Editor
KOMPAS.com - Muhammadiyah menilai perbedaan praktik ibadah di tengah umat Islam tidak selalu menunjukkan pertentangan dalam ajaran.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mukhlis Rahmanto menjelaskan, sebagian perbedaan tersebut muncul karena Nabi Muhammad SAW mengajarkan lebih dari satu bentuk praktik ibadah.
Baca juga: Muhammadiyah Ikut Mazhab Apa? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Terkait Mazhab Fikih yang Dianut
Dilansir dari laman Muhammadiyah, dalam pengajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Senin (10/08/2026) lalu, ia mencontohkan sejumlah variasi dalam salat yang sama-sama memiliki landasan hadis Nabi Muhammad SAW.
Mukhlis menjelaskan, salah satu contoh keragaman praktik ibadah terdapat pada bacaan doa setelah takbiratul ihram.
Baca juga: Diundang Tahlilan, Bagaimana Cara yang Baik Menyikapinya? Ini Anjuran Majelis Tarjih Muhammadiyah
Menurut dia, Nabi Muhammad SAW mengajarkan beberapa doa, di antaranya Allāhumma bā‘id bainī, Allāhu akbar kabīrā, dan wajjahtu wajhiya lilladzī faṭaras-samāwāti wal-arḍ.
“Ternyata tiga-tiganya itu diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam sehingga kita bisa memilih salah satu,” jelasnya.
Keragaman semacam ini, lanjut Mukhlis, dikenal dengan istilah tanawwu‘, yakni variasi dalam praktik ibadah yang seluruhnya memiliki dasar dari Nabi. Karena itu, umat Islam tidak semestinya saling menyalahkan hanya karena menggunakan bacaan yang berbeda.
“Tidak boleh yang membaca Allahumma ba‘id itu menyalahkan yang membaca Allahu Akbar kabīrā. Yang baca Allahu Akbar kabīrā enggak boleh menyalahkan yang membaca wajjahtu. Karena semuanya tadi hadisnya sampai kepada Nabi,” katanya.
Variasi juga terdapat pada bacaan basmalah dalam salat jahr. Mukhlis menjelaskan, ada imam yang membaca bismillāhir-raḥmānir-raḥīm dengan suara terdengar dan ada pula yang membacanya secara lirih sehingga tidak terdengar oleh makmum.
Kedua cara tersebut, menurut Mukhlis, memiliki riwayat dari Nabi Muhammad SAW.
“Ternyata dua-duanya ini ada hadisnya dan pernah diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,” ujarnya.
Karena itu, ia mengkritik kebiasaan mengaitkan perbedaan praktik ibadah secara sederhana dengan identitas organisasi atau kelompok tertentu.
Salah satunya anggapan bahwa bacaan basmalah yang tidak terdengar identik dengan Muhammadiyah, sedangkan bacaan yang terdengar identik dengan NU.
“Padahal sebelum ada Muhammadiyah NU sudah ada itu hadisnya, sama-sama diajarkan oleh Nabi,” tegasnya.
Mukhlis juga menjelaskan adanya keragaman dalam bacaan salam setelah salat. Terdapat riwayat yang menggunakan assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh dan ada pula yang menggunakan assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Keduanya memiliki dasar dalam ajaran Nabi sehingga perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyalahkan.
Persoalan lain yang disinggung Mukhlis adalah isbal, yakni posisi pakaian atau celana yang melewati mata kaki.
Menurut dia, terdapat sejumlah hadis yang membahas persoalan tersebut dengan variasi penjelasan, termasuk hadis yang mengaitkannya dengan kesombongan.
Karena termasuk persoalan cabang, Mukhlis menilai umat Islam perlu memberikan ruang terhadap perbedaan pendapat dalam masalah tersebut.
Keragaman praktik juga terlihat dalam cara umat Islam meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Mukhlis menjelaskan, ahli hadis memasukkan sifat fisik dan kebiasaan Nabi sebagai bagian dari hadis.
Karena itu, orang yang mengenakan sorban, jubah, atau menggunakan siwak sebagai bentuk ittiba‘ kepada Nabi tidak semestinya disalahkan.
Sebaliknya, orang yang memilih pakaian berdasarkan budaya setempat juga tidak dapat langsung dianggap meninggalkan sunah.
Menurut perspektif fuqaha, hal utama dalam berpakaian adalah terpenuhinya ketentuan syariat, terutama kewajiban menutup aurat.
“Yang penting apa? Aurat saya tertutup,” ujarnya ketika menjelaskan contoh pakaian salat.
Mukhlis menegaskan, keragaman praktik ibadah seharusnya mendorong umat Islam untuk saling menghormati.
Persoalan muncul ketika seseorang menganggap praktik yang dijalankannya sebagai satu-satunya bentuk yang benar dan menilai praktik lain sebagai kesalahan.
“Tidak perlu merasa ini saya yang paling benar,” katanya.
Menurut Mukhlis, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW juga perlu dibangun berdasarkan ilmu.
Umat Islam memang diperintahkan menjadikan Nabi sebagai uswatun hasanah, tetapi upaya meneladani beliau perlu didahului dengan mempelajari hadis dan memahami keragaman ajaran yang disampaikan.
“Cinta yang berdasarkan ilmu,” tegas Mukhlis.
Ia menilai ilmu dapat mengurangi ketidaktahuan yang kerap menjadi sumber prasangka buruk terhadap orang lain.
Dengan memahami dasar setiap praktik ibadah, umat Islam diharapkan mampu menyikapi perbedaan dengan lebih bijak dan saling menghormati.
Perbedaan praktik ibadah yang memiliki landasan dari Nabi Muhammad SAW tidak semestinya menjadi alasan untuk mempertentangkan sesama Muslim.
Pemahaman terhadap hadis dan keragaman ajaran menjadi dasar penting agar perbedaan dalam persoalan cabang tidak berkembang menjadi saling menyalahkan.
Sikap menghormati perbedaan juga dapat tumbuh ketika kecintaan kepada Nabi dibangun melalui ilmu, bukan sekadar prasangka terhadap praktik yang berbeda.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT