Editor
KOMPAS.com - Ikhlas merupakan salah satu nilai utama dalam ajaran Islam yang menjadi dasar diterimanya amal ibadah di sisi Allah SWT.
Al-Qur'an menjelaskan makna ikhlas melalui berbagai ayat yang menunjukkan pentingnya memurnikan niat hanya untuk Allah.
Pemahaman tentang ikhlas tidak hanya berkaitan dengan aspek teologis, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Karena itu, setiap Muslim dituntut untuk menjaga ketulusan hati agar setiap amal terbebas dari pamrih dan riya.
Dilansir dari laman Muhammadiyah, dalam Kajian Gerakan Subuh Mengaji pada Kamis (5/12/2024), Wakil Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Cecep Taufiqurraohman, pernah mengulas lima dimensi makna ikhlas berdasarkan Al-Qur'an.
Menurutnya, kelima dimensi tersebut menunjukkan bahwa ikhlas bukan sekadar konsep keagamaan, tetapi juga panduan praktis dalam membangun kualitas ibadah dan kehidupan seorang Muslim.
Baca juga: Surah Tiga Qul Lengkap (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) Keutamaan dan Waktu Terbaik Membacanya
Berikut penjelasan mengenai lima makna ikhlas dalam Al-Qur'an:
Makna pertama dari ikhlas adalah al-ishthifaa’ atau pilihan. Cecep mengutip QS. Shad ayat 46 yang menjelaskan bahwa Allah SWT memilih hamba-hamba-Nya yang ikhlas untuk menerima amanah besar.
Menurutnya, pemilihan tersebut bukan terjadi secara kebetulan, melainkan karena kesucian hati dan keutamaan yang dimiliki para hamba tersebut. Mereka dipilih bukan hanya untuk menjalankan perintah Allah, tetapi juga menjadi teladan bagi umat manusia.
Makna kedua adalah al-khuluus min as-syawaa’ib, yakni bersih dari segala bentuk kotoran hati. Cecep merujuk QS. An-Nahl ayat 66 yang menggambarkan susu murni sebagai perumpamaan kesucian hati orang-orang yang ikhlas.
Ia menjelaskan bahwa ikhlas berarti memurnikan niat dari berbagai kepentingan duniawi, seperti mengharapkan pujian, penghormatan, maupun balasan dari sesama manusia. Seluruh amal dilakukan semata-mata untuk memperoleh ridha Allah SWT.
Makna berikutnya adalah al-ikhtishaash atau kekhususan sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 94.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa hanya hamba-hamba tertentu yang mampu mengkhususkan seluruh amal ibadahnya untuk Allah SWT.
Kekhususan itu tercermin dari ketulusan dalam berbuat kebaikan tanpa mengharapkan imbalan ataupun pengakuan dari manusia.
Dimensi keempat adalah at-tauhid, yaitu mengesakan Allah SWT dalam setiap bentuk ibadah. Cecep mengutip QS. Al-A'raf ayat 29 sebagai landasan bahwa ikhlas merupakan inti dari tauhid.
Dalam pandangannya, seseorang yang ikhlas hanya mengarahkan seluruh ibadah kepada Allah SWT tanpa menyekutukan-Nya. Dengan demikian, ikhlas menjadi fondasi utama yang memastikan setiap amal dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah.
Makna terakhir adalah at-tathhir atau penyucian sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hijr ayat 40.
Ayat tersebut menegaskan bahwa hanya orang-orang yang telah disucikan Allah SWT dari berbagai noda dan dosa yang mampu mencapai tingkat keikhlasan sejati.
Penyucian itu tidak hanya tampak dalam perbuatan, tetapi juga dalam niat yang benar-benar murni.
Pada akhir kajiannya, Cecep Taufiqurraohman menyimpulkan bahwa hakikat ikhlas adalah memurnikan tujuan hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ikhlas berarti mengesakan Allah dalam setiap ibadah, membersihkan hati dari pamrih terhadap makhluk, serta tidak mengharapkan pujian maupun penghormatan dari manusia.
Menurutnya, di tengah kehidupan yang dipenuhi godaan untuk mencari pengakuan dan sanjungan, sikap ikhlas menjadi cahaya yang membimbing seorang hamba agar tetap tulus dalam beribadah dan beramal saleh.
Dengan keikhlasan, setiap amal tidak lagi berorientasi pada penilaian manusia, melainkan hanya mengharap ridha Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang