Editor
KOMPAS.com - Persatuan Ummat Islam (PUI) menilai promosi minuman beralkohol merek Newport yang melibatkan challenge hafalan Surah Ad-Dhuha di festival musik The Sounds Project menunjukkan kecerobohan dalam komunikasi pemasaran.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat PUI, Raizal Arifin, menyatakan bahwa kreativitas dalam pemasaran memiliki batas kepatutan, terutama ketika menyentuh simbol dan ajaran agama yang memiliki kedudukan sakral bagi masyarakat.
Raizal menegaskan pentingnya membedakan antara kreativitas dan olok-olok dalam promosi.
“Kita perlu membedakan antara kreativitas dan olok-olok. Kreativitas tidak berarti bebas memperlakukan apa saja sebagai bahan promosi. Ketika ayat Al-Qur’an ditempatkan dalam konteks promosi minuman beralkohol, batas kepatutan menjadi persoalan yang serius,” ujar Raizal dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8/2026).
Baca juga: Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Menurutnya, persoalan tersebut seharusnya dapat dicegah sejak tahap perencanaan kampanye dengan memiliki sensitivitas yang memadai terhadap konteks sosial, agama, dan budaya.
“Jangan sampai sebuah kecerobohan dalam membuat materi promosi kemudian dipersepsikan sebagai bentuk olok-olok terhadap agama. Kalau memang tidak ada maksud untuk melecehkan, maka justru penting bagi perusahaan untuk segera memberikan penjelasan dan mengambil langkah yang diperlukan,” katanya.
PUI memandang insiden ini sebagai pelajaran penting bagi dunia usaha mengenai tanggung jawab komunikasi di ruang publik, terutama karena pelafalan ayat suci disandingkan secara tidak patut dengan barang yang diharamkan.
“Dunia usaha boleh kreatif, tetapi tetap harus tahu batas. Sesuatu yang mulia tidak seharusnya dijadikan bahan permainan dalam komunikasi komersial,” tegas Raizal.
PUI mendorong pihak Newport dan manajemen terkait untuk memberikan klarifikasi secara terbuka mengenai materi promosi tersebut.
Baca juga: Viral Hafalan Ad-Duha Berhadiah Miras, MUI: Merendahkan Kesucian Al Quran
Apabila terbukti merupakan bagian dari aktivitas resmi atau kelalaian dalam pengawasan mitra, PUI meminta agar dilakukan evaluasi dan sanksi tegas.
“Kreativitas membutuhkan keberanian, tetapi komunikasi yang bertanggung jawab membutuhkan kepekaan. Jangan sampai karena ceroboh, sesuatu yang sakral justru berubah menjadi bahan olok-olok,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang