Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik pertunjukan bernuansa horor dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis menilai, atraksi yang menampilkan simbol-simbol menyeramkan dan penyembelihan hewan di hadapan penonton bertentangan dengan semangat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Cholil dalam rilisnya, Senin (14/9/2026).
Baca juga: Apakah Sound Horeg Haram? Ini Fatwa MUI, Dalil, dan Batas Penggunaannya
SKNC 2026 digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal ke-61 di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Kamis (10/9/2026).
Acara tersebut menjadi sorotan setelah video salah satu pertunjukannya beredar di media sosial.
Dalam video itu, sejumlah peserta terlihat mengenakan kostum menyeramkan serta membawa obor dan benda dengan simbol-simbol yang oleh sebagian pihak dinilai menyerupai atribut ritual satanik.
Pertunjukan tersebut juga menampilkan penyembelihan seekor kambing. Adegan itu kemudian menuai kritik dan memicu keresahan masyarakat.
Baca juga: MUI Tegaskan Buku Islam Ala Prabowo Bukan Produk Resmi MUI
Cholil mengatakan, kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW seharusnya diwujudkan melalui kegiatan yang mendidik, membawa kedamaian, dan mencerminkan akhlak mulia Nabi.
Peringatan Maulid Nabi, menurut dia, semestinya diisi dengan syiar yang memperkuat keimanan, bukan pertunjukan yang memunculkan ketakutan atau mengarah pada praktik animisme.
Bergembira memperingati kelahiran Nabi dapat dilakukan dengan mengikuti sunah Rasulullah SAW, membaca shalawat, dan membaca Al-Quran.
“Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh. Tetapi, ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi,” ujar Cholil.
Menurut dia, visualisasi horor dalam karnaval tersebut mengaburkan makna spiritual peringatan Maulid Nabi.
Momen yang seharusnya menjadi sarana meneladani Rasulullah SAW justru diisi dengan pertunjukan yang dinilainya jauh dari nilai-nilai keislaman.
Cholil juga menyoroti penyembelihan kambing yang dijadikan bagian dari pertunjukan.
Ia menilai, penyembelihan hewan harus dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai ketentuan syariat, bukan dijadikan tontonan horor.
Dalam menampilkan seni Islam dan semangat kebersamaan, Cholil mengingatkan penyelenggara agar tidak menyajikan pertunjukan yang menyimpang dari nilai-nilai Maulid Nabi.
“Itu bukan ajaran Rasulullah,” katanya.
Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah tersebut mengimbau panitia dan masyarakat mengembalikan tradisi peringatan Maulid Nabi kepada kegiatan yang menyejukkan serta mempererat silaturahmi.
Merujuk pada penjelasan Imam As-Suyuthi, peringatan Maulid Nabi dapat diisi dengan pembacaan Al-Qur’an dan shalawat, penyampaian mauizah hasanah atau nasihat yang baik, kisah keteladanan Nabi, serta pembagian makanan sebagai bentuk syukur dan sedekah.
Cholil berharap panitia penyelenggara kegiatan di berbagai daerah lebih selektif dan bijaksana dalam merancang ekspresi seni budaya Islami.
Peringatan Maulid Nabi, kata dia, harus dijaga agar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat persaudaraan umat.
“Jangan menyimpang,” tegas Cholil.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.