasang tegak lurus di tempat terbuka.
Selanjutnya, amati arah bayangan yang terbentuk tepat pada waktu terjadinya Rashdul Qiblat.
Garis yang ditarik dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat menunjukkan arah Kabah sehingga dapat dijadikan acuan untuk memastikan ketepatan arah kiblat.
Metode ini menjadi salah satu cara yang mudah, praktis, dan memiliki tingkat akurasi tinggi dalam memverifikasi arah kiblat.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam memanfaatkan fenomena Rashdul Qiblat untuk memastikan kembali ketepatan arah kiblat.
“Menghadap kiblat adalah bagian penting dalam kesempurnaan ibadah shalat kita. Karena itu, Kementerian Agama mengajak seluruh masyarakat untuk ikut serta dalam Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026," ujar Menag di Jakarta, Senin.
Menurut Nasaruddin Umar, menghadap kiblat merupakan bagian penting dalam kesempurnaan ibadah salat. Karena itu, memastikan arah kiblat yang benar menjadi ikhtiar yang perlu dilakukan agar pelaksanaan ibadah semakin sempurna.
“Kita akan memanfaatkan momentum saat posisi matahari berada tepat di atas Kabah sehingga dapat digunakan untuk memverifikasi arah kiblat secara mudah, praktis, dan presisi,” kata Menag.
Melalui Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026, Kementerian Agama mengajak seluruh masyarakat, takmir masjid dan musala, Kantor Urusan Agama (KUA), madrasah, pondok pesantren, perguruan tinggi, instansi pemerintah, kantor swasta, hotel, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat di lingkungan rumah untuk bersama-sama melakukan verifikasi arah kiblat.
Peserta dapat mendaftarkan lokasi pengukuran melalui portal https://indonesiaberkiblat.kemenag.dev.
Setelah membuat akun dan mengisi data lokasi, peserta dapat mengikuti pengukuran secara serentak sesuai waktu terjadinya fenomena matahari di atas Kabah di wilayah masing-masing.
Portal tersebut juga menyediakan panduan teknis pelaksanaan sehingga masyarakat dapat melakukan pengukuran arah kiblat secara mandiri maupun bersama petugas Kementerian Agama di daerah.
Melalui Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026, Kementerian Agama berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan fenomena Rashdul Qiblat untuk memastikan ketepatan arah kiblat.
Dengan metode yang sederhana dan berbasis perhitungan astronomi, verifikasi arah kiblat dapat dilakukan secara mudah, praktis, dan memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang