Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hindari Pertikaian, Kiai Sepuh Minta Muktamirin Jaga Marwah NU

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 12:39 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) menyampaikan tujuh pesan menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.

Pesan tersebut antara lain meminta peserta muktamar atau muktamirin menjaga marwah NU, memilih pemimpin terbaik, memastikan proses Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bebas dari transaksi dan tekanan, serta menjaga kemandirian organisasi dari intervensi pihak luar.

Tujuh pesan itu disampaikan dalam forum tausiah kiai sepuh yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026), sehari menjelang pembukaan Muktamar Ke-35 NU.

Baca juga: Kiai Sepuh Ingatkan Muktamar NU Bebas Intervensi, Minta Prabowo Tindak Pejabat yang Tak Patut

Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut dihadiri sejumlah ulama, antara lain Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH 'Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu'adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Muhibbul Aman Aly, dan KH Nurul Yaqin Ishaq.

Ma'ruf Amin: Jangan Terintimidasi dan Terprovokasi

Ma'ruf Amin mengatakan, tausiah para kiai sepuh ditujukan kepada seluruh muktamirin yang memiliki hak dalam menentukan kepemimpinan NU.

Menurut dia, peserta muktamar memiliki tanggung jawab besar sehingga hak tersebut harus digunakan secara bijak.

"Tausiah ini artinya untuk mengingatkan, pertama, kepada para muktamirin sebagai pemegang hak utama supaya dia menggunakan haknya dengan baik, jangan terintimidasi, jangan terkena provokasi, memilih yang terbaik, baik AHWA maupun juga pengurus NU yang akan datang," kata Ma'ruf.

Baca juga: Maruf Amin: Politik Uang Tak Pantas di Muktamar NU

Ia menegaskan, pemilihan pemimpin harus mempertimbangkan kemaslahatan jam'iyyah, bukan kepentingan pribadi maupun kelompok.

Ma'ruf juga mengingatkan adanya tanggung jawab moral dalam menentukan pilihan. Menurut dia, muktamirin harus memilih sosok yang dinilai terbaik untuk membawa NU ke depan.

Adapun tujuh poin tausiah kiai sepuh yang dibacakan KH Muhibbul Aman Aly adalah sebagai berikut.

1. Jaga Marwah dan Kehormatan NU

Pada poin pertama, para kiai mengingatkan bahwa NU merupakan jam'iyyah diniyyah ijtima'iyyah yang menjunjung tinggi adab dan akhlakul karimah serta berpegang teguh pada khittah nahdliyyah.

Karena itu, seluruh pihak diminta menjaga keluhuran misi, marwah, dan kehormatan jam'iyyah.

"Jagalah keluhuran misi, marwah, dan kehormatan jam'iyyah. Jauhkan muktamar dari segala tindakan yang tidak terpuji dan bertentangan dengan akhlakul karimah," demikian poin pertama tausiah tersebut.

2. Pilih Pemimpin Terbaik dan Hindari Pertikaian

Para kiai sepuh selanjutnya menegaskan bahwa muktamar merupakan forum permusyawaratan para kiai, ulama, dan pemegang amanah jam'iyyah.

Karena itu, proses musyawarah diminta dilakukan menggunakan akal sehat, hati yang jernih, serta akhlak yang mulia.

"Bermusyawarahlah dengan akal sehat, hati yang jernih, dan akhlak yang mulia. Pilihlah pemimpin yang terbaik, jangan memilih pemimpin yang tidak baik," demikian isi tausiah.
Muktamirin juga diminta mengutamakan kemaslahatan jam'iyyah, memperkuat persatuan, serta menghindari pertikaian.

3. AHWA Harus Bebas Transaksi dan Tekanan

Poin ketiga secara khusus menyoroti proses penentuan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Para kiai menyebut AHWA sebagai maqam keulamaan sehingga kehormatan dan martabatnya harus dijaga.

Karena itu, mereka menyerukan agar proses penentuan AHWA bebas dari transaksi, tekanan, maupun rekayasa.

"Jangan nodai proses penentuan AHWA dengan transaksi, tekanan, rekayasa atau cara-cara yang tidak terpuji, yang mencederai kemuliaan para ulama," demikian isi tausiah.

4. Jangan Ada Pengondisian terhadap Muktamirin

Para kiai sepuh juga menegaskan bahwa muktamirin merupakan pemegang kedaulatan dalam muktamar.

Hak dan kemerdekaan setiap peserta dalam menyampaikan pendapat serta menentukan pilihan harus dihormati.

Karena itu, para kiai meminta tidak ada pengondisian, tekanan, manipulasi, ataupun rekayasa yang dapat mengurangi kebebasan muktamirin.

"Jangan ada pengondisian, tekanan, manipulasi ataupun rekayasa yang mengurangi kebebasan muktamirin dalam menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan," demikian poin keempat tausiah.

5. Pemerintah dan Kekuatan Politik Diminta Hormati Kemandirian NU

Poin kelima ditujukan kepada pemerintah, kekuatan politik, serta pihak-pihak lain di luar NU.
Para kiai menyerukan agar mereka menghormati kemandirian NU dan kedaulatan muktamar.

"Kami menyerukan agar menghormati kemandirian Nahdlatul Ulama dan kedaulatan muktamar," demikian bunyi tausiah.

Mereka juga meminta semua pihak menghindari tindakan yang dapat dipersepsikan sebagai tekanan, pengondisian, maupun intervensi terhadap proses dan keputusan muktamar.

6. Minta Prabowo Tindak Pejabat jika Intervensi Muktamar

Para kiai sepuh selanjutnya menyampaikan kepercayaan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan pemerintah tetap menghormati kemandirian NU.

Apabila terdapat menteri atau pejabat lain yang melakukan tindakan tidak patut dan dapat dinilai sebagai intervensi terhadap proses muktamar, mereka berharap Presiden mengambil tindakan tegas.

"Apabila terdapat pejabat menteri atau lainnya yang melakukan tindakan tidak patut yang dapat dinilai sebagai intervensi terhadap proses muktamar, kami berharap kepada Bapak Presiden untuk mengambil tindakan yang tegas," demikian isi tausiah.

Para kiai juga menyatakan siap menemui Prabowo untuk menyampaikan secara langsung informasi dan hal-hal yang menjadi keprihatinan mereka.

"Kami siap menghadap Bapak Presiden untuk menyampaikan secara langsung informasi dan hal-hal yang menjadi keprihatinan kami demi menjaga kehormatan pemerintah, kemandirian Nahdlatul Ulama dan kedaulatan NU," lanjut mereka.

7. Minta Pihak yang Mengacaukan Muktamar Berhenti

Pada poin terakhir, para kiai menyerukan kepada pihak-pihak yang dinilai mengacaukan proses muktamar untuk menghentikan tindakannya.

"Kami menyerukan kepada pihak-pihak yang mengacaukan proses muktamar untuk segera menghentikan tindakannya karena orang yang baik adalah orang yang menyadari kesalahannya dan tidak melanjutkan tindakan yang tidak terpuji itu," demikian isi tausiah.

Para kiai kemudian menutup tausiah dengan doa agar Allah SWT menjaga, melindungi, dan membimbing NU.

Muktamar Ke-35 NU digelar pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Forum tertinggi NU tersebut antara lain akan menentukan kepemimpinan PBNU serta membahas berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar