KOMPAS.com - Keterpurukan tidak semestinya membuat seseorang berhenti berusaha.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ruslan Fariadi menyebut ada empat pesan dalam QS Ali Imran ayat 200 yang dapat menjadi pedoman untuk menghadapi kondisi tersebut.
Pesan itu disampaikan Ruslan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Jumat (28/8/2026).
Ia menguraikan empat pesan tersebut melalui kata isbiru, shabiru, rabithu, dan ittaqullah.
Baca juga: 3 Pesan Al-Quran dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan
Menurut Ruslan, QS Ali Imran ayat 200 berkaitan dengan upaya membangun kembali kondisi terpuruk.
Meski ayat tersebut tidak secara khusus turun berkaitan dengan Perang Uhud, kandungannya memiliki keterkaitan dengan kondisi psikologis umat Islam setelah menghadapi berbagai tantangan.
“Di saat para sahabat itu terjatuh mental dan psikologisnya secara sangat terpuruk, seakan-akan susah dan sulit bangkit kembali,” ujar Ruslan.
Ruslan menjelaskan, pesan pertama dalam QS Ali Imran ayat 200 adalah isbiru yang berarti bersabar.
Menurut dia, sabar tidak berarti hanya menerima keadaan tanpa melakukan sesuatu. Kesabaran juga mencakup keuletan, ketegaran, kemampuan menghadapi persoalan, serta ikhtiar untuk mencari jalan keluar.
“Itulah makna sabar yang otentik yang diajarkan oleh Allah,” katanya.
Ruslan menilai kesabaran juga berkaitan dengan aspek spiritual dan ikhtiar. Karena itu, seseorang tidak seharusnya menjadikan sabar sebagai alasan untuk berhenti berbuat.
“Sabar tidak bermakna hanya duniawi, materialistik, tetapi kesabaran itu dikaitkan dengan makna-makna spiritual,” ujarnya.
Ia juga mengutip Syekh as-Sya‘rani yang menyebut kesabaran sebagai “imunisasi spiritual seorang muslim”.
Baca juga: 6 Nilai Al-Quran yang Bisa Jadi Pedoman Menggunakan AI
Pesan kedua adalah shabiru. Ruslan menjelaskan, penambahan huruf dalam kata tersebut menunjukkan adanya dimensi interaksi.
Dengan demikian, seseorang yang menghadapi persoalan tidak hanya dituntut untuk bersabar, tetapi juga aktif mencari jalan keluar dan melibatkan orang lain ketika diperlukan.
“Maka orang dikatakan sabar bukan diam, tapi dia interaktif mencari solusi,” tegasnya.
Menurut Ruslan, kesabaran juga membutuhkan pengulangan. Seseorang tidak cukup bersabar satu kali ketika menghadapi persoalan, tetapi perlu mempertahankannya dalam berbagai keadaan, termasuk ketika menjalankan ketaatan kepada Allah.
Ia mengutip perkataan Umar bin Khattab yang membagi kesabaran menjadi dua.
Kesabaran ketika menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan merupakan kebaikan, sedangkan kesabaran dalam menjalankan ketaatan merupakan bentuk kesabaran yang lebih baik dan ideal.
“Orang ingin sukses butuh kesabaran. Orang ingin salatnya itu khusyuk, tumakninah, dan ideal, butuh juga kesabaran. Sabar tidak ada batasnya,” ujar Ruslan.
Pesan ketiga adalah warabithu. Ruslan memaknai istilah tersebut sebagai kegigihan, komitmen, dan tekad yang kuat.
Menurutnya, orang yang ingin bangkit dari keterpurukan membutuhkan komitmen untuk terus melakukan ikhtiar. Kegigihan diperlukan agar seseorang tidak mudah berhenti ketika hasil yang diharapkan belum tercapai.
“Warobitu komitmen. Tekad kuat dan bulat,” katanya.
Ruslan juga menekankan pentingnya motivasi internal dalam mempertahankan ikhtiar.
Menurut dia, motivasi yang berasal dari dalam diri relatif lebih bertahan dibandingkan motivasi yang hanya berasal dari faktor eksternal.
Pesan terakhir adalah ittaqullah atau bertakwa kepada Allah. Ruslan menempatkan ketakwaan sebagai bingkai bagi komitmen dan ikhtiar seseorang dalam mencapai keberhasilan.
Menurut dia, keinginan untuk mencapai kesuksesan tidak boleh membuat seseorang menghalalkan segala cara. Tujuan yang baik tetap harus ditempuh dengan cara yang benar.
“Komitmen itu, tekad yang bulat itu, ikhtiar yang kokoh dan kuat itu harus dalam bingkai takwa,” ujarnya.
Ruslan menegaskan, takwa perlu menjadi dasar dalam seluruh aktivitas kehidupan, termasuk ketika seseorang berusaha keluar dari keterpurukan.
“Takwa adalah bingkai dari seluruh aktivitas hidup kita. Takwa harus dijadikan bingkai dalam ikhtiar untuk meraih kesuksesan,” tegasnya.
Menurut Ruslan, empat pesan dalam QS Ali Imran ayat 200 tersebut menggambarkan rangkaian sikap yang diperlukan untuk bangkit dari keterpurukan, yakni kesabaran, interaksi aktif dalam mencari solusi, kegigihan, dan ketakwaan.
Keempatnya menjadi jalan yang ia kaitkan dengan pencapaian falah, yakni keberhasilan dan kebahagiaan yang sejati.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT