Editor
KOMPAS.com - Perilaku zalim merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam karena dapat merugikan orang lain sekaligus menjerumuskan pelakunya ke dalam keburukan.
Islam mengajarkan umatnya untuk menjauhi kezaliman, baik dalam hubungan dengan Allah SWT, diri sendiri, maupun sesama manusia.
Baca juga: 5 Akibat Perbuatan Zalim dalam Islam, Ada Azab hingga Datangnya Bencana
Shihab Wicaksono Ardhi, M.Ag., Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Banyumas, menjelaskan jenis-jenis kezaliman dan larangan berbuat zalim yang ditegaskan dalam hadis.
Secara umum, perilaku zalim terbagi menjadi tiga macam, yakni zalim kepada Allah SWT, zalim kepada diri sendiri, dan zalim kepada orang lain. Ketiganya wajib dijauhi karena dapat membawa seseorang pada kesesatan, kehinaan, dan kerugian.
Baca juga: Doa Agar Terhindar dari Tipu Daya Orang-orang Zalim
Zalim kepada Allah SWT merupakan bentuk kesesatan akibat menyimpang dari perintah-Nya, baik dalam perkara akidah maupun ibadah. Allah SWT berfirman:
وَٱلْكَٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ “Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254).
Kezaliman kepada Allah SWT mencakup tiga perbuatan besar, yaitu:
Syirik, yakni menyekutukan Allah. Perbuatan ini merupakan dosa terbesar yang tidak diampuni tanpa tobat, sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nisa’: 48.
Kufur, yaitu mengingkari syariat dan menganggap perintah Allah sia-sia.
Nifaq, yakni menampilkan kebaikan di luar, tetapi menyimpan pengingkaran dalam hati demi kepentingan duniawi, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 8.
Zalim kepada diri sendiri terjadi ketika seseorang melakukan tindakan yang menjerumuskannya ke dalam kehinaan. Salah satu contohnya adalah memelihara kebodohan karena malas menuntut ilmu.
Padahal, ilmu yang bermanfaat menjadi wasilah untuk mengangkat derajat seorang hamba di hadapan Allah SWT. Hal tersebut sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11.
Zalim kepada orang lain mencakup tindakan yang mengganggu kenyamanan, merampas hak, atau menyakiti fisik maupun perasaan sesama manusia. Islam tidak hanya melarang perbuatan tersebut, tetapi juga mengajarkan umatnya untuk menolong orang yang dizalimi dan orang yang berbuat zalim.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.” Kemudian ada seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, aku bisa menolongnya jika ia terzalimi, namun bagaimana cara kami menolong orang yang menzalimi?” Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.” (HR. Bukhari no. 6952 & Muslim no. 2584).
Menolong orang yang berbuat zalim dapat dilakukan dengan menasihatinya, mencegah tindakan yang merusak, serta mendoakannya agar kembali ke jalan yang benar.
Rasulullah SAW menyampaikan hadis qudsi dari Allah SWT mengenai larangan melakukan kezaliman sebagai berikut:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ الغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ: يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا
Artinya: “Dari Abu Dzar Al-Ghifari RA, dari Nabi SAW, beliau meriwayatkan dari Allah ‘Azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman: ‘Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.'” (HR. Muslim, no. 6737).
Hadis tersebut mengandung hikmah bahwa kezaliman tidak mendatangkan manfaat. Allah SWT mengharamkan kezaliman atas diri-Nya, sejalan dengan sifat-Nya, yaitu al-’Adl atau Maha Adil.
Kebaikan dapat diibaratkan sebagai cahaya yang menerangi jalan, sedangkan keburukan seperti kegelapan ketika petunjuk Allah hilang.
Orang yang bersungguh-sungguh mencari hidayah akan ditunjukkan jalan kebaikan, sementara mereka yang mengabaikannya berisiko terjerumus dalam keburukan.
Kezaliman merupakan perbuatan yang harus dijauhi karena dapat membawa kehancuran bagi pelakunya.
Ketika seseorang terus-menerus melakukan kezaliman, amal kebaikannya dapat terancam dan ia berisiko mendapatkan kehinaan di dunia maupun akhirat.
Karena itu, setiap Muslim perlu menjaga hubungan dengan Allah SWT, memperbaiki diri, dan menghormati hak orang lain.
Menjauhi kezaliman sekaligus mencegahnya merupakan bagian dari upaya menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bish-shawab.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.